Categories: Akal Sehat

Generasi yang Gagal Membaca Teks Panjang, Tanggung Jawab Kita Bersama

Oleh: Albard Khan, Pemerhati Pendidikan, Alumnus Master of Educational Research, Evaluation and Assessment dari Flinders University, South Australia

DI tengah derasnya arus informasi serba pendek, ada krisis sunyi yang kian menggerogoti fondasi pendidikan, yakni anak dan remaja makin kehilangan kemampuan membaca teks panjang secara berkelanjutan.

Gejalanya nyata di kelas-kelas kita. Siswa cepat lelah ketika berhadapan dengan bab-bab buku, lebih nyaman membaca ringkasan, dan sulit mempertahankan fokus saat membaca beberapa halaman.

Ini bukan sekadar perubahan gaya hidup akibat gawai, melainkan pergeseran mendasar cara generasi muda berinteraksi dengan bahasa, pengetahuan, dan dunia berpikir yang membutuhkan kedalaman.

Data internasional memberi sinyal yang kuat. Di beberapa negara berbahasa Inggris, proporsi remaja yang membaca untuk kesenangan setiap hari anjlok dalam satu dekade terakhir, selaras dengan menurunnya capaian literasi (Iyengar, 2024).

Di Inggris, survei menunjukkan tingkat kesenangan membaca anak dan remaja berada pada titik terendah dalam 20 tahun terakhir (Creamer, 2025).

Eropa menampilkan pola campuran, di mana sebagian anak muda masih membaca buku setidaknya satu judul per tahun, namun hampir separuh orang dewasa sama sekali tidak menyentuh buku (Dell’Anna, 2024; Eurostat, 2022).

Indonesia berada dalam posisi yang lebih rawan, sebab proporsi siswa yang mencapai ambang literasi dasar masih rendah, sebagaimana ditunjukkan oleh hasil PISA 2018 yang menempatkan Indonesia di peringkat ke-74 dari 79 negara dalam kategori membaca (OECD, 2019).

Ini berarti ada tantangan struktural yang tidak bisa diatasi dengan seremoni literasi sesaat. Kita sedang berhadapan dengan kemerosotan ketahanan membaca atau reading stamina yang meluas, diperparah pola konsumsi informasi serba terpotong seperti video pendek, notifikasi tanpa henti, dan kebiasaan skimming layar (Wolf, 2018).

Olahraga Kognitif

Mengapa hal ini genting? Sebab membaca panjang adalah “olah raga kognitif” yang tak tergantikan. Aktivitas ini melatih otak menelusuri kalimat yang kompleks, merunut benang merah argumen, serta mengaitkan informasi baru dengan pengetahuan lama.

Tanpa latihan ini, kosakata akan menyusut, nalar analitis tumpul, dan perhatian mudah teralihkan. Dampaknya akan menjalar ke keterampilan akademik, misalnya kemampuan menulis esai, menyelesaikan soal yang menuntut pemikiran bertahap, atau mengikuti kuliah dengan fokus. Semua itu bertumpu pada daya tahan kognitif yang hanya dapat dibentuk melalui kebiasaan membaca secara mendalam.

Para ilmuwan telah lama memperingatkan bahaya ini. Maryanne Wolf (2018) menjelaskan bahwa deep reading, yakni membaca secara lambat, reflektif, dan empatik, membangun sirkuit saraf yang menopang analisis kritis serta pemahaman mendalam. Pola konsumsi digital yang cepat dan terpecah-pecah, kata Wolf, berisiko “merongrong” sirkuit ini.

Otak manusia memang plastis. Ia akan beradaptasi dengan kebiasaan baru, termasuk kebiasaan menyingkat dan melewati kompleksitas. Keith Stanovich dan Anne Cunningham (1998) lewat teori Matthew Effects menggambarkan bagaimana perbedaan kecil dalam kebiasaan membaca di usia dini akan menumpuk menjadi kesenjangan besar.

Pembaca yang tekun akan memperkaya kosakata dan pengetahuan konseptual sehingga semakin siap menghadapi teks sulit. Sedangkan yang bukan pembaca akan semakin tertinggal hingga enggan menyentuh bacaan panjang sama sekali.

Bukti neurologis memperkuat hal tersebut. Barbara Sahakian dan rekan-rekannya (2023) menemukan bahwa anak-anak yang sejak dini membaca untuk kesenangan menunjukkan performa kognitif lebih baik, penalaran verbal lebih kuat, dan indikator kesehatan mental yang lebih positif saat remaja.

Penelitian Kidd dan Castano (2013) pun menunjukkan bahwa membaca fiksi sastra dapat meningkatkan empati, yakni kemampuan memahami batin orang lain, sebuah kemampuan yang sangat dibutuhkan di tengah polarisasi publik saat ini.

Membaca Fondasi Intelektual Bangsa

Dampak sosial dari melemahnya kebiasaan membaca panjang tak kalah serius. Ketika kebiasaan intelektual bergeser ke ringkasan dan potongan, ruang publik mudah dipenuhi opini instan, simplifikasi berlebihan, serta miskonsepsi.

Kemampuan menilai argumentasi, menguji koherensi bukti, dan menyerap nuansa gagasan sangat bergantung pada kebiasaan membaca teks yang menuntut perhatian berlapis.

