Yayuk menegaskan bahwa warisan terbesar bukanlah bangunan megah, melainkan prinsip-prinsip yang selalu dipegang teguh almarhum.
“Beliau selalu mengingatkan bahwa pembangunan harus dilakukan sesuai ketentuan dan perencanaan yang baik. Prinsip-prinsip itu yang terus beliau pegang dan ajarkan kepada banyak pihak,” imbuhnya.
Sebagai akademisi, Prof. Johan Silas berhasil menjembatani ilmu teori dan praktik nyata.
Melalui pengabdiannya di ITS, beliau melahirkan banyak generasi penerus yang kini berkiprah di berbagai bidang, termasuk di lingkungan Pemkot Surabaya.
Bahkan di usia senja, semangat pengabdiannya tak luntur; beliau tetap memberikan masukan dan pandangan demi masa depan kota.
“Beliau adalah salah satu putra terbaik Surabaya yang mendedikasikan hidupnya untuk kemajuan kota ini. Kontribusinya menjangkau banyak aspek, mulai dari tata ruang, perumahan, pelestarian cagar budaya hingga pengembangan sumber daya manusia,” jelasnya.
Dikenal sebagai sosok yang bijaksana dan mampu menjembatani berbagai generasi, gagasan-gagasannya selalu mudah dipahami dan diterapkan.
Kepergiannya meninggalkan kehilangan, namun pemikirannya tetap abadi.
“Sosok yang selama puluhan tahun menjadi salah satu penjaga arah pembangunan Surabaya itu telah berpulang. Namun, jejak pemikirannya tetap hidup dalam wajah kota yang terus berkembang,” ujar Yayuk.
Pemerintah Kota Surabaya menegaskan akan terus melanjutkan nilai-nilai dan gagasan yang ditinggalkan, mulai dari pelestarian warisan budaya hingga pembangunan yang berkeadilan.
“Jejak pemikiran yang diwariskan beliau akan tetap menjadi bagian penting dalam arah pembangunan Surabaya dari generasi ke generasi,” pungkasnya. (ahm)

