METROTODAY, VANCOUVER – Kolombia harus mengubur mimpi melangkah lebih jauh di Piala Dunia 2026. Pada babak 16 besar di BC Place, Vancouver, Selasa (7/7/2026) waktu setempat, mereka menyerah kepada Swiss melalui adu penalti.
Kedua tim bermain imbang tanpa gol selama 120 menit. Swiss tampil lebih tenang dalam babak tos-tosan dan menang 4-3 untuk mengamankan satu tempat di perempat final. Hasil tersebut sekaligus mengantarkan Rossocrociati -julukan Swiss- mencetak sejarah dengan lolos ke delapan besar Piala Dunia untuk kali pertama sejak edisi 1954.
Sejak peluit pertama ditiup, pertandingan bergulir layaknya seorang yang baru belajar mengemudi dengan penuh kehati-hatian. Kolombia sejatinya mengambil inisiatif serangan lebih dulu memanfaatkan magis kreativitas James Rodríguez di lini tengah. Peluang emas pertama lahir pada menit ke-21 melalui sepakan melengkung Gustavo Puerta dari luar kotak penalti. Namun, kiper Swiss Gregor Kobel tampil bak pahlawan dengan penyelamatan akrobatik yang fantastis. Swiss tak tinggal diam. Mereka membalas lewat tendangan voli kaki kiri Fabian Rieder yang memaksa Camilo Vargas jatuh bangun menyelamatkan gawangnya sebelum babak pertama usai.
Memasuki paruh kedua hingga babak tambahan waktu, Reuters melaporkan tensi di lapangan justru semakin mendidih meski kedua tim mulai dirayapi kelelahan. Drama mencapai puncaknya di babak extra time kala tandukan tajam bek Kolombia Jhon Lucumí membentur mistar gawang dengan keras, membuat lautan suporter kuning mereka histeris. La Tricolor -julukan Kolombia- melewatkan peluang emas paling konyol di menit-menit akhir laga saat blunder fatal kapten Swiss Granit Xhaka justru gagal dikonversi menjadi gol oleh Jaminton Campaz yang tendangannya melambung jauh di atas mistar gawang meski sudah berhadapan satu lawan satu dengan Kobel.
Ketika laga harus diselesaikan di babak tos-tosan, dewi fortuna memeluk Swiss secara hangat. Eksekusi penalti kapten Kolombia Davinson Sánchez yang membentur mistar serta kegagalan Cucho Hernández yang ditepis oleh Kobel menjadi mimpi buruk bagi wakil Amerika Selatan. Meski Manuel Akanji sempat gagal mengeksekusi penalti, ketenangan Ruben Vargas sebagai algojo terakhir berhasil memastikan kemenangan bersejarah 4-3 bagi Swiss.
Para analis dari The Guardian dan TNT Sports sepakat bahwa Swiss sukses memainkan peran sebagai “penawar racun” dari sepak bola menyerang Kolombia. Mereka memuji bagaimana lini belakang Swiss yang dikomandoi Manuel Akanji mampu meredam agresivitas Luis Díaz yang sedang on-fire musim ini sepanjang laga.
Kemenangan ini sekaligus memecahkan kutukan sejarah, meloloskan Swiss ke babak perempat final Piala Dunia untuk kali pertama sejak tahun 1954 untuk menantang sang juara bertahan, Argentina. (ezaar)
METROTODAY, VANCOUVER – Kolombia harus mengubur mimpi melangkah lebih jauh di Piala Dunia 2026. Pada babak 16 besar di BC Place, Vancouver, Selasa (7/7/2026) waktu setempat, mereka menyerah kepada Swiss melalui adu penalti.
Kedua tim bermain imbang tanpa gol selama 120 menit. Swiss tampil lebih tenang dalam babak tos-tosan dan menang 4-3 untuk mengamankan satu tempat di perempat final. Hasil tersebut sekaligus mengantarkan Rossocrociati -julukan Swiss- mencetak sejarah dengan lolos ke delapan besar Piala Dunia untuk kali pertama sejak edisi 1954.
Sejak peluit pertama ditiup, pertandingan bergulir layaknya seorang yang baru belajar mengemudi dengan penuh kehati-hatian. Kolombia sejatinya mengambil inisiatif serangan lebih dulu memanfaatkan magis kreativitas James Rodríguez di lini tengah. Peluang emas pertama lahir pada menit ke-21 melalui sepakan melengkung Gustavo Puerta dari luar kotak penalti. Namun, kiper Swiss Gregor Kobel tampil bak pahlawan dengan penyelamatan akrobatik yang fantastis. Swiss tak tinggal diam. Mereka membalas lewat tendangan voli kaki kiri Fabian Rieder yang memaksa Camilo Vargas jatuh bangun menyelamatkan gawangnya sebelum babak pertama usai.
Memasuki paruh kedua hingga babak tambahan waktu, Reuters melaporkan tensi di lapangan justru semakin mendidih meski kedua tim mulai dirayapi kelelahan. Drama mencapai puncaknya di babak extra time kala tandukan tajam bek Kolombia Jhon Lucumí membentur mistar gawang dengan keras, membuat lautan suporter kuning mereka histeris. La Tricolor -julukan Kolombia- melewatkan peluang emas paling konyol di menit-menit akhir laga saat blunder fatal kapten Swiss Granit Xhaka justru gagal dikonversi menjadi gol oleh Jaminton Campaz yang tendangannya melambung jauh di atas mistar gawang meski sudah berhadapan satu lawan satu dengan Kobel.
Ketika laga harus diselesaikan di babak tos-tosan, dewi fortuna memeluk Swiss secara hangat. Eksekusi penalti kapten Kolombia Davinson Sánchez yang membentur mistar serta kegagalan Cucho Hernández yang ditepis oleh Kobel menjadi mimpi buruk bagi wakil Amerika Selatan. Meski Manuel Akanji sempat gagal mengeksekusi penalti, ketenangan Ruben Vargas sebagai algojo terakhir berhasil memastikan kemenangan bersejarah 4-3 bagi Swiss.
Para analis dari The Guardian dan TNT Sports sepakat bahwa Swiss sukses memainkan peran sebagai “penawar racun” dari sepak bola menyerang Kolombia. Mereka memuji bagaimana lini belakang Swiss yang dikomandoi Manuel Akanji mampu meredam agresivitas Luis Díaz yang sedang on-fire musim ini sepanjang laga.
Kemenangan ini sekaligus memecahkan kutukan sejarah, meloloskan Swiss ke babak perempat final Piala Dunia untuk kali pertama sejak tahun 1954 untuk menantang sang juara bertahan, Argentina. (ezaar)