METROTODAY, SURABAYA – Tim Robotik SMA Labschool Unesa 1 Surabaya kembali mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional. Dalam ajang 16th World Robotic for Peace Students Conference & E-Sport Tournament yang berlangsung di Singapura, empat siswa berhasil meraih tiga gelar juara sekaligus.
Mereka adalah Evan Beck Nararya, Evo Excel Novando, Airel Dovano Izan Ghafara, dan Ellza Cahya Lumintang. Tim ini membawa pulang Juara 1 Kategori Terbuka 3 Kg, Juara 1 Kategori Tertutup 1 Kg, serta Juara 2 Kategori Terbuka 1 Kg.
Direktur Labschool Unesa, Prof. Dr. Sujarwanto, M.Pd., menyambut gembira capaian ini sebagai bukti dukungan penuh sekolah terhadap potensi siswa. Menurutnya kemenangan ini merupakan komitmen Labschool Unesa dalam memberikan dukungan kepada anak-anak untuk mengembangkan potensinya.
“Ini adalah komitmen kami, Labschool Unesa memberikan dukungan penuh kepada anak-anak untuk mengembangkan potensinya, terutama di bidang robotik. Semua kami fasilitasi agar mereka bisa berjuang dengan nyaman, dan alhamdulillah berhasil meraih juara,” tuturnya, Senin (13/7).
Menurutnya ini merupakan kemenangan ketiga secara beruntun sejak tahun 2024, 2025, hingga 2026. Ke depannya, siswa berprestasi ini akan mendapatkan kesempatan mengikuti kelas persiapan di Universitas Konkuk, Korea Selatan, serta tahun depan dijadwalkan berlaga kembali di putaran keempat di Riyadh, Arab Saudi. “Pembinaan pun dilakukan secara khusus dengan bimbingan mahasiswa Fakultas Teknik Unesa,” jelasnya.
Anggota tim, Evan Beck Nararya, menjelaskan ajang ini mempertemukan sekitar 200 peserta dari berbagai negara ASEAN. Mereka mengikuti kategori lomba robot sumo, di mana robot berhadapan di arena bulat dengan tujuan mengeluarkan lawan dari lintasan.
“Tantangannya sangat ketat, kami berhadapan dengan peserta Malaysia, Singapura, dan daerah lain di Indonesia. Selain mental, kami juga harus beradaptasi dengan spesifikasi serta gaya main lawan,” ungkap Evan.
Ia menceritakan proses pembuatan satu robot memakan waktu hingga enam bulan, mulai dari perakitan, pengodean, hingga pencarian suku cadang yang dinilai cukup sulit didapat di pasaran lokal. Biaya pembuatan satu unit robot bervariasi antara Rp 4 hingga Rp 7 juta.
Bagian paling sulit justru ada pada proses perakitan dan penyesuaian bilah pendorong agar lebih tajam saat bertanding.
“Spesifikasi robot kami sudah menggunakan standar terbaru 2025 dengan bilah yang baru, sehingga berbeda dengan yang lain. Aturannya mirip gulat sumo manusia: siapa yang duluan keluar arena dinyatakan kalah,” jelasnya.
Sementara itu menurut Evo Excel Novando persiapan dilakukan secara intensif dua minggu sebelum keberangkatan. Fokus utamanya memperbaiki kekurangan pada kendali jarak jauh serta mengoptimalkan desain bilah robot agar lebih kuat saat beradu.
“Sebelumnya kami juga sudah mengikuti Kejurnas di Kota Batu sebagai persiapan. Kami perbaiki hal-hal yang masih kurang agar saat di Singapura tidak ada kesalahan teknis,” jelasnya. (ahm)

