Sistem silvofishery di kawasan pesisir Surabaya menjadi percontohan untuk meningkatkan hasil panen ikan. (Foto: Istimewa)
METROTODAY, SURABAYA – Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kota Surabaya gencar mendorong penerapan sistem budidaya perikanan berbasis silvofishery di kawasan pesisir.
Konsep ini menggabungkan penanaman pohon bakau atau mangrove dengan kegiatan budidaya ikan di lahan tambak.
Tujuannya ganda, yakni memperkuat ekosistem lingkungan pesisir sekaligus meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat setempat.
Kepala BRIDA Kota Surabaya, Agus Imam Sonhaji, menjelaskan bahwa pengembangan kawasan pesisir ini dilakukan secara kolaboratif bersama Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Surabaya.
Pembagian tugas pun ditetapkan, di mana DKPP berfokus pada pembinaan langsung kepada masyarakat, sedangkan BRIDA memegang peran utama dalam pengembangan riset dan inovasi.
“Nah, kita itu melihat sebenarnya ada konsep namanya silvofishery. Jadi penggabungan antara mangrove di atas tambak dengan ikannya,” ujar Agus, Senin (25/5).
Berdasarkan hasil kajian dan penelitian yang telah dilakukan, Agus menegaskan bahwa keberadaan mangrove di tengah kawasan pertambakan sama sekali tidak menurunkan produktivitas lahan.
Justru sebaliknya, integrasi keduanya menciptakan ekosistem alami yang sangat mendukung pertumbuhan biota perairan, sehingga hasil panen menjadi lebih melimpah.
“Kalau tambak itu dicampur dengan mangrove, justru tidak mengurangi hasil (ikan) tambak, tambah banyak hasilnya,” papar Agus.
Meski memiliki dampak positif yang besar, Agus mengakui penerapan sistem ini tidak serta merta berjalan mudah. Diperlukan edukasi yang masif dan berkelanjutan mengingat sebagian besar masyarakat pesisir selama ini masih terbiasa dan nyaman menggunakan metode konvensional.
Oleh karena itu, BRIDA menyiapkan sejumlah kawasan tambak percontohan atau pilot project.
Langkah ini diambil agar para petambak dapat melihat dan membuktikan sendiri efektivitas serta peningkatan hasil panen sebelum mereka memutuskan untuk menerapkannya secara mandiri di lahan masing-masing.
“Kita punya beberapa area yang bisa dicobakan, kadang orang akan percaya kalau sudah lihat hasilnya, oh iya (hasil) bisa banyak,” katanya.
Agus berharap, konsep ini dapat terus disebarluaskan dan diterapkan lebih luas di seluruh pesisir Surabaya. Harapannya, bukan hanya hasil perikanan yang meningkat, tetapi luasan tutupan lahan mangrove juga bertambah. Hal ini secara otomatis akan berdampak pada kualitas lingkungan kota yang lebih baik.
“Insyaallah ini terus kita sebarkan agar nanti ikannya tambah banyak tapi tutupan lahan atas mangrove juga bertambah luas. Alhasil nanti, hawanya Surabaya tambah dingin, banyak oksigennya,” harapnya.
Tak berhenti pada aspek budidaya dan lingkungan, BRIDA juga berinovasi mengembangkan nilai tambah produk pesisir. Bersama sejumlah perguruan tinggi, pihaknya tengah merancang menu-menu kuliner khas baru berbahan dasar hasil perikanan Surabaya.
“Kita akan mencoba untuk membuat menu-menu spesial khas pesisir. Tentu tidak sendiri. Kita mengajak (kolaborasi) banyak kampus yang mempunyai kemampuan kuliner yang bagus. Insyaallah tidak lama-lama, satu bulan, dua bulan itu jadi,” ungkapnya.
Selain membahas sistem pertambakan, Agus kembali menegaskan peran strategis Kebun Raya Mangrove (KRM) yang ada di wilayah Gunung Anyar dan Wonorejo. Kawasan ini dinilai sangat krusial dalam melindungi daratan Surabaya dari ancaman abrasi air laut.
Lebih dari sekadar hutan, ekosistem mangrove merupakan rumah bagi berbagai hewan dan biota pesisir seperti kepiting dan kerang yang juga bernilai ekonomi tinggi.
“Ekosistemnya tidak hanya tumbuhan, ada hewannya juga, misal kepiting dan sebagainya. Itu juga kita ingin kalau bisa berproduksi makin banyak,” tuturnya.
Lebih jauh Agus menjelaskan, keberadaan kebun raya mangrove di bawah naungan BRIDA bukan hanya untuk konservasi alam semata. Kawasan ini difungsikan sebagai pusat pembelajaran bagi masyarakat serta lokasi utama penelitian ilmiah untuk pengembangan pesisir di masa depan.
“Kebun raya itu di samping untuk konservasi juga ada edukasi, plus risetnya. Makanya itu (Kebun Raya Mangrove) di bawah pengelolaan BRIDA, karena tempatnya riset,” pungkasnya. (ahm)
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan pentingnya diversifikasi sumber pendanaan baru di luar sektor perbankan demi…
Sebanyak 43.999 jemaah haji yang tergabung dalam 116 kloter dari Embarkasi Surabaya telah resmi diberangkatkan…
Universitas Negeri Surabaya (Unesa) resmi mengumumkan hasil seleksi jalur Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) Seleksi…
Universitas Airlangga (Unair) resmi mengumumkan Ujian Tulis Berbasis Komputer Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (UTBK SNBT)…
AFC Ajax akhirnya mengamankan tiket untuk tampil di pentas Eropa musim depan. Itu menyusul kemenangan…
Kompetisi Premier League musim 2025/2026 resmi berakhir pada Minggu (24/5/2026) malam WIB. Pekan terakhir menghadirkan…
This website uses cookies.