METROTODAY, SURABAYA – Bencana hidrometeorologi yang terjadi di akhir 2025 lalu masih menyisakan luka mendalam bagi korban terdampak di Aceh. Trauma akan banjir dan tanah longsor membuat mereka tetap waspada, bahkan hingga tiga bulan setelah kejadian.
Salah seorang korban, Ramiati, mengaku rumahnya tenggelam dan penuh lumpur saat kejadian, membuatnya dan keluarganya harus mengungsi serta kehilangan mata pencaharian.
Ia dan keponakannya yang berusia lima tahun mengalami trauma mendalam, mulai dari ketakutan akan hujan yang turun terus menerus hingga muncul gejala jantung berdebar. Pengalaman serupa juga dirasakan oleh seluruh korban terdampak di daerah tersebut.
Oleh karena itu, Universitas Airlangga (Unair) hadir memberikan pendampingan psikososial untuk membantu memulihkan trauma para korban.
Dengan pendekatan penuh empati, tim Unair berupaya menguatkan semangat warga agar mampu bangkit dan melanjutkan proses pemulihan.
Dosen Vokasi Unair, Edith Frederika Puruhito memberikan pendampingan pasca bencana menjelaskan bahwa trauma yang dialami korban adalah reaksi normal yang sering muncul kembali dalam ingatan.
“Trauma terjadi pada siapa saja baik anak-anak, ibu hamil, lansia, disabilitas, dan korban kehilangan keluarga,” tuturnya, Minggu (22/2).
Menurutnya, penting untuk memahami berbagai gejala trauma baik dari sisi psikis, emosional, maupun fisik.
“Sudah 3 bulan yang lalu, saya yakin ingatan itu muncul terus dan membuat lelah. Itu adalah bentuk dari gejala trauma luka tidak terlihat,” ucapnya.
Gejala trauma tak terlihat antara lain perasaan waspada berlebih (hypervigilance), ingatan mendadak muncul (flashback), perasaan hampa, hingga kelelahan ekstrim.
Dari gejala tersebut, kemudian dapat muncul dampak fisik seperti sulit tidur, gangguan pencernaan, jantung berdebar, sakit kepala, keringat berlebih, hingga rasa nyeri pada tubuh. “Secara fisik itu bisa menggerogoti seluruh tubuh,” paparnya.
Edith berharap trauma yang dialami warga tidak berkembang menjadi Post-Traumatic Disorder (PTSD). Menurutnya, pemulihan dimulai dari motivasi diri sendiri yang berasal dari hal-hal kecil.
“Kita perlu melakukan self awareness yakni melakukan validasi perasaan, fokus pada perbaikan kecil setiap hari, dan menemukan makna baru tentang hidup setelah melawati krisis,” imbaunya.
Selain itu, motivasi juga perlu diwujudkan dalam tindakan yang dimulai dari langkah kecil, mengubah pola pikir untuk memberdayakan diri, fokus pada perbaikan diri, tidak mudah putus asa, serta menerima kondisi baru.
“Kita harus menerima kenyataan baru dan membangun sesuatu yang baik dari situasi tersebut,” katanya.
Sebagai dosen pengobat tradisional Unair, Edith juga memberikan panduan akupresur selama pendampingan. Teknik ini mirip akupunktur namun tidak menggunakan jarum dan memiliki banyak manfaat kesehatan. (ahm)


