Sistem kendaraan otonom unmanned aerial vehicle (UAV) berjenis hexacopter karya Prof Dr Ir Ari Santoso DEA. (Foto: istimewa)
METROTODAY, SURABAYA – Sebagai negara kepulauan, Indonesia menghadapi tantangan tersendiri dalam menjaga konektivitas, keselamatan, serta pengawasan wilayah antarpulau. Menjawab hal tersebut, Prof. Dr. Ir. Ari Santoso, DEA., dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menggagas pengembangan sistem kendaraan otonom yang bekerja secara terintegrasi, guna menjawab kebutuhan konektivitas, keselamatan pelayaran, inspeksi bawah laut, pemantauan sumber daya kelautan, hingga mitigasi bencana.
Solusi yang ditawarkannya berupa tiga pilar teknologi kendaraan otonom yang beroperasi di wilayah berbeda: kawasan bawah laut menggunakan Autonomous Underwater Vehicle (AUV), permukaan laut melalui Unmanned Surface Vehicle (USV), serta wilayah udara memanfaatkan Unmanned Aerial Vehicle (UAV). Ketiganya dirancang untuk saling melengkapi dalam satu sistem menyeluruh.
“Ketiganya merupakan integrasi dari berbagai disiplin ilmu, antara lain mekanika, hidrodinamika, aerodinamika, elektronika, sensor, dan kecerdasan buatan,” jelas Prof. Ari, Sabtu (8/8).
Prof Dr Ir Ari Santoso DEA sedang memasang peralatan sistem kendaraan otonom atau autonomous underwater vehicle (AUV) yang dirancangnya. (Foto: istimewa)Sistem yang dikembangkan menerapkan pola kerja siklus tertutup atau closed-loop system, yang terdiri dari enam komponen utama saling terhubung yakni pengukuran data sensor, pemahaman kondisi lingkungan, penentuan arah dan lintasan, pengendalian kestabilan, pelaksanaan perintah gerak, hingga antisipasi gangguan lingkungan. Keenamnya bekerja berulang dan berkesinambungan agar keputusan serta pergerakan yang diambil tetap aman, tepat, dan optimal.
Masing-masing wahana memiliki fungsi khusus. AUV bertugas melakukan inspeksi di bawah laut, seperti memeriksa kondisi kabel, pipa, hingga terumbu karang. USV berperan sebagai wahana pengamat dan jembatan komunikasi di permukaan laut, sedangkan UAV memperluas jangkauan pengamatan dari udara.
“Laut Indonesia bukan hanya batas wilayah, melainkan ruang ekonomi, energi, data, inovasi, sejarah, dan kedaulatan,” tegas Dosen Departemen Teknik Elektro ITS tersebut.
Teknologi ini dinilai memiliki nilai strategis untuk memperkuat kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) di wilayah perairan sekaligus mendukung pencapaian Tujuan Pembangunanangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya poin ke-9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur serta poin ke-14 terkait Pelestarian Ekosistem Laut. (ahm)
Perubahan suhu mendadak saat mandi dan kebiasaan mengejan berlebihan ternyata dapat memicu pecahnya pembuluh darah…
Peningkatan kasus diabetes pada anak di Indonesia disebabkan oleh semakin tingginya angka diagnosis dini serta…
Seorang mahasiswi Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) salah satu universitas di Surabaya melahirkan secara mandiri di…
DPP Partai Demokrat menetapkan dan mengesahkan H. Nur Muhyidin (Kepala BPOKK DPD) sebagai Ketua Panitia…
Ribuan warga yang tergabung dalam Aliansi Umat Peduli Generasi (AUPG) Jawa Timur menggelar aksi damai…
Satu warga mengalami luka berat akibat disabet senjata tajam jenis mandau di kawasan Jalan Cepu,…
This website uses cookies.