7 February 2026, 3:05 AM WIB

Pemkot Surabaya Jalin Kerja Sama dengan 32 PTN-PTS, Bantu 24.000 Mahasiswa Prasejahtera di Surabaya

METROTODAY, SURABAYA – Pemkot Surabaya menjalin kerja sama strategis bersama 8 Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan 24 Perguruan Tinggi Swasta (PTS) melalui Penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) di Lobby Balai Kota.

Kerja sama ini berfokus pada pemberian beasiswa berupa bantuan biaya perkuliahan bagi mahasiswa dari keluarga prasejahtera di Kota Pahlawan.

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menyatakan bahwa kebijakan ini merupakan wujud nyata implementasi Pancasila dan gotong royong dalam membangun kota. Ia menegaskan jumlah PTN dan PTS yang mengikuti kerja sama akan terus bertambah secara bertahap.

“Alhamdulillah, hari ini hampir seluruh perguruan tinggi negeri dan swasta hadir. Memang ada beberapa yang berhalangan, tetapi secara keseluruhan partisipasi sangat besar. Tadi tercatat sekitar 32 perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta, yang menandatangani kerja sama, dan jumlahnya akan terus bertambah secara bertahap,” kata Eri, Jumat (6/2) .

Eri mengungkapkan jangkauan bantuan pendidikan tahun ini meningkat drastis dari 3.000 menjadi 24.000 mahasiswa, tak lepas dari evaluasi sistem dan kolaborasi dengan pihak kampus. Untuk pendanaan, Pemkot Surabaya menyiapkan anggaran sekitar Rp 150 miliar hingga Rp 200 miliar untuk tahun 2026.

“Tahun ini lebih besar, tapi yang terpenting bukan jumlahnya, melainkan jangkauannya yang jauh lebih luas. Kebijakan ini diprioritaskan bagi keluarga prasejahtera (Desil 1–5) dengan prinsip satu keluarga minimal satu sarjana untuk memutus rantai kemiskinan,” terangnya.

Ia juga menegaskan bahwa kerja sama ini mematahkan anggapan bahwa PTN tidak dapat melakukan perubahan karena kebijakan Uang Kuliah Tunggal (UKT) merupakan kewenangan pusat dan kampus.

“Tapi hari ini terbukti bahwa perubahan bisa dilakukan, jika niatnya untuk membantu rakyat kecil,” imbuhnya.

Eri juga menyampaikan permohonan maaf kepada PTN terkait beberapa mahasiswa yang mengisi data ekonomi orang tua tidak sesuai kondisi. Ia meminta agar para mahasiswa tetap dapat berkuliah dengan bantuan yang diberikan.

“Saya mohon, jangan anak-anak ini dihukum. Yang penting mereka tetap bisa kuliah. Soal UKT, biar menjadi tanggung jawab saya,” katanya.

Mengenai besaran biaya bantuan, ia menjelaskan bahwa hal tersebut menjadi kewenangan Pemkot dengan pihak kampus masing-masing.

“Jangan fokus pada angka. Fokusnya adalah bagaimana anak-anak ini bisa terus kuliah. Soal kekurangannya, kita carikan solusi bersama, lewat kampus, orang tua asuh, atau skema lain,” ujarnya.

Eri juga berpesan agar mahasiswa penerima bantuan tidak merasa rendah diri. “Justru kalian harus menunjukan bahwa kalian adalah generasi emas. Belajarlah sungguh-sungguh supaya kelak, salah satu dari kalian bisa berdiri di sini sebagai Wali Kota Surabaya, sebagai pemimpin bangsa,” jelasnya.

Kebijakan ini mendapatkan dukungan penuh dari pihak perguruan tinggi. Rektor Unesa Prof. Nurhasan memberikan apresiasi tinggi dan menyebutnya sebagai ide gila yang luar biasa.

“Ini adalah program luar biasa untuk memutus rantai kemiskinan melalui SDM unggul. Unesa siap mendukung penuh, berapapun kuota yang ditugaskan oleh Pak Wali,” tegas Prof Nurhasan.

Rektor Universitas Wijaya Putra, Budi Endarto, yang mewakili PTS menyoroti perubahan kebijakan melalui Perwali Nomor 4 Tahun 2026. Ia menilai kebijakan ini bersifat redistributive policy dan investasi sosial jangka panjang.

“Dulu bantuan hanya untuk PTN, sekarang mahasiswa di PTS yang ber-KTP Surabaya juga mendapatkan hak yang sama. Ini adalah social investment yang akan kita bawa ke tingkat nasional sebagai pilot project,” kata Budi.

Momen haru sempat pecah saat diperkenalkannya Anisah Wahyu Triska, mahasiswa semester 5 jurusan Administrasi Publik di salah satu PTS. Anisah hampir putus kuliah karena keterbatasan biaya dan harus membantu ibunya berjualan penyetan. Melalui program ini, ia dipastikan dapat melanjutkan pendidikan hingga lulus.

“Oleh karena itu, saya mengucapkan terima kasih atas sinergi yang terjalin dengan Pemkot Surabaya dan Wali Kota Eri Cahyadi. Semoga ke depan semakin banyak mahasiswa kurang mampu yang terbantu melalui program ini,” pungkasnya. (ahm)

METROTODAY, SURABAYA – Pemkot Surabaya menjalin kerja sama strategis bersama 8 Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan 24 Perguruan Tinggi Swasta (PTS) melalui Penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) di Lobby Balai Kota.

