Categories: Nasional

Eks Rekan Witan Sulaeman di Slovakia Jadi Pahlawan Tanjung Verde, Dianugerahi Player of The Match

METROTODAY, ATLANTA – Nama Vozinha mendadak menjadi perbincangan dunia setelah tampil luar biasa saat Tanjung Verde menahan imbang raksasa Spanyol 0-0 pada laga Grup H Piala Dunia 2026 di Stadion Mercedes-Benz, Atlanta, Georgia, AS.

Namun di balik aksi heroiknya tersebut, terdapat kisah panjang seorang pemain yang harus menunggu usia 40 tahun untuk merasakan panggung terbesar sepak bola dunia.

Menariknya, kiper veteran itu juga memiliki keterkaitan dengan Witan Sulaeman, karena gelandang timnas Indonesia itu pernah satu tim dengan Vozinha di klub Liga Slovakia, AS Trencin.

Vozinha yang bernama lengkap Josimar Jose Evora Dias lahir di Kota Mindelo, Tanjung Verde, pada 3 Juni 1986.

Tidak seperti banyak pesepak bola top dunia yang sudah masuk akademi elite sejak usia belia, perjalanan karier Vozinha berlangsung jauh lebih berat.

Ia menghabiskan masa awal kariernya dengan bermain di liga amatir atau biasa disebut “tarkam” di Tanjung Verde. Setelah itu, ia merantau ke Angola, Moldova, Siprus, hingga Slovakia.

Bahkan menurut The Times, Vozinha baru benar-benar menjadi penjaga gawang profesional pada usia 25 tahun. Sebuah usia yang bagi sebagian besar pemain justru menjadi masa puncak karier.

Banyak orang menganggap memulai karier di usia 25 tahun adalah sebuah keterlambatan yang fatal. Namun bagi Vozinha, tidak ada kata terlambat yang membuatnya menyerah mengejar mimpi bermain di level tertinggi.

Perjalanan Vozinha membawanya ke AS Trencin pada 2022. Pada tahun yang sama, klub Slovakia tersebut merekrut bintang muda Indonesia, Witan Sulaeman yang saat itu sedang moncer moncernya.

Keduanya tercatat berada dalam ruang ganti yang sama pada musim 2022/2023. Dikabarkan oleh Goal Indonesia, walau saat itu Witan hanya bertahan beberapa bulan sebelum kembali ke Indonesia, keduanya sempat menjalani latihan bersama di klub yang sama.

Selepas periode di Slovakia, Vozinha melanjutkan berkelana bersama Chaves di Portugal. Di saat banyak pemain seusianya memilih pensiun, ia justru terus menjadi andalan di tim nasional Tanjung Verde. Pengalaman panjang tersebut membawanya sebagai senior sekaligus penjaga gawang nomor wahid negaranya.

Semua pengalaman getir itu seakan terbayar lunas saat menghadapi Spanyol di Mercedes-Benz Stadium. Menghadapi jawara Eropa yang dihuni pemain-pemain bintang seperti Pedri, Ferran Torres dan Lamine Yamal, Vozinha tampil tanpa rasa takut.

Ia mencatat tujuh penyelamatan penting dan menjadi alasan utama Tanjung Verde mampu mengamankan hasil imbang bersejarah. Bahkan, ia pun terpilih oleh FIFA sebagai player of the match dalam pertandingan itu.

Bukan hanya itu, ia juga menjadi kiper tertua yang mampu mencatat cleansheet pada laga debutnya di turnamen besar tersebut.

Dilansir dari Talksport, saat ini jumlah pengikut Instagram Vozinha melonjak hingga lebih dari dua juta followers usai laga melawan Spanyol. Padahal sebelum pertandingan dimulai, pengikut Instagramnya hanya berkisar 3 ribu.

Kisah Vozinha semakin menyentuh setelah pertandingan usai. Kiper berusia 40 tahun itu menangis saat diwawancarai media. Ia mengungkapkan bahwa ibunya tidak dapat hadir di stadion karena kendala biaya dan proses visa menuju Amerika Serikat.

Ia juga mengenang kakek dan neneknya, sosok yang membesarkannya sejak kecil dan selalu mendukung mimpinya menjadi pesepak bola profesional.

“Saya bekerja keras sepanjang hidup saya untuk momen ini,” ucap Vozinha usai pertandingan.

Tanjung Verde merupakan negara kepulauan kecil di lepas pantai barat Afrika berbatasan dengan Senegal dan Mauritania dengan populasi hanya sekitar 530 ribu jiwa.

Jumlah tersebut bahkan jauh lebih sedikit dibanding populasi kota-kota di Eropa. Tanjung Verde juga menempati posisi sebagai negara ketiga dengan populasi terkecil dalam sejarah turnamen Piala Dunia.

Di tengah keterbatasan itu, Vozinha menjadi simbol mimpi sebuah bangsa kecil yang mampu berdiri sejajar dengan para raksasa sepak bola dunia. (ezaar/mt)

Jay Wijayanto

Recent Posts

Dua Kali Ditikam Selandia Baru, Iran Tegas Menolak Mati!

Pertandingan Iran melawan Selandia Baru pada laga Grup G Piala Dunia 2026 menghadirkan salah satu…

2 hours ago

Saudi Back to Back Kejutkan Amerika Selatan di Laga Pembuka, Giliran Uruguay Dibikin Kecewa

Uruguay gagal memanfaatkan status unggulan saat menghadapi Arab Saudi pada laga perdana Grup H Piala…

5 hours ago

Spanyol Ditahan Imbang Tanjung Verde, Oyarzabal Ukir Rekor Sial di Piala Dunia 2026

Timnas) Spanyol gagal memulai langkahnya di Piala Dunia 2026 dengan mulus setelah hanya mampu bermain…

7 hours ago

Cedera Akhiri Karir Wataru Endo di Timnas Jepang, Kapten Samurai Biru Pilih Pensiun

Kapten Samurai Blue, Wataru Endo, resmi mengumumkan pensiun dari sepak bola internasional setelah terpaksa mundur…

8 hours ago

Hijrah dari Subsidi Energi ke Subsidi Mobilitas

TAHUN Baru Islam, 1 Muharram 1448 H, mengingatkan kita pada makna besar hijrah. Hijrah bukan sekadar…

9 hours ago

Keliling Kota Piala Dunia 2026 #2: Gillette Stadium Boston, Kudapan Lobster Roll dan Menjajal Freedom Trail

Bagi suporter yang berencana menghadiri Piala Dunia 2026, Boston menjadi salah satu kota yang layak…

12 hours ago

This website uses cookies.