Categories: Surabaya

Kripik Sayur Asem Non-Goreng dari Mahasiswa UC Surabaya yang Rendah Kalori

METROTODAY, SURABAYA – Kuliner khas Indonesia, sayur asem, kini diubah menjadi camilan kripik unik oleh mahasiswa Prodi Teknologi Pangan Universitas Ciputra (UC) Surabaya. Inovasi ini berupa kripik sayur asem yang tidak digoreng namun tetap renyah, bahkan cocok untuk mereka yang sedang diet.

Ide pembuatan kripik ini muncul dari pengamatan terhadap kecintaan masyarakat Indonesia akan camilan kripik.

“Kita berpikir untuk membuat cemilan berbentuk kripik dengan bahan dasar sayuran dan mengangkat kuliner budaya Indonesia. Rasanya ada gurih, seger, dan asem jadi semua rasa ada di sayur asem. Kami juga menambahkan oat choco supaya lebih mengenyangkan,” ungkap Melvina Tjian, mahasiswi Prodi Teknologi Pangan UC Surabaya, Rabu (10/12).

Kelebihan produk ini terletak pada proses pembuatan yang tidak menggunakan minyak hanya melalui merebus, mengolah, dan mengeringkan. “Ini sudah diuji di lab. Untuk kesehatan juga baik karena kandungan alaminya low kalori, jadi cocok untuk diet misalnya,” jelas Melvina.

Proses pembuatannya meliputi merebus sayuran seperti labu siam, kubis, jagung hingga matang, mencampurkannya dengan oat choco dan menghaluskan dengan blender, menambahkan asem Jawa dan gula merah, memanaskan hingga mengental, mencetak, serta mengeringkan. “Produk ini dipasarkan melalui media sosial dengan legalitas yang sudah ada dan sedang dalam proses paten,” tuturnya.

Ketua Program Study Teknologi Pangan UC Surabaya, Mitha Ayu Pratama Handojo, menjelaskan bahwa produk ini pernah ikut lomba inovasi internasional dan membawa UC masuk ke 10 besar.

“Kepikiran kita ingin bawa makanan khas Indonesia, terpikir sayur asem. Yang membuat spesial adalah kita menggunakan sayur yang semua dihaluskan dan kaya serat tanpa ada yang terbuang,” katanya.

Menurut Mitha, tantangan terbesar adalah menghasilkan kripik renyah melalui pengeringan. “Kalau di goreng sangat mudah, tapi pengeringan lebih sulit. Butuh waktu sehari untuk mengeringkan agar tidak keras namun tetap renyah akhirnya kita pakai metode open drying untuk tetap kering dan bisa dinikmati,” pungkasnya. (ahm)

Jay Wijayanto

Recent Posts

Makam Sesepuh Desa Tambaksumur; Makam Tengah sebagai Titik Sentral (3)

Luas Makam Islam Desa Tambaksumur sekitar 1 hektare. Di sudut timur laut, terdapat bangunan calon…

1 hour ago

Berumrah di Tengah Perang di Timur Tengah (12): Kereta Cepat “Whoosh” yang Menyambung Dua Kota Suci

Ada satu hal menarik yang saya rasakan setiap kali menaiki kereta cepat. Bukan hanya karena…

2 hours ago

Waspadai Penyakit Menular saat Musim Mudik, Balai Karantina Pantau Bandara dan Pelabuhan

Mudik Lebaran merupakan tradisi masyarakat Indonesia untuk pulang ke kampung halaman setiap tahunnya. Namun, masyarakat…

21 hours ago

Temukan Tempat Hiburan Nekat Buka selama Ramadan, Satpol PP Surabaya Beri Sanksi

Satpol PP Kota Surabaya menemukan sejumlah tempat hiburan umum yang tetap beroperasi selama bulan Ramadan,…

23 hours ago

Berumrah di Tengah Perang di Timur Tengah (11): Berlebaran di Tanah Haram

Lebaran di Tanah Haram jauh lebih sederhana, bahkan sangat sederhana. Bukan karena efek efisiensi lantaran…

1 day ago

Mobil Innova Zenix Ditumpangi Dua Lansia Terguling Tabrak Tiang Lampu dan Pohon

Sebuah mobil Toyota Innova Zenix mengalami kecelakaan tunggal setelah menabrak tiang lampu penerangan jalan dan…

1 day ago

This website uses cookies.