METROTODAY, SURABAYA – Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kota Surabaya tengah mengembangkan solusi inovatif untuk mengatasi penumpukan sampah plastik di kawasan pesisir mangrove.
Melalui teknologi pirolisis, sampah plastik yang tidak memiliki nilai ekonomis akan diolah menjadi minyak bakar yang nantinya dapat dimanfaatkan oleh para nelayan setempat.
Kepala BRIDA Kota Surabaya, Agus Imam Sonhaji, menjelaskan bahwa persoalan sampah di kawasan mangrove tidak hanya berasal dari aliran sungai, tetapi juga terbawa arus laut saat air pasang.
Menurutnya, Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) Kota Surabaya sebenarnya telah memasang penyaring sampah di saluran Kebon Agung, namun hambatan tetap muncul.
“Ternyata ketika pasang, justru laut membawa sampah masuk ke situ (mangrove), nyantol ke akar-akar napas mangrove,” ujar Agus Imam, Senin (29/6).
Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri karena sampah tersangkut di sela-sela akar sehingga sulit diambil. Oleh karena itu, BRIDA mengajak berbagai pihak mulai dari perguruan tinggi, pelajar, hingga masyarakat untuk turut mengumpulkan jenis sampah tertentu.
“Kalau botol plastik masih ada harganya. Untuk sampah kresek yang rusak itu tidak ada nilainya, tetapi banyak mengambang dan nyantol di mangrove. Nah, yang tidak bernilai ekonomis itulah yang ingin kita kumpulkan,” tegasnya.
Setelah dikumpulkan, sampah plastik tersebut akan diolah menggunakan teknologi pirolisis hingga menghasilkan minyak bakar. Agus berharap hasil pengolahan ini dapat dimanfaatkan secara langsung oleh warga pesisir.
“Kalau nelayan saat tidak mencari ikan, bisa mengambil sampah plastik di mangrove lalu menyerahkannya kepada kami untuk diproses. Hasilnya berupa minyak bakar bisa kami berikan kembali untuk bahan bakar motor tempel mereka,” tuturnya.
Namun, pengembangan alat ini masih menghadapi kendala. Agus mengakui bahwa proses penyelesaiannya terhambat oleh ketersediaan dana.
“Sudah hampir selesai, kami masih terus berupaya mencari dukungan pendanaan,” katanya.
Sementara itu, Sekretaris BRIDA Kota Surabaya, Mamik Suparmi, menjelaskan bahwa teknologi ini difokuskan pada jenis plastik yang sulit didaur ulang dan tidak memiliki nilai jual di pasaran.
“Botol plastik masih bisa dicacah dan didaur ulang. Nah, yang plastiknya sudah rusak dan tidak berguna ini yang kami kumpulkan, lalu diproses lewat pirolisis sehingga bisa kembali menjadi minyak,” jelasnya.
Saat ini, BRIDA bekerja sama dengan Fakultas Teknik serta Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Surabaya (Unesa) untuk melakukan riset sekaligus menyempurnakan alat pirolisis tersebut.
“Kami sedang melakukan riset sekaligus mengembangkan alatnya agar hasilnya optimal,” imbuh Mamik.
Selain menangani persoalan sampah, BRIDA juga membuka ruang kolaborasi riset melalui platform daring bernama BRIGHT (BRIDA Research, Internship Growth and Holistic Training).
Platform ini memfasilitasi mahasiswa, dosen, peneliti, hingga masyarakat umum yang ingin melakukan penelitian, magang, atau mengembangkan inovasi di wilayah Surabaya.
“BRIDA menjadi wadah bagi riset dan inovasi, termasuk tempat magang mahasiswa. Dari kegiatan ini diharapkan lahir ide-ide baru yang bisa diwujudkan menjadi solusi nyata,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Mamik menambahkan bahwa hasil karya dari para peserta magang juga didaftarkan sebagai Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Hal ini bertujuan memberikan nilai tambah dan bekal bagi mahasiswa agar lebih siap bersaing saat memasuki dunia kerja.
“Jadi sekaligus untuk membekali adik-adik agar punya daya saing lebih tinggi ketika mereka lulus dan terjun ke dunia kerja,” pungkasnya. (ahm)

