Alhamdulillah, rangkaian kegiatan umroh bulan Oktober 2026 bisa menyempatkan ziarah ke Sumur Salman Al Farisi di pinggiran Madinah. Saat kami datang tempat areal tertutup, bahkan puluhan jamaah mendatangi sumur Al Faqir di depan areal tertutup Sumur Salman Al Farisi.
Sebelum kami berhasil masuk, seorang penduduk malah menjawab tidak tahu keberadaannya. Alhamdulillah, dengan izin Allah SWT, setelah pintu pagar kami ketuk, dibuka oleh penjaga hingga kami bisa melihat dari dekat kondisi sumur dengan aliran sumber sangat deras.
Bahkan dari pipa besar titik sumber air yang muncrat/ memancur di alirkan ke kolam dengan air sangat jernih. Tahun lalu masih diperkenankan berenang.
Malah ini diisi ikan Nila dan Mujair. Uniknya, saya makanannya bukan pur, tapi jagung muda. Saya pun sempat dikerubungi ikan yang merebut jagung sambil memuncratkan air. Sungguh luar biasa.
Dari catatan, Sumur Salman Al-Farisi, dikenal juga dengan nama Sumur Al-Faqir atau Sumur Al-Mitsab adalah sumur bersejarah di kawasan Al-‘Awali, Kota Madinah, Arab Saudi, yang berusia lebih dari 1.400 tahun dan tidak pernah kering hingga saat ini.
Sejarah dan Latar Belakang
Salman Al Farisi merupakan sahabat dekat Rasulullah. Walaupun Salman Al-Farisi, mantan budak asal Persia yang mencari kebenaran Islam. Sepak terjangnya dalam perjuangan Islam luar biasa, terutama kesetiaan, terkenal ahli pertanian dan sangat lihat dalam mengatur strategi perang.
Perang Khandaq atau dikenal sebagai perang Akhzab, dengan membikin parit dan mendirikan tujuh pos pemantau (saat ini dikenal dengan masjid Sab’a (7 masjid) bagian pemikiran Salman Al Farisi dan beberapa sahabat termasuk sayyidina Aisyah.
Sebelum masuk Islam secara penuh dan merdeka, Salman Al-Farisi berstatus sebagai budak milik seorang Yahudi di Madinah. Untuk kebebasannya, dengan syarat Penebusan memerdekakan dirinya, tuan Yahudi tersebut mengajukan kepada Salman berupa pembayaran sejumlah emas dan penanaman 300 pohon kurma yang harus tumbuh dan berbuah.
Menghadapi hal tersebut, Rasulullah SAW membantu Salman dengan cara menanam sendiri seluruh 300 pohon kurma tersebut (yang kemudian langsung tumbuh dan berbuah pada tahun pertama) serta memberikan emas seberat 40 uqiyah.
Kembali ke sejarah sumur, dimulai adanya ikhtiar proses penanaman, hingga terjadi penggalian sumur. Selama bekerja dan mengelola kebun kurma tersebut, Salman menggali sumur dengan tangannya sendiri untuk mengairi kebun kurma miliknya.
Yang pasti, keberadaan dari sumur ini terus mengalir air yang sangat jernih dan dapat dimanfaatkan hingga sekarang. Situs bersejarah ini telah ditata ulang dan dibuka kembali oleh Otoritas Pembangunan Wilayah Madinah dengan penambahan fasilitas pendukung seperti pagar pengaman dan saluran air.
Anda penasaran? Usahakan ketika berada di Kota Madinah Al Munawwarah jangan lupa berkunjung ke sumur Salman Al Farisi. Barokallah. (*)


