Umrah adalah perjalanan spiritual ke tanah suci yang dirindukan umat muslim sedunia. Namun, berumrah di tengah situasi konflik perang di Timur Tengah saat ini tentu perjalanan yang tidak mudah. Berikut catatan Dr. Machsus, ST. MT., Wakil Rektor II ITS dan anggota Komunitas S36A, yang sedang berumrah ke tanah Suci.
———–
BAGI banyak orang Indonesia, perjalanan ke Tanah Haram sering tidak hanya meninggalkan kenangan spiritual, tetapi juga melahirkan mimpi.
Ketika menyaksikan jutaan manusia dari berbagai bangsa berkumpul di sekitar Ka’bah dengan pengelolaan kota yang sangat kompleks, dengan transportasi yang terhubung, layanan kesehatan yang siaga, hotel-hotel yang terintegrasi, hingga manajemen kerumunan yang presisi.
Kita mulai membayangkan sesuatu yang lebih luas dari sekadar perjalanan ibadah pribadi.
Dari sanalah lahir sebuah gagasan sederhana tetapi penuh harapan, yakni bagaimana jika suatu hari Indonesia memiliki ekosistem pelayanan jamaah yang lebih terpadu, baik di Tanah Haram maupun di tanah air sendiri.
Sebuah gagasan yang oleh banyak orang mulai disebut dengan nama yang terdengar akrab di telinga sebagai Kampung Haji dan Umrah Nusantara.
Mimpi di Tanah Haram
Ada satu perasaan yang sering muncul ketika seseorang selesai menjalankan thawaf di sekitar Ka’bah. Tubuh terasa lelah karena berjalan berkali-kali mengelilingi rumah suci itu, tetapi hati justru terasa ringan, seperti baru saja melepaskan beban yang lama dipikul.
Di Masjidil Haram, manusia datang membawa kisah hidupnya masing-masing. Ada yang membawa doa tentang kesehatan, tentang keluarga, tentang masa depan anak-anaknya, atau tentang jalan hidup yang terasa buntu.
Di tengah lautan manusia yang terus bergerak, setiap orang seperti menemukan ruang sunyi untuk berbicara dengan Tuhannya.
Namun di tengah pengalaman spiritual yang sangat pribadi itu, sering muncul refleksi yang lebih luas. Ketika melihat jutaan manusia dari berbagai bangsa berkumpul di satu tempat dengan pengelolaan yang begitu rapi, kita mulai menyadari bahwa ibadah haji dan umrah bukan hanya peristiwa spiritual individual.
Ia juga merupakan fenomena peradaban sebagai pertemuan besar umat manusia yang membutuhkan sistem transportasi global, manajemen kerumunan manusia, serta tata kelola kota yang sangat kompleks.
Dari pengalaman itu pula kadang lahir mimpi-mimpi kecil yang sederhana, yakni bagaimana jika jamaah dari Indonesia memiliki sistem pelayanan yang lebih terintegrasi, lebih nyaman, dan lebih bermartabat.
Di tengah refleksi yang serius itu, ada juga kenangan-kenangan kecil yang membuat kita tersenyum.
Suatu malam setelah thawaf, seorang jamaah Indonesia berkata kepada temannya dengan wajah sangat serius.
“Pak, tadi saya niatnya mau khusyuk. Tapi baru dua putaran sudah kehilangan rombongan.”
Temannya pun menjawab dengan santai.
“Tidak apa-apa Pak. Di sini yang penting bukan kehilangan rombongan, tapi jangan sampai kehilangan arah.”
Kalimat sederhana itu terasa seperti nasihat spiritual yang dalam. Meskipun diucapkan sambil setengah panik mencari bendera rombongan.
Negeri Lautan Jamaah
Indonesia memiliki hubungan yang sangat istimewa dengan Tanah Haram. Di pelataran Masjidil Haram, bahasa Indonesia hampir selalu terdengar di antara berbagai bahasa dunia.
Jamaah dari Aceh, Jawa, Sulawesi, Sumatera, hingga Nusa Tenggara, berjalan berdampingan mengelilingi Ka’bah. Tak terkecuali bahasa Madura yang cukup populer.
Kadang kita tersenyum sendiri ketika mendengar percakapan khas jamaah Indonesia di tengah keramaian global.
Seorang bapak pernah berkata kepada istrinya sambil terengah-engah di putaran thawaf. “Bu, kita ini thawaf atau ikut lomba lari?”
Sang istri pun menjawab dengan tenang. “Yang penting jangan berhenti Pak. Kalau berhenti nanti kita disalip jamaah Turki.”
Di tempat lain, seorang jamaah muda terlihat sibuk memotret Ka’bah dengan ponselnya. Seorang bapak yang lebih tua menegurnya dengan lembut,
“Nak, foto boleh… tapi jangan lupa berdoa juga. Nanti yang masuk galeri banyak, yang masuk hati sedikit.”
Percakapan-percakapan kecil seperti itu membuat suasana terasa akrab. Seolah-olah di tengah jutaan manusia dari berbagai bangsa, kita masih menemukan potongan kecil kehidupan kampung halaman.
Menabung Rindu ke Baitullah
Bagi banyak orang Indonesia, perjalanan haji dan umrah adalah perjalanan hidup yang panjang.
Ada jamaah yang menabung sejak anak-anaknya masih kecil. Ada yang menunggu antrean haji hingga dua puluh atau bahkan tiga puluh tahun. Ada pula yang berkata dengan sederhana,
“Yang penting daftar dulu. Berangkatnya urusan Allah.”
