4 April 2026, 22:42 PM WIB

K.H. Ali Mas’Ud, Waliyullah Unik Penuh Karamah (9): Kedekatan dengan Gus Miek karena Kesamaan Dakwah

spot_img

Memasuki bulan suci Ramadan 1447 Hijriah/2026 Masehi, Metrotoday.id menayangkan kisah kisah religi jejak para Auliya (Waliyullah) penyebar agama Islam yang ada di wilayah Kabupaten Sidoarjo. Penayangan kisah ini bersumber dari buku “Sidoarjo Bumi Aulia” karya Muh. Subhan dan Fathur Roziq.

—————————–

MBAH UD atau K.H. Ali Mas’ud memiliki kedekatan dengan K.H. Chamim Tohari Djazuli atau Gus Miek dari Ploso, Kediri. Beliau adalah pendiri amalan dzikir Jamaah Mujahadah Lailiyah, Dzikrul Ghofilin, dan Sema’an Jantiko Mantab.

Gus Miek adalah putra dari K.H. Djazuli Usman, pendiri Ponpes Al Falah, Ploso, Kediri. K.H. Djazuli Usman pernah mondok untuk belajar ilmu shorof di Pondok Sono, Sidokerto, Buduran, Sidoarjo, yang didirikan oleh kakek Mbah Ud yakni K.H. Muhayyin.

K.H. Ali Mas’ud dan Gus Miek berbeda usia cukup jauh. Meski demikian, keduanya sering bertemu dan bertukar pikiran karena mereka memiliki gaya berdakwah yang nyaris sama.

Mbah Ud atau K.H. Ali Mas’ud lebih suka berdakwah dengan terjun langsung di tengah masyarakat untuk menyambangi rumah warga, jamaah, dan tempat tempat keramaian.

Sedangkan Gus Miek menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk berdakwah di luar tembok pesantren. Ia suka mendatangi diskotek atau tempat tempat perjudian untuk mengajak para penjudi dan penikmat hiburan malam untuk bertobat dengan caranya.

Salah satu pertemuan keduanya dikisahkan bahwa ketika Gus Miek berusia 9 tahun pernah sowan ke kediaman KH. Ali Mas’ud di Pagerwojo, Sidoarjo.

Saat itu kebetulan di kediaman K.H. Ali Mas’ud sedang bertamu K.H. Ahmad Siddiq dari Jember, yang saat itu masih berusia sekitar 25 tahun, dan menjabat sebagai sekretaris pribadi dari K.H. Wachid Hasyim, Menteri Agama RI.

Saat itu, K.H. Ahmad Siddiq meminta didoakan oleh Mbah Ud untuk keselamatan bangsa dan negara. Tak disangka, Mbah Ud malah memanggil anak kecil yang sedang bermain di depan rumahnya yang tak lain adalah Gus Miek. Gus Miek kemudian diminta Mbah Ud untuk membacakan doa alfatihah untuk K.H. Ahmad Siddiq.

Sepulang dari sowan ke Mbah Ud, beberapa bulan kemudian, K.H. Ahmad Siddiq kembali menemuinya untuk bicara empat mata menanyakan tentang siapakah Gus Miek.

“Mbah, saya sowan karena ingin tahu Gus Miek itu siapa, kok banyak orang besar seperti Kiai Hamid (K.H. Abdul Hamid dari Pasuruan, Red) menghormatinya?” tanya K.H. Ahmad Siddiq.

Mbah Ud pun menjawab, “Di sekitar tahun 1950-an, kamu (pernah) datang ke rumahku meminta doa. Aku menyuruh seorang bocah untuk mendoakan kamu. Itulah Gus Miek. Jadi, siapa saja, termasuk kamu, (kalau) bisa berkumpul dengan Gus Miek itu seperti mendapatkan Lailatul Qodar,” jawab Mbah Ud.

Anehnya, begitu Mbah Ud selesai mengucapkan kalimat itu, Gus Miek tiba-tiba turun dari langit-langit kamar rumah Mbah Ud dan duduk di antara Mbah Ud dan Kiai Ahmad Siddiq. Sama sekali tidak terlihat bekas atap yang runtuh karena dilewati oleh Gus Miek. Setelah mengucapkan salam, Gus Miek kembali menghilang.

Demikian kisah dan karomah dari Mbah Ud dan Gus Miek yang membuat K.H. Achmad Siddiq akhirnya mengenal Gus Miek, dan di kemudian hari mereka besanan karena menikahkan anak anaknya.

Gus Miek dan K.H. Achmad Siddiq pula yang aktif menghidupkan jamaah semaan Mantap dan Dzikrul Ghofilin hingga lestari sampai sekarang. Bahkan ketika K.H. Achmad Siddiq wafat, beliau dimakamkan di Kompleks Pemakaman Aulia di Desa Mojo, Kediri, atas permintaan Gus Miek. (Redaksi/bersambung)

(*) Materi artikel ini disadur dari buku Sidoarjo Bumi Aulia atas seizin Bappeda Kabupaten Sidoarjo sebagai pemilik produk

spot_img

Memasuki bulan suci Ramadan 1447 Hijriah/2026 Masehi, Metrotoday.id menayangkan kisah kisah religi jejak para Auliya (Waliyullah) penyebar agama Islam yang ada di wilayah Kabupaten Sidoarjo. Penayangan kisah ini bersumber dari buku “Sidoarjo Bumi Aulia” karya Muh. Subhan dan Fathur Roziq.

