23 March 2026, 3:53 AM WIB

Inovasi Yoghurt Maja Buatan Mahasiswa Surabaya untuk Kesehatan Pencernaan saat Lebaran

spot_img

METROTODAY, SURABAYA – Menjelang lebaran, tradisi mudik dan jamuan hidangan bersantan serta tinggi gula seringkali menjadi tantangan bagi kesehatan pencernaan masyarakat.

Menjawab fenomena tahunan ini, mahasiswa Universitas Kristen (UK) Petra memperkenalkan GO! MAJA, sebuah inovasi pangan fungsional berbasis greek yoghurt yang memanfaatkan ekstrak buah maja.

Produk ini dikembangkan oleh tim kolaborasi lintas disiplin ilmu di UK Petra, terdiri dari Ardan Rezon Prasetio (Business Management), Audrey Hadara Wattimena (Desain Komunikasi Visual), Aurelia Callysta (Branding and Digital Marketing), Fedilia Yanson Widio (Culinary Business Management), dan Samuel Jason Liwanto Lie (Branding and Digital Marketing).

Ketua Tim GO! MAJA, Ardan Rezon Prasetio, menjelaskan bahwa inovasi ini lahir dari riset mendalam untuk mengubah persepsi publik terhadap buah maja yang sering terabaikan.

“Kami ingin membuktikan bahwa buah maja yang sering terabaikan sebenarnya adalah harta karun kesehatan. Dengan kandungan Lektin dan Quercetin, GO! MAJA bukan sekadar minuman sehat, melainkan pelindung dinding lambung yang sangat dibutuhkan saat pola makan kita berubah drastis di hari raya Idulfitri,” ujar Ardan, Sabtu (21/3).

Berbeda dengan yoghurt komersial yang umumnya mengandalkan variasi rasa buah populer, GO! MAJA justru menonjolkan keunikan rasa buah maja itu sendiri. Di bawah bimbingan David Kristanto, dosen School of Business and Management UK Petra, tim ini berani mendobrak stigma negatif masyarakat yang selama ini menganggap buah maja pahit.

“Keunggulan GO! MAJA terletak pada formulasinya, di mana Greek Yoghurt dipadukan dengan sirup dan jelly sari buah maja murni,” ujarnya.

Produk ini telah melalui uji laboratorium ketat yang disesuaikan dengan jurnal kesehatan terpublikasi. Ia memastikan secara ilmiah mengonfirmasi bahwa sari buah maja dalam produk ini efektif dalam meningkatkan imunitas, menangkal radikal bebas, serta menjadi solusi preventif untuk menjaga kesehatan jantung dan sistem pencernaan.

Salah satu tantangan terbesar dalam pengolahan buah maja adalah karakteristik after-taste pahit yang membuat masyarakat enggan mengonsumsinya. Namun, melalui teknik fermentasi yang dikembangkan selama tiga hari oleh tim GO! MAJA, rasa pahit alami itu berhasil diminimalisir secara signifikan.

“Proses ini tidak hanya menghilangkan stigma buah pahit, tapi juga menonjolkan profil rasa khas buah maja yang kuat dan segar, menghasilkan perpaduan cita rasa unik yang nyaman di lidah,” jelasnya.

Proses produksinya memakan waktu empat hari ini menjadi langkah nyata dalam pelestarian bahan pangan lokal yang terabaikan. Meski baru diluncurkan, produk ini telah mendapat antusiasme tinggi dengan terjualnya 120 pouch di lingkungan kampus UK Petra.

“Melalui pengembangan yoghurt buah maja ini, saya berharap dapat menciptakan produk inovatif berbasis fermentasi dengan memanfaatkan bahan pangan lokal. Selain memberikan nilai gizi dan manfaat probiotik, produk ini diharapkan mampu meningkatkan nilai ekonomi yang selama ini diabaikan,” pungkasnya. (ahm)

spot_img

METROTODAY, SURABAYA – Menjelang lebaran, tradisi mudik dan jamuan hidangan bersantan serta tinggi gula seringkali menjadi tantangan bagi kesehatan pencernaan masyarakat.

Menjawab fenomena tahunan ini, mahasiswa Universitas Kristen (UK) Petra memperkenalkan GO! MAJA, sebuah inovasi pangan fungsional berbasis greek yoghurt yang memanfaatkan ekstrak buah maja.

Produk ini dikembangkan oleh tim kolaborasi lintas disiplin ilmu di UK Petra, terdiri dari Ardan Rezon Prasetio (Business Management), Audrey Hadara Wattimena (Desain Komunikasi Visual), Aurelia Callysta (Branding and Digital Marketing), Fedilia Yanson Widio (Culinary Business Management), dan Samuel Jason Liwanto Lie (Branding and Digital Marketing).

Ketua Tim GO! MAJA, Ardan Rezon Prasetio, menjelaskan bahwa inovasi ini lahir dari riset mendalam untuk mengubah persepsi publik terhadap buah maja yang sering terabaikan.

“Kami ingin membuktikan bahwa buah maja yang sering terabaikan sebenarnya adalah harta karun kesehatan. Dengan kandungan Lektin dan Quercetin, GO! MAJA bukan sekadar minuman sehat, melainkan pelindung dinding lambung yang sangat dibutuhkan saat pola makan kita berubah drastis di hari raya Idulfitri,” ujar Ardan, Sabtu (21/3).

Berbeda dengan yoghurt komersial yang umumnya mengandalkan variasi rasa buah populer, GO! MAJA justru menonjolkan keunikan rasa buah maja itu sendiri. Di bawah bimbingan David Kristanto, dosen School of Business and Management UK Petra, tim ini berani mendobrak stigma negatif masyarakat yang selama ini menganggap buah maja pahit.

“Keunggulan GO! MAJA terletak pada formulasinya, di mana Greek Yoghurt dipadukan dengan sirup dan jelly sari buah maja murni,” ujarnya.

Produk ini telah melalui uji laboratorium ketat yang disesuaikan dengan jurnal kesehatan terpublikasi. Ia memastikan secara ilmiah mengonfirmasi bahwa sari buah maja dalam produk ini efektif dalam meningkatkan imunitas, menangkal radikal bebas, serta menjadi solusi preventif untuk menjaga kesehatan jantung dan sistem pencernaan.

Salah satu tantangan terbesar dalam pengolahan buah maja adalah karakteristik after-taste pahit yang membuat masyarakat enggan mengonsumsinya. Namun, melalui teknik fermentasi yang dikembangkan selama tiga hari oleh tim GO! MAJA, rasa pahit alami itu berhasil diminimalisir secara signifikan.

“Proses ini tidak hanya menghilangkan stigma buah pahit, tapi juga menonjolkan profil rasa khas buah maja yang kuat dan segar, menghasilkan perpaduan cita rasa unik yang nyaman di lidah,” jelasnya.

Proses produksinya memakan waktu empat hari ini menjadi langkah nyata dalam pelestarian bahan pangan lokal yang terabaikan. Meski baru diluncurkan, produk ini telah mendapat antusiasme tinggi dengan terjualnya 120 pouch di lingkungan kampus UK Petra.

“Melalui pengembangan yoghurt buah maja ini, saya berharap dapat menciptakan produk inovatif berbasis fermentasi dengan memanfaatkan bahan pangan lokal. Selain memberikan nilai gizi dan manfaat probiotik, produk ini diharapkan mampu meningkatkan nilai ekonomi yang selama ini diabaikan,” pungkasnya. (ahm)

Artikel Terkait

Pilihan Editor

Pilihan Editor

Terpopuler

Artikel Terbaru

Artikel Terkait