28 March 2026, 13:52 PM WIB

Sambut Tahun Baru Imlek, Umat Budha Mandikan Rupang di Vihara Buddhayana Surabaya

spot_img

METROTODAY, SURABAYA – Menjelang Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili, rupang pemujaan Buddha di Vihara Buddhayana, Putat Gede, Surabaya disucikan secara hati-hati dan penuh khidmat pada Senin (9/2).

Proses penyucian dilakukan oleh umat Buddha tersebut, meliputi rupang dari ukuran kecil hingga besar, serta penyucian altar.

Pembina Buddhayana Jawa Timur Sangha Agung Indonesia, Bante Dharma Maytri Mahathera, menjelaskan rupang yang dibersihkan meliputi patung Buddha utama beserta para muridnya, seperti Moggalana dan Sariputra, hingga rupang berukuran kecil yang selama ini digunakan umat untuk kegiatan operasional vihara. “Rupang-rupang itu setiap tahun rutin dibersihkan,” katanya.

Menurut Bante Dharma Maytri, pencucian rupang bukan sekadar membersihkan patung, tetapi juga menjadi sarana perenungan batin.

Tradisi tersebut dimaknai sebagai upaya membersihkan kekotoran dalam diri agar menyongsong tahun baru dengan jiwa dan raga yang lebih bersih, serta penuh keyakinan menapaki hari-hari ke depan.

IMG-20260209-WA0098
Umat Buddha di Vihara Buddhayana, Putat Gede, Surabaya, Senin (9/2) memandikan rupang jelang tahun baru Imlek. (Foto: Ahmad/METROTODAY) 

Jumlah rupang yang dibersihkan mencapai sekitar seratus buah dengan berbagai ukuran dan jenis. Proses pembersihan biasanya memakan waktu satu hingga dua hari tergantung jumlah bantuan umat, sementara rangkaian persiapan Imlek sudah dimulai sejak satu hingga dua pekan sebelumnya.

Setelah penyucian, seluruh pekerja melakukan puja pertobatan untuk memohon ampunan jika terdapat kesalahan selama proses pembersihan, mengingat rupang merupakan tempat pemujaan yang suci.

Selain pencucian rupang, umat Buddha juga menyiapkan berbagai kegiatan sosial seperti bakti sosial, pembagian sembako, donor darah, dan pasar murah. Kegiatan ini menjadi wujud praktik ajaran belas kasih dan kepedulian kepada sesama.

Bante Dharma Maytri menegaskan bahwa meskipun Imlek bukan hari raya keagamaan Buddha, momentum ini menjadi ajang evaluasi diri. “Harapannya, memasuki tahun baru, umat semakin rajin datang ke vihara dan meningkatkan kepedulian sosial dalam kehidupan sehari-hari,” pungkasnya. (ahm)

spot_img

METROTODAY, SURABAYA – Menjelang Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili, rupang pemujaan Buddha di Vihara Buddhayana, Putat Gede, Surabaya disucikan secara hati-hati dan penuh khidmat pada Senin (9/2).

Proses penyucian dilakukan oleh umat Buddha tersebut, meliputi rupang dari ukuran kecil hingga besar, serta penyucian altar.

Pembina Buddhayana Jawa Timur Sangha Agung Indonesia, Bante Dharma Maytri Mahathera, menjelaskan rupang yang dibersihkan meliputi patung Buddha utama beserta para muridnya, seperti Moggalana dan Sariputra, hingga rupang berukuran kecil yang selama ini digunakan umat untuk kegiatan operasional vihara. “Rupang-rupang itu setiap tahun rutin dibersihkan,” katanya.

Menurut Bante Dharma Maytri, pencucian rupang bukan sekadar membersihkan patung, tetapi juga menjadi sarana perenungan batin.

Tradisi tersebut dimaknai sebagai upaya membersihkan kekotoran dalam diri agar menyongsong tahun baru dengan jiwa dan raga yang lebih bersih, serta penuh keyakinan menapaki hari-hari ke depan.

IMG-20260209-WA0098
Umat Buddha di Vihara Buddhayana, Putat Gede, Surabaya, Senin (9/2) memandikan rupang jelang tahun baru Imlek. (Foto: Ahmad/METROTODAY) 

Jumlah rupang yang dibersihkan mencapai sekitar seratus buah dengan berbagai ukuran dan jenis. Proses pembersihan biasanya memakan waktu satu hingga dua hari tergantung jumlah bantuan umat, sementara rangkaian persiapan Imlek sudah dimulai sejak satu hingga dua pekan sebelumnya.

Setelah penyucian, seluruh pekerja melakukan puja pertobatan untuk memohon ampunan jika terdapat kesalahan selama proses pembersihan, mengingat rupang merupakan tempat pemujaan yang suci.

Selain pencucian rupang, umat Buddha juga menyiapkan berbagai kegiatan sosial seperti bakti sosial, pembagian sembako, donor darah, dan pasar murah. Kegiatan ini menjadi wujud praktik ajaran belas kasih dan kepedulian kepada sesama.

Bante Dharma Maytri menegaskan bahwa meskipun Imlek bukan hari raya keagamaan Buddha, momentum ini menjadi ajang evaluasi diri. “Harapannya, memasuki tahun baru, umat semakin rajin datang ke vihara dan meningkatkan kepedulian sosial dalam kehidupan sehari-hari,” pungkasnya. (ahm)

Artikel Terkait

Pilihan Editor

Pilihan Editor

Terpopuler

Artikel Terbaru

Artikel Terkait