Tanpa itu, ekosistem pengetahuan kita akan rapuh, debat publik menjadi bising tetapi dangkal, kebijakan cenderung reaktif, dan warga belajar kehilangan alat untuk membedakan yang substansial dari yang kosmetik.

Kabar baiknya, sejumlah negara telah menunjukkan jalan keluar. Prancis, misalnya, membatasi penggunaan ponsel di sekolah menengah agar siswa mendapatkan “jeda digital” dan dapat fokus belajar.

Finlandia menggelar Read Hour sebagai perayaan literasi nasional, mengubah membaca dari aktivitas individual menjadi kebanggaan sosial.

Di Inggris, beberapa kampus merancang modul reading resilience yang mengajarkan strategi konkret menghadapi teks berat, mulai dari membaca ulang hingga anotasi reflektif dan diskusi terstruktur.

Upaya ini bukan sekadar kebijakan ala kadarnya, melainkan rekayasa ulang lingkungan belajar agar (maha)siswa kembali betah “tinggal” di dalam teks.

Pelajarannya bagi Indonesia jelas. Pertama, kemampuan membaca mendalam perlu diperlakukan sebagai prioritas nasional yang setara dengan numerasi dan sains.

Ini berarti capaian literasi harus diukur bukan hanya dari jumlah buku, melainkan dari lamanya waktu membaca berkelanjutan, keluasan kosakata, dan kemampuan berpikir argumentatif.

Kedua, ruang belajar perlu didesain ulang untuk mendukung fokus, misalnya zona bebas gawai saat membaca, sesi membaca terpandu, dan penugasan yang menuntut bukti pemahaman lintas bab.

Ketiga, guru harus diperlengkapi dengan pedagogi membaca mendalam, yakni cara merancang pertanyaan terbuka, memodelkan strategi anotasi, dan memfasilitasi diskusi yang menuntun siswa dari pemahaman literal ke inferensial lalu evaluatif.

Keempat, ekosistem bahan bacaan perlu diperkuat, baik melalui perpustakaan sekolah yang hidup, klub buku reguler, maupun tantangan membaca yang relevan dengan minat siswa.

Keluarga dan komunitas juga berperan penting. Membaca teks panjang harus kembali menjadi kebiasaan sosial. Waktu membaca bersama di rumah, acara komunitas yang merayakan buku, dan figur publik yang memberi teladan dapat menumbuhkan budaya literasi yang hidup.

Kita membutuhkan narasi baru bahwa membaca bukan sekadar tugas sekolah, melainkan fondasi intelektual bangsa yang menentukan daya saing dan kualitas demokrasi.

Ini adalah seruan tanda bahaya bagi kepala sekolah, guru, dosen, dan pembuat kebijakan untuk berhenti menjalankan rutinitas seolah tidak ada krisis.

Saatnya langkah konkret diambil, bukan sekadar jargon. Mulailah dengan tindakan sederhana namun konsisten, seperti mengurangi distraksi saat membaca, mewajibkan tugas berbasis teks panjang, melatih strategi deep reading, dan memantau capaian secara berkala.

Jika kita gagal bertindak sekarang, kita akan melahirkan generasi yang lincah menggeser layar tetapi rapuh menghadapi argumentasi panjang.

Sebaliknya, bila kita berani berbenah, kita bukan hanya menyelamatkan kebiasaan membaca, tetapi juga menyelamatkan kemampuan bangsa untuk berpikir jernih di tengah silang sengkarut informasi. (*)

Jay Wijayanto

Recent Posts

Atasi Banjir di Surabaya Selatan, Pemkot Fokus Penyambungan Saluran dan Penyamaan Ketinggian Air

Penanganan banjir di wilayah Surabaya Selatan dilakukan dengan pendekatan yang menyeluruh. Pemerintah kota menitikberatkan pada…

5 hours ago

Anas Karno Resmi Jabat Sekretaris Komisi A Bidang Pemerintahan DPRD Kota Surabaya

Anas Karno ditetapkan sebagai Sekretaris Komisi A DPRD Kota Surabaya dalam rapat paripurna yang digelar…

5 hours ago

Gantikan Adi Sutarwijono, Syaifuddin Zuhri Dilantik sebagai Ketua DPRD Surabaya, Fokus Optimalisasi Pendapatan Daerah

Syaifuddin Zuhri resmi dilantik dan mengucap sumpah jabatan sebagai Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD)…

5 hours ago

Kelihaian Perempuan Mengubah Diam Menjadi Emas

KALIMAT yang diucapkan belum sepenuhnya tuntas. Tapi, air matanya sudah tumpah membasahi pipi. Ia tak…

7 hours ago

Pakar: Pengelolaan Budaya Surabaya Dinilai Masih Fase Transisi

Penyediaan ruang publik serta transformasi lembaga kesenian menjadi lembaga kebudayaan dinilai sebagai langkah positif menuju…

1 day ago

KAI Uji Coba Biodiesel B50 di KA Sembrani, Performa Tetap Optimal di Jalur Surabaya – Jakarta

PT KAI melakukan terobosan baru dengan menggelar uji coba perdana penggunaan bahan bakar Biodiesel B50…

1 day ago

This website uses cookies.