12 February 2026, 15:58 PM WIB

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi Kenang Adi Sutarwijono: Sosok Pengayom yang Tak Pernah Mengeluh

METROTODAY, SIDOARJO – Duka mendalam menyelimuti Kota Surabaya atas berpulangnya Ketua DPRD Surabaya, Adi Sutarwijono. Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, tak kuasa menyembunyikan kesedihannya saat memberikan penghormatan terakhir di Rumah Duka Grand Heaven, Taman, Sidoarjo, Rabu (11/2) malam.

Didampingi sang istri, Rini Indriyani, Eri tiba di ruang 105 lantai 1 dan disambut langsung oleh keluarga mendiang. Suasana haru pecah saat Eri memberikan penguatan kepada istri dan anak-anak almarhum yang tengah berduka hebat.

Bagi Eri, sosok yang akrab disapa Mas Awi tersebut bukan sekadar mitra kerja di pemerintahan, melainkan sahabat dan kakak yang menjadi panutan.

“Saya secara pribadi dan mewakili jajaran Pemerintah Kota Surabaya serta warga Kota Surabaya merasa kehilangan. Kehilangan seorang sahabat, seorang pimpinan yang luar biasa, seorang saudara yang selalu berjuang untuk kepentingan masyarakat Kota Surabaya,” ucap Eri.

Eri mengungkapkan fakta memilukan mengenai kondisi kesehatan Adi Sutarwijono. Berdasarkan cerita dari istri almarhum, politisi senior PDI Perjuangan itu sebenarnya sudah mengetahui penyakit kanker hati yang dideritanya sejak November tahun lalu.

WhatsApp Image 2026-02-11 at 20.59.12
Suasana Misa Requiem di Grand Heaven, tempat disemayamkan jenazah Ketua DPRD Kota Surabaya, Adi Sutarwijono, sebelum dimakamkan di TPU Keputih Surabaya, Kamis (12/2). (Foto: istimewa)

Namun, demi tugas dan pengabdian, Mas Awi memilih untuk merahasiakan rasa sakitnya dari rekan-rekan kerja, termasuk saat memimpin rapat paripurna.

“Beliau dengan jajaran Pemkot dan DPRD tidak pernah menunjukkan sakit itu. Terus berjuang. Bahkan paripurna setelah November ketemu saya juga tidak pernah cerita apa-apa,” kenang Eri.

Kondisi tersebut baru memburuk sekitar tiga pekan lalu hingga mengharuskannya menjalani cuci darah. Meski demikian, Mas Awi tetap meminta agar kondisinya tidak dipublikasikan karena ingin tetap fokus bekerja.

“Ternyata beliau mengalami kanker hati. Sempat tiga kali cuci darah. Tapi Tuhan sayang kepada beliau agar tidak sakit lagi, maka dipanggil hari ini untuk melepas semua sakitnya,” tuturnya.

Selama menjabat Ketua DPRD memasuki dua periode ini, Awi dikenal sebagai figur yang mampu merangkul semua golongan tanpa sekat partai politik. Eri menyebut harmonisasi antara eksekutif dan legislatif di Surabaya bisa berjalan apik berkat kepiawaian almarhum.

“Mas Adi punya dedikasi luar biasa. Beliau pemimpin yang bijak. Tidak melihat saya dari mana, tapi menggabungkan semua orang yang ada di DPRD dari semua partai untuk menjadikan yang terbaik bagi warga Surabaya,” tegas Eri.

Selain kepemimpinannya, satu hal yang paling membekas di hati Eri adalah ajaran tentang kesabaran. Ia mengenang pesan mendiang saat menghadapi fitnah atau masalah.

“Satu yang saya belajar banyak dari beliau adalah kesabarannya. Beliau pernah berkata, ‘Ketika kita disakiti, ketika kita tidak berbuat apa-apa tapi dituduh, biarlah Tuhan yang membalas’,” ujar Eri.

Sebelum meninggalkan rumah duka, Eri menitipkan pesan khusus kepada anak-anak almarhum untuk tetap kuat dan menjadi penyokong bagi ibunda mereka. Ia juga memohonkan maaf kepada seluruh warga Surabaya atas segala kekurangan almarhum semasa hidup.

“Kami berdoa semoga Mas Adi diberikan tempat paling mulia, surganya Tuhan,” jelasnya.

Hingga Rabu malam, Misa Requiem masih berlangsung di Grand Heaven. Sejumlah pejabat, anggota legislatif, hingga kolega partai terus berdatangan untuk memberikan penghormatan terakhir kepada sang politisi santun.