Kerja sama ini berfokus pada pemberian beasiswa berupa bantuan biaya perkuliahan bagi mahasiswa dari keluarga prasejahtera di Kota Pahlawan.

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menyatakan bahwa kebijakan ini merupakan wujud nyata implementasi Pancasila dan gotong royong dalam membangun kota. Ia menegaskan jumlah PTN dan PTS yang mengikuti kerja sama akan terus bertambah secara bertahap.

“Alhamdulillah, hari ini hampir seluruh perguruan tinggi negeri dan swasta hadir. Memang ada beberapa yang berhalangan, tetapi secara keseluruhan partisipasi sangat besar. Tadi tercatat sekitar 32 perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta, yang menandatangani kerja sama, dan jumlahnya akan terus bertambah secara bertahap,” kata Eri, Jumat (6/2) .

Eri mengungkapkan jangkauan bantuan pendidikan tahun ini meningkat drastis dari 3.000 menjadi 24.000 mahasiswa, tak lepas dari evaluasi sistem dan kolaborasi dengan pihak kampus. Untuk pendanaan, Pemkot Surabaya menyiapkan anggaran sekitar Rp 150 miliar hingga Rp 200 miliar untuk tahun 2026.

“Tahun ini lebih besar, tapi yang terpenting bukan jumlahnya, melainkan jangkauannya yang jauh lebih luas. Kebijakan ini diprioritaskan bagi keluarga prasejahtera (Desil 1–5) dengan prinsip satu keluarga minimal satu sarjana untuk memutus rantai kemiskinan,” terangnya.

Ia juga menegaskan bahwa kerja sama ini mematahkan anggapan bahwa PTN tidak dapat melakukan perubahan karena kebijakan Uang Kuliah Tunggal (UKT) merupakan kewenangan pusat dan kampus.

“Tapi hari ini terbukti bahwa perubahan bisa dilakukan, jika niatnya untuk membantu rakyat kecil,” imbuhnya.

Eri juga menyampaikan permohonan maaf kepada PTN terkait beberapa mahasiswa yang mengisi data ekonomi orang tua tidak sesuai kondisi. Ia meminta agar para mahasiswa tetap dapat berkuliah dengan bantuan yang diberikan.

“Saya mohon, jangan anak-anak ini dihukum. Yang penting mereka tetap bisa kuliah. Soal UKT, biar menjadi tanggung jawab saya,” katanya.

Mengenai besaran biaya bantuan, ia menjelaskan bahwa hal tersebut menjadi kewenangan Pemkot dengan pihak kampus masing-masing.

“Jangan fokus pada angka. Fokusnya adalah bagaimana anak-anak ini bisa terus kuliah. Soal kekurangannya, kita carikan solusi bersama, lewat kampus, orang tua asuh, atau skema lain,” ujarnya.

Eri juga berpesan agar mahasiswa penerima bantuan tidak merasa rendah diri. “Justru kalian harus menunjukan bahwa kalian adalah generasi emas. Belajarlah sungguh-sungguh supaya kelak, salah satu dari kalian bisa berdiri di sini sebagai Wali Kota Surabaya, sebagai pemimpin bangsa,” jelasnya.

Kebijakan ini mendapatkan dukungan penuh dari pihak perguruan tinggi. Rektor Unesa Prof. Nurhasan memberikan apresiasi tinggi dan menyebutnya sebagai ide gila yang luar biasa.

“Ini adalah program luar biasa untuk memutus rantai kemiskinan melalui SDM unggul. Unesa siap mendukung penuh, berapapun kuota yang ditugaskan oleh Pak Wali,” tegas Prof Nurhasan.

Rektor Universitas Wijaya Putra, Budi Endarto, yang mewakili PTS menyoroti perubahan kebijakan melalui Perwali Nomor 4 Tahun 2026. Ia menilai kebijakan ini bersifat redistributive policy dan investasi sosial jangka panjang.

“Dulu bantuan hanya untuk PTN, sekarang mahasiswa di PTS yang ber-KTP Surabaya juga mendapatkan hak yang sama. Ini adalah social investment yang akan kita bawa ke tingkat nasional sebagai pilot project,” kata Budi.

Momen haru sempat pecah saat diperkenalkannya Anisah Wahyu Triska, mahasiswa semester 5 jurusan Administrasi Publik di salah satu PTS. Anisah hampir putus kuliah karena keterbatasan biaya dan harus membantu ibunya berjualan penyetan. Melalui program ini, ia dipastikan dapat melanjutkan pendidikan hingga lulus.

“Oleh karena itu, saya mengucapkan terima kasih atas sinergi yang terjalin dengan Pemkot Surabaya dan Wali Kota Eri Cahyadi. Semoga ke depan semakin banyak mahasiswa kurang mampu yang terbantu melalui program ini,” pungkasnya. (ahm)

Artikel Terkait

Pilihan Editor

Pilihan Editor

Terpopuler

Artikel Terbaru

Artikel Terkait