METROTODAY, SURABAYA – Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa Nusantara (BEM NUS) Jawa Timur menggelar aksi damai di depan Gedung DPRD Provinsi Jatim, Surabaya, Jumat (10/4).
Aksi Stand for Justice digelar untuk menyuarakan keprihatinan atas sejumlah dugaan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) yang terjadi belakangan ini.
Dalam aksinya, para mahasiswa membawa sejumlah tuntutan utama, di antaranya kasus penyiraman air keras yang menimpa aktivis Kontras, Andrie Yunus, serta kasus salah tembak yang menimpa seorang anak di Gresik saat latihan militer.
Aksi berlangsung dalam dua gelombang. Pada gelombang pertama, aspirasi massa diterima langsung oleh anggota Komisi A DPRD Jatim, Adam Rusydi, yang kemudian menandatangani dokumen tuntutan yang dibawa oleh mahasiswa.
Namun, situasi berubah pada gelombang susulan di mana massa tidak lagi ditemui pihak dewan, sehingga suasana menjadi tidak kondusif.
Massa sempat menarik pagar kawat berduri yang dipasang aparat kepolisian yang berjaga ketat. Selain itu, terlihat juga aksi pembakaran sampah di lokasi.
Meski sempat memanas, situasi berhasil diredam dan massa membubarkan diri secara bertahap sekitar pukul 17.30 WIB.

Koordinator Lapangan (Korlap) BEM NUS Jatim, Habib Nihla, menegaskan bahwa aksi ini merupakan bentuk konsolidasi untuk menuntut keadilan. Menurutnya, hingga saat ini kasus yang diusung belum mendapatkan penyelesaian yang memihak korban.
“Yang pertama terkait adili oknum TNI yang melakukan penyiraman terhadap kawan kami, Andrie Yunus, karena per hari ini tidak ada keadilan yang kami rasa seperti itu. Dan juga kami mendesak kepada Komisi III agar peradilan TNI yang mengawal itu dikembalikan ke peradilan umum. Karena gimana pun Andrie Yunus itu masyarakat sipil, bukan TNI,” tegas Habib.

Ia juga menyoroti kasus di Gresik dimana seorang anak menjadi korban peluru nyasar oknum aparat. Habib menilai penanganan kasus tersebut masih timpang, di mana korban dan keluarga justru mendapatkan intimidasi.
“Nah itu, kami mengawal karena per hari ini mereka tidak mendapatkan keadilan, tetapi ibunya yang malah didesak dan diintimidasi. Rakyat semakin takut dalam bersuara, sehingga kami sebagai mahasiswa dan representasi rakyat, kita lah yang menyuarakan hal tersebut,” imbuhnya.
Habib menekankan, jika tuntutan tidak segera ditindaklanjuti, BEM NUS siap menggelar aksi dengan skala yang jauh lebih besar.
Sementara itu, Ketua BEM NUS Jatim, Muhammad Zainur Abdillah, menyampaikan apresiasinya atas respons positif yang diberikan oleh pihak DPRD.
“Kami mengapresiasi jawaban Mas Adam Rusydi yang akan menyampaikan aspirasi mahasiswa kepada Komisi III DPR RI dan mendorong pembentukan tim gabungan pencari fakta,” kata Zainur.
Di kesempatan terpisah, Adam Rusydi memastikan komitmennya untuk mengawal aspirasi tersebut. Ia juga memuji langkah mahasiswa yang masih peduli pada nilai kemanusiaan.
“Kami sampaikan terima kasih kepada BEM NUS karena menjaga nilai idealisme. Mari kita jaga agar tidak ada rakyat yang terluka akibat kesewenang-wenangan. Kami akan menandatangani seluruh tuntutan mahasiswa. Secara prinsip, kami berterima kasih karena rekan-rekan semua masih peduli pada nilai kemanusiaan,” kata Adam Rusydi. (ahm)