—————————–

MBAH UD atau K.H. Ali Mas’ud memiliki kedekatan dengan K.H. Chamim Tohari Djazuli atau Gus Miek dari Ploso, Kediri. Beliau adalah pendiri amalan dzikir Jamaah Mujahadah Lailiyah, Dzikrul Ghofilin, dan Sema’an Jantiko Mantab.

Gus Miek adalah putra dari K.H. Djazuli Usman, pendiri Ponpes Al Falah, Ploso, Kediri. K.H. Djazuli Usman pernah mondok untuk belajar ilmu shorof di Pondok Sono, Sidokerto, Buduran, Sidoarjo, yang didirikan oleh kakek Mbah Ud yakni K.H. Muhayyin.

K.H. Ali Mas’ud dan Gus Miek berbeda usia cukup jauh. Meski demikian, keduanya sering bertemu dan bertukar pikiran karena mereka memiliki gaya berdakwah yang nyaris sama.

Mbah Ud atau K.H. Ali Mas’ud lebih suka berdakwah dengan terjun langsung di tengah masyarakat untuk menyambangi rumah warga, jamaah, dan tempat tempat keramaian.

Sedangkan Gus Miek menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk berdakwah di luar tembok pesantren. Ia suka mendatangi diskotek atau tempat tempat perjudian untuk mengajak para penjudi dan penikmat hiburan malam untuk bertobat dengan caranya.

Salah satu pertemuan keduanya dikisahkan bahwa ketika Gus Miek berusia 9 tahun pernah sowan ke kediaman KH. Ali Mas’ud di Pagerwojo, Sidoarjo.

Saat itu kebetulan di kediaman K.H. Ali Mas’ud sedang bertamu K.H. Ahmad Siddiq dari Jember, yang saat itu masih berusia sekitar 25 tahun, dan menjabat sebagai sekretaris pribadi dari K.H. Wachid Hasyim, Menteri Agama RI.

Saat itu, K.H. Ahmad Siddiq meminta didoakan oleh Mbah Ud untuk keselamatan bangsa dan negara. Tak disangka, Mbah Ud malah memanggil anak kecil yang sedang bermain di depan rumahnya yang tak lain adalah Gus Miek. Gus Miek kemudian diminta Mbah Ud untuk membacakan doa alfatihah untuk K.H. Ahmad Siddiq.

Sepulang dari sowan ke Mbah Ud, beberapa bulan kemudian, K.H. Ahmad Siddiq kembali menemuinya untuk bicara empat mata menanyakan tentang siapakah Gus Miek.

“Mbah, saya sowan karena ingin tahu Gus Miek itu siapa, kok banyak orang besar seperti Kiai Hamid (K.H. Abdul Hamid dari Pasuruan, Red) menghormatinya?” tanya K.H. Ahmad Siddiq.

Mbah Ud pun menjawab, “Di sekitar tahun 1950-an, kamu (pernah) datang ke rumahku meminta doa. Aku menyuruh seorang bocah untuk mendoakan kamu. Itulah Gus Miek. Jadi, siapa saja, termasuk kamu, (kalau) bisa berkumpul dengan Gus Miek itu seperti mendapatkan Lailatul Qodar,” jawab Mbah Ud.

Anehnya, begitu Mbah Ud selesai mengucapkan kalimat itu, Gus Miek tiba-tiba turun dari langit-langit kamar rumah Mbah Ud dan duduk di antara Mbah Ud dan Kiai Ahmad Siddiq. Sama sekali tidak terlihat bekas atap yang runtuh karena dilewati oleh Gus Miek. Setelah mengucapkan salam, Gus Miek kembali menghilang.

Demikian kisah dan karomah dari Mbah Ud dan Gus Miek yang membuat K.H. Achmad Siddiq akhirnya mengenal Gus Miek, dan di kemudian hari mereka besanan karena menikahkan anak anaknya.

Gus Miek dan K.H. Achmad Siddiq pula yang aktif menghidupkan jamaah semaan Mantap dan Dzikrul Ghofilin hingga lestari sampai sekarang. Bahkan ketika K.H. Achmad Siddiq wafat, beliau dimakamkan di Kompleks Pemakaman Aulia di Desa Mojo, Kediri, atas permintaan Gus Miek. (Redaksi/bersambung)

(*) Materi artikel ini disadur dari buku Sidoarjo Bumi Aulia atas seizin Bappeda Kabupaten Sidoarjo sebagai pemilik produk

Artikel Terkait

Pilihan Editor

Pilihan Editor

Terpopuler

Artikel Terbaru

Artikel Terkait