Dosen ITS Ciptakan Instrumen untuk Optimalkan Identitas Visual Perguruan Tinggi

METROTODAY, SURABAYA – Identitas visual tak sekadar estetika. Hal ini disadari oleh Putri Dwitasari lulusan Doktor Manajemen Teknologi SIMT ITS, yang mengembangkan instrumen penilaian tingkat kematangan pengelolaan identitas visual strategis bagi perguruan tinggi.

Penelitiannya yang memakan waktu tiga tahun ini menghasilkan sebuah kerangka kerja yang dapat diterapkan oleh berbagai institusi, baik negeri maupun swasta.

“Selama ini, identitas visual seringkali hanya dilihat sebagai soal desain semata,” ungkap Dr. Putri, yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala Subunit Citra dan Promosi di UKP ITS, Senin (7/7).

Padahal, konsistensi dan pengelolaan strategis sangat penting untuk membangun dan mempertahankan reputasi perguruan tinggi.

Berangkat dari pengalamannya melihat inkonsistensi implementasi identitas visual di berbagai perguruan tinggi.

Ia merancang instrumen penilaian berdasarkan model Expressiveness Quotient (EQ), yang meliputi lima dimensi: visibility, distinctiveness, transparency, authenticity, dan consistency.

Kelima dimensi ini diintegrasikan dengan model penilaian kematangan (maturity assessment model).

“Instrumen ini bukan hanya sekedar checklist. Dengan dirancang untuk memberikan evaluasi komprehensif tentang bagaimana sebuah perguruan tinggi mengelola identitas visualnya secara strategis,” jelasnya.

Untuk memvalidasi instrumennya, Dr. Putri melakukan observasi dan wawancara mendalam di lima PTN-BH terbaik di Indonesia: UI, UGM, ITB, Unair, dan ITS.

“Kelima kampus ini dipilih karena reputasi dan peringkatnya yang tinggi di kancah internasional,” ungkapnya.

Proses penelitiannya meliputi empat tahapan: visual audit, wawancara mendalam, penyusunan instrumen, dan aplikasi instrumen.

Hasilnya adalah sebuah kerangka kerja pengelolaan identitas visual strategis yang dapat digunakan untuk meningkatkan pengelolaan identitas visual di berbagai institusi.

“Saya berharap instrumen ini dapat menjadi alat evaluasi berkala bagi perguruan tinggi. Tujuannya adalah untuk membantu mereka membangun dan mempertahankan identitas visual yang kuat dan konsisten, sehingga mendukung reputasi dan citra positif di mata publik,” harap Putri.

Penelitian ini juga mendukung poin ke-9 Sustainable Development Goals (SDGs) tentang industri, inovasi, dan infrastruktur.

Ke depan, Putri berencana untuk menyederhanakan instrumen agar lebih praktis dan mudah diadopsi oleh lebih banyak institusi. (ahm)

METROTODAY, SURABAYA – Identitas visual tak sekadar estetika. Hal ini disadari oleh Putri Dwitasari lulusan Doktor Manajemen Teknologi SIMT ITS, yang mengembangkan instrumen penilaian tingkat kematangan pengelolaan identitas visual strategis bagi perguruan tinggi.

Penelitiannya yang memakan waktu tiga tahun ini menghasilkan sebuah kerangka kerja yang dapat diterapkan oleh berbagai institusi, baik negeri maupun swasta.

“Selama ini, identitas visual seringkali hanya dilihat sebagai soal desain semata,” ungkap Dr. Putri, yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala Subunit Citra dan Promosi di UKP ITS, Senin (7/7).

Padahal, konsistensi dan pengelolaan strategis sangat penting untuk membangun dan mempertahankan reputasi perguruan tinggi.

Berangkat dari pengalamannya melihat inkonsistensi implementasi identitas visual di berbagai perguruan tinggi.

Ia merancang instrumen penilaian berdasarkan model Expressiveness Quotient (EQ), yang meliputi lima dimensi: visibility, distinctiveness, transparency, authenticity, dan consistency.

Kelima dimensi ini diintegrasikan dengan model penilaian kematangan (maturity assessment model).

“Instrumen ini bukan hanya sekedar checklist. Dengan dirancang untuk memberikan evaluasi komprehensif tentang bagaimana sebuah perguruan tinggi mengelola identitas visualnya secara strategis,” jelasnya.

Untuk memvalidasi instrumennya, Dr. Putri melakukan observasi dan wawancara mendalam di lima PTN-BH terbaik di Indonesia: UI, UGM, ITB, Unair, dan ITS.

“Kelima kampus ini dipilih karena reputasi dan peringkatnya yang tinggi di kancah internasional,” ungkapnya.

Proses penelitiannya meliputi empat tahapan: visual audit, wawancara mendalam, penyusunan instrumen, dan aplikasi instrumen.

Hasilnya adalah sebuah kerangka kerja pengelolaan identitas visual strategis yang dapat digunakan untuk meningkatkan pengelolaan identitas visual di berbagai institusi.

“Saya berharap instrumen ini dapat menjadi alat evaluasi berkala bagi perguruan tinggi. Tujuannya adalah untuk membantu mereka membangun dan mempertahankan identitas visual yang kuat dan konsisten, sehingga mendukung reputasi dan citra positif di mata publik,” harap Putri.

Penelitian ini juga mendukung poin ke-9 Sustainable Development Goals (SDGs) tentang industri, inovasi, dan infrastruktur.

Ke depan, Putri berencana untuk menyederhanakan instrumen agar lebih praktis dan mudah diadopsi oleh lebih banyak institusi. (ahm)

Artikel Terkait

Pilihan Editor

Pilihan Editor

Terpopuler

Artikel Terbaru

Artikel Terkait