Para keluarga prajurit kapal Belanda yang gugur dalam pertempuran dengan kapal Jepang pada perang dunia kedua di Laut Jawa mengenang peristiwa tersebut di Monumen Karel Doorman, kompleks pemakaman Ereveld Kembang Kuning Surabaya, Jumat (27/2). (Foto: Ahmad/METROTODAY)
METROTODAY, SURABAYA – Peringatan pertempuran laut Jawa yang menewaskan 915 tentara Angkatan Laut Belanda pada 27 Februari 1942 digelar di Surabaya, Jumat (27/2). Peringatan digelar dengan upacara khidmat di Monumen Karel Doorman dan berziarah di makam Ereveld Kembang Kuning, yang menekankan pentingnya perdamaian dan pelajaran sejarah bagi generasi mendatang.
Upacara peringatan ke-84 ini dimulai di Monumen Karel Doorman, kemudian dilanjutkan dengan ziarah ke makam para prajurit yang gugur setelah kapal mereka tenggelam oleh armada laut Jepang. Acara diiringi lantunan lagu Dona Nobis Pacem atau Berilah Kami Damai, yang menekankan pentingnya perdamaian dunia.
Direktur makam kehormatan Belanda, Eveline de Vink, menjelaskan tujuan penyelenggaraan acara ini untuk memperingati Pertempuran Laut Jawa, sebagai bagian dari refleksi atas peristiwa masa lalu. Upacara peringatan ini hanya digelar di Surabaya.
De Vink menambahkan bahwa upacara hanya diadakan pada tanggal 27 Februari di kota ini dan semua makam, termasuk yang berisi jenazah tanpa nama, dihormati secara sama.
“Dalam peristiwa ini, sangat penting untuk generasi berikutnya untuk berbagi cerita. Tidak hanya cerita dan semua cerita belajar untuk menghindari perang di masa depan. Dengan gampang ke arah perang. Sekarang di dunia banyak gesekan. Jadi ada negara yang tidak ada perdamaian mungkin itu belum sadar bahaya. Jadi perdamaian sudah hilang seperti perang dimulai,” katanya.
Ia menyebut makam Ereveld merupakan salah satu dari tujuh taman kehormatan Belanda di Indonesia yang kini telah terbuka untuk umum. “Dengan adanya makam Ereveld tujuan mempelajari sejarah. Kita bisa belajar dan mengenang peristiwa dulu,” terangnya.
Pertempuran Laut Jawa pada Perang Dunia Kedua telah menewaskan 915 tentara Angkatan Laut Belanda yang dipimpin oleh Laksamana Muda Karel Willem Frederik Marie Doorman, kapten HNLMS De Ruyter yang juga turut tenggelam.
“Kami ke sini untuk memperingati gugurnya para prajurit di Laut Jawa sekaligus untuk sejarahnya,” kata Honorary Consul of the Kingdom of the Netherlands di Jawa Timur, Lily Jessica Tjokrosetio.
Lily menjelaskan bahwa peringatan ini bukan hanya sekadar menghormati mereka yang telah gugur, melainkan juga sebagai pelajaran bagi masa depan. “Sisa-sisa dari perang dan sejarahnya menjadi bagian pelajaran. Bahwa perang bukanlah sebuah solusi,” tuturnya.
Ia juga menyampaikan upaya pelacakan data keluarga prajurit yang gugur melalui kerja sama dengan Pemkot Surabaya, termasuk data dari pemakaman di Peneleh yang sudah ada sejak tahun 1800-an.
“Masih banyak sekali keluarga di Belanda mungkin kakek buyut mereka banyak mencari nenek moyang. Mereka mencari bisa melawati kedutaan meminta info dan konsulat pasti mempunyai database cukup lengkap siapa saja yang dimakamkan bahkan di Peneleh juga ada. Kami juga kerjasama dengan Pemkot untuk koordinasi mencari data,” pungkasnya. (ahm)
Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menyampaikan permohonan maaf atas pernyataannya terkait zakat dalam sebuah forum…
MENURUT ilmu tasawuf, karomah atau kelebihan Mbah Ud atau KH. Ali Mas’ud ini adalah kelebihan…
Kecelakaan lalu lintas melibatkan sepeda motor dan truk kontainer terjadi di Jalan Tambak Osowilangun, Surabaya,…
Jelang operasional angkutan Lebaran 2026, KAI Logistik melakukan pengiriman 12 unit lokomotif dari Pulau Sumatera…
MBAH UD atau K.H. Ali Mas’ud juga dikenal mampu membaca pikiran dan perasaan seseorang meski…
Pengelolaan sampah di Kabupaten Sidoarjo mendapat pengakuan pemerintah pusat. Di antara total 514 kabupaten/kota se-Indonesia,…
This website uses cookies.