Categories: Surabaya

Mahasiswa ITS Ciptakan Deteksi TBC lewat Suara Batuk, Sensitivitas Capai 76 Persen

METROTODAY, SURABAYA – Indonesia merupakan negara dengan beban kasus Tuberkulosis (TBC) terbesar kedua di dunia.

Menyadari hal ini, tim mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mengembangkan sistem skrining deteksi dini TBC menggunakan suara batuk, yang dirancang untuk mengatasi keterbatasan akses terhadap alat skrining dan diagnosis standar yang mudah dijangkau masyarakat.

TBC disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis (Mtb) pada jaringan paru, dengan gejala utama berupa batuk kronis yang berlangsung lebih dari dua sampai tiga minggu. Metode skrining berbasis suara batuk menjadi pendekatan medis inovatif yang lebih hemat biaya dan mudah dijangkau.

Ketua tim Nathania Cahya Romadhona menjelaskan bahwa pengolahan sinyal batuk menghadapi tantangan karena sifatnya yang inharmonik dengan pola spektral tidak beraturan. Sebagian besar model deteksi kecerdasan buatan saat ini masih berfokus pada fitur akustik seperti Mel-Frequency Cepstral Coefficients (MFCC).

Ketua tim TBCare ITS Nathania Cahya Romadhona (kiri) saat melakukan pengambilan sampel suara batuk pasien di fasilitas kesehatan. (Foto: istimewa)

“Diperlukan pendekatan yang mampu menangkap kompleksitas sinyal batuk secara lebih komprehensif,” ujarnya.

Untuk menjawab tantangan tersebut, timnya memanfaatkan metode deep learning untuk mengidentifikasi karakteristik akustik pada suara batuk pasien TBC. Data yang diperoleh kemudian diolah dengan Yet Another Mel Spectrogram Network (YAMNet) untuk memvalidasi jenis suara.

“Model ini memiliki akurasi dan performa yang unggul dalam klasifikasi dan validasi suara batuk dalam berbagai kondisi lingkungan,” ungkap Nathania.

Alat ini juga melakukan modifikasi pada arsitektur deep learning. Mereka melakukan ekstraksi fitur menggunakan MFCC yang kemudian diproses sebagai input untuk model Long Short-Term Memory (LSTM), bertujuan untuk memperoleh tingkat akurasi optimal dalam membedakan batuk TBC dan non-TBC.

Berdasarkan model tersebut, tim yang bernama TBCare merancang perangkat perekaman suara batuk terintegrasi dengan sistem Internet of Things (IoT). Alat ini dapat terhubung dengan basis data rumah sakit untuk pengelolaan data medis yang efisien. “Perangkat ini memiliki kemampuan pra-skrining TB portable yang mudah dioperasikan oleh kader kesehatan di berbagai daerah,” tuturnya.

Inovasi TBCare telah melalui uji validasi medis dengan hasil tingkat klasifikasi batuk TBC sebesar 76 persen sensitivitas. Sistem ini menggunakan data primer dari 17 pasien di Rumah Sakit Universitas Airlangga (RSUA) dan memiliki Tingkat Kesiapan Teknologi (TKT) 6. (ahm)

Jay Wijayanto

Recent Posts

Modus Jual Sembako Murah, Puluhan Ibu Rumah Tangga di Surabaya Tertipu Hingga Setengah Miliar Rupiah

Puluhan ibu rumah tangga (emak-emak) di Surabaya menjadi korban dugaan penipuan jual beli sembako fiktif.…

28 minutes ago

Jurnalis Surabaya dan Sidoarjo Belajar AI Bareng iSTTS

Puluhan jurnalis Surabaya dan Sidoarjo mengikuti Bootcamp Artificial Intelligence for Journalist di iSTTS. Belajar pemanfaatan…

2 hours ago

Doa Bersama 1.000 Anak Yatim untuk Sidoarjo yang Lebih Baik di Hari Jadi Ke-167

Pendopo Delta Wibawa terasa berbeda pada Minggu (1/2/2026) pagi. Dalam rangkaian peringatan Hari Jadi Ke-167…

2 hours ago

Persiapan Asrama Haji Surabaya Capai 89 Persen Sambut Jemaah Haji, Fokus Perbaiki Ratusan Kamar yang Rusak

Jelang penyelenggaraan haji 2026, persiapan untuk transit jemaah di Asrama Haji Surabaya terus dilakukan. Dengan…

2 hours ago

Hujan Deras dan Angin Kencang Landa Surabaya, Pohon dan Reklame Tumbang

Cuaca ekstrem melanda Kota Surabaya sejak siang hingga malam hari ini, Selasa (3/2). Hujan deras…

3 hours ago

Diguyur Hujan Deras, Sejumlah Ruas Jalan di Perkampungan dan Jalan Raya di Surabaya Terendam Banjir

Hujan deras dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah Surabaya sejak Selasa (3/2) sore hingga malam…

4 hours ago

This website uses cookies.