Sementara itu jenazah Adi Sutarwijono tiba di Surabaya sekitar pukul 15.30 WIB. Rencananya Kamis (12/2) jenazah akan disemayamkan di Gedung DPRD Kota Surabaya sebagai penghormatan terakhir sebelum dikebumikan di TPU Keputih Surabaya, sekitar pukul 13.30 WIB. (ahm)

METROTODAY, SIDOARJO – Duka mendalam menyelimuti Kota Surabaya atas berpulangnya Ketua DPRD Surabaya, Adi Sutarwijono. Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, tak kuasa menyembunyikan kesedihannya saat memberikan penghormatan terakhir di Rumah Duka Grand Heaven, Taman, Sidoarjo, Rabu (11/2) malam.

Didampingi sang istri, Rini Indriyani, Eri tiba di ruang 105 lantai 1 dan disambut langsung oleh keluarga mendiang. Suasana haru pecah saat Eri memberikan penguatan kepada istri dan anak-anak almarhum yang tengah berduka hebat.

Bagi Eri, sosok yang akrab disapa Mas Awi tersebut bukan sekadar mitra kerja di pemerintahan, melainkan sahabat dan kakak yang menjadi panutan.

“Saya secara pribadi dan mewakili jajaran Pemerintah Kota Surabaya serta warga Kota Surabaya merasa kehilangan. Kehilangan seorang sahabat, seorang pimpinan yang luar biasa, seorang saudara yang selalu berjuang untuk kepentingan masyarakat Kota Surabaya,” ucap Eri.

Eri mengungkapkan fakta memilukan mengenai kondisi kesehatan Adi Sutarwijono. Berdasarkan cerita dari istri almarhum, politisi senior PDI Perjuangan itu sebenarnya sudah mengetahui penyakit kanker hati yang dideritanya sejak November tahun lalu.

WhatsApp Image 2026-02-11 at 20.59.12
Suasana Misa Requiem di Grand Heaven, tempat disemayamkan jenazah Ketua DPRD Kota Surabaya, Adi Sutarwijono, sebelum dimakamkan di TPU Keputih Surabaya, Kamis (12/2). (Foto: istimewa)

Namun, demi tugas dan pengabdian, Mas Awi memilih untuk merahasiakan rasa sakitnya dari rekan-rekan kerja, termasuk saat memimpin rapat paripurna.

“Beliau dengan jajaran Pemkot dan DPRD tidak pernah menunjukkan sakit itu. Terus berjuang. Bahkan paripurna setelah November ketemu saya juga tidak pernah cerita apa-apa,” kenang Eri.

Kondisi tersebut baru memburuk sekitar tiga pekan lalu hingga mengharuskannya menjalani cuci darah. Meski demikian, Mas Awi tetap meminta agar kondisinya tidak dipublikasikan karena ingin tetap fokus bekerja.

“Ternyata beliau mengalami kanker hati. Sempat tiga kali cuci darah. Tapi Tuhan sayang kepada beliau agar tidak sakit lagi, maka dipanggil hari ini untuk melepas semua sakitnya,” tuturnya.

Selama menjabat Ketua DPRD memasuki dua periode ini, Awi dikenal sebagai figur yang mampu merangkul semua golongan tanpa sekat partai politik. Eri menyebut harmonisasi antara eksekutif dan legislatif di Surabaya bisa berjalan apik berkat kepiawaian almarhum.

“Mas Adi punya dedikasi luar biasa. Beliau pemimpin yang bijak. Tidak melihat saya dari mana, tapi menggabungkan semua orang yang ada di DPRD dari semua partai untuk menjadikan yang terbaik bagi warga Surabaya,” tegas Eri.

Selain kepemimpinannya, satu hal yang paling membekas di hati Eri adalah ajaran tentang kesabaran. Ia mengenang pesan mendiang saat menghadapi fitnah atau masalah.

“Satu yang saya belajar banyak dari beliau adalah kesabarannya. Beliau pernah berkata, ‘Ketika kita disakiti, ketika kita tidak berbuat apa-apa tapi dituduh, biarlah Tuhan yang membalas’,” ujar Eri.

Sebelum meninggalkan rumah duka, Eri menitipkan pesan khusus kepada anak-anak almarhum untuk tetap kuat dan menjadi penyokong bagi ibunda mereka. Ia juga memohonkan maaf kepada seluruh warga Surabaya atas segala kekurangan almarhum semasa hidup.

“Kami berdoa semoga Mas Adi diberikan tempat paling mulia, surganya Tuhan,” jelasnya.

Hingga Rabu malam, Misa Requiem masih berlangsung di Grand Heaven. Sejumlah pejabat, anggota legislatif, hingga kolega partai terus berdatangan untuk memberikan penghormatan terakhir kepada sang politisi santun.

Sementara itu jenazah Adi Sutarwijono tiba di Surabaya sekitar pukul 15.30 WIB. Rencananya Kamis (12/2) jenazah akan disemayamkan di Gedung DPRD Kota Surabaya sebagai penghormatan terakhir sebelum dikebumikan di TPU Keputih Surabaya, sekitar pukul 13.30 WIB. (ahm)

Artikel Terkait

Pilihan Editor

Pilihan Editor

Terpopuler

Artikel Terbaru

Artikel Terkait