Dalam perjalanan itu sering muncul cerita-cerita kecil yang sangat manusiawi. Seorang jamaah pernah berkata kepada temannya di hotel Makkah.
“Saya sudah menabung untuk haji sejak sepuluh tahun lalu.”
Temannya menjawab sambil tersenyum.
“Saya juga menabung sepuluh tahun. Bedanya, saya menabung niat dulu.”
Ada juga seorang bapak yang berkata dengan nada bercanda.
“Kalau daftar haji di Indonesia itu seperti menanam pohon. Kita tanam sekarang, yang panen mungkin anak cucu.”
Meskipun disampaikan dengan humor, kalimat itu menyimpan kebenaran yang sangat dalam tentang kesabaran.
Antara Harapan dan Kenyataan
Di balik perjalanan spiritual yang indah itu, penyelenggaraan haji dan umrah sebenarnya adalah sistem yang sangat kompleks.
Hotel harus disiapkan. Transportasi harus diatur. Konsumsi harus tersedia tepat waktu. Petugas harus memastikan jamaah tidak tersesat di tengah kerumunan manusia. Dalam situasi seperti itu, humor kecil sering menjadi penyelamat suasana.
Suatu pagi di lobi hotel, seorang petugas rombongan berkata dengan penuh semangat,
“Bapak Ibu, jangan sampai terpisah dari rombongan!”
Seorang jamaah menjawab dengan santai.
“Pak, kalau di sini yang penting bukan terpisah dari rombongan. Yang penting jangan sampai terpisah dari sandal.”
Semua yang pernah ke Masjidil Haram pasti memahami kalimat itu. Kehilangan sandal di tempat yang dipenuhi jutaan manusia kadang terasa lebih dramatis daripada kehilangan arah.
Ada juga jamaah yang berkata dengan wajah serius setelah selesai shalat di pelataran masjid.
“Saya tadi shalat di tempat yang sangat strategis.”
Temannya bertanya: “Dekat Ka’bah?”
Ia menjawab, “Bukan. Dekat rak sandal.”
Inspirasi Kota Suci
Makkah adalah kota yang terus berubah. Infrastruktur diperbaiki dari waktu ke waktu untuk melayani jutaan manusia.
Namun di balik sistem yang modern itu, selalu ada cerita-cerita kecil yang membuat pengalaman ibadah terasa lebih manusiawi.
Suatu malam di Masjidil Haram, seorang jamaah Indonesia terlihat sangat serius memandangi layar ponselnya.
Temannya bertanya, “Sedang apa Pak?”
Ia menjawab dengan sangat serius.
“Saya sedang menghitung. Tadi thawafnya sudah enam putaran atau baru lima?”
Temannya pun menjawab dengan bijak.
“Kalau ragu, tambah satu saja Pak. Di sini tambah ibadah tidak pernah salah.”
Di tempat lain, seorang jamaah terlihat berjalan melawan arus thawaf karena ingin mendekati temannya.
Seorang petugas berkata dengan ramah.
“Pak, thawafnya ikut arus ya.”
Ia menjawab dengan polos.
“Maaf Pak, saya tadi ketinggalan putaran.”
Dari Mimpi ke Kebijakan
Dalam beberapa tahun terakhir, gagasan membangun kawasan pelayanan jamaah Indonesia di Makkah mulai bergerak menuju realisasi.
Proyek ini sering disebut sebagai Kampung Haji Indonesia. Sebuah kawasan terpadu yang dirancang untuk mendukung kebutuhan jamaah dari Indonesia, mulai dari pemondokan, layanan kesehatan, hingga berbagai sistem pendukung ibadah.
Bagi banyak jamaah Indonesia, gagasan ini terasa sangat menarik. Bayangkan sebuah kawasan di Makkah yang terasa seperti “kampung kecil Indonesia”.
Seorang jamaah pernah berkata dengan nada bercanda.
“Kalau nanti ada Kampung Haji Indonesia, semoga ada juga warung kopi.”
Temannya menimpali.
“Dan jangan lupa sambalnya.”
Humor kecil itu sebenarnya menyimpan kerinduan sederhana: di negeri yang jauh, manusia tetap mencari rasa rumah.
Dari “Omon-omon” ke Kepastian
Di Indonesia, masyarakat sering memiliki cara khas untuk menilai sebuah proyek besar.
Jika rencana itu terdengar sangat indah tetapi belum jelas realisasinya, orang biasanya akan berkata dengan santai,
“Ah… itu paling cuma omon-omon.”
Karena itu wajar jika sebagian jamaah memandang rencana Kampung Haji Indonesia dengan sedikit humor.
Seorang jamaah pernah berkata sambil tertawa.
“Kalau nanti Kampung Haji benar-benar ada, jangan sampai ada RT dan RW juga.”
Candaan seperti itu mungkin terdengar ringan, tetapi sebenarnya menyimpan harapan yang serius. Masyarakat tentu berharap agar gagasan besar seperti ini benar-benar diwujudkan, bukan sekadar menjadi wacana yang terus berulang tanpa arah yang jelas.
Jangan sampai Kampung Haji Indonesia hanya berhenti sebagai proyek wacana, yang sesekali muncul dalam pidato, seminar, atau forum kebijakan, tetapi kemudian menghilang ketika momentum politik berlalu.
Lebih ironis lagi jika mimpi besar pelayanan jamaah ini hanya dijadikan bahan narasi menjelang agenda politik nasional berikutnya, sekadar menjadi bahan kampanye menuju agenda 2029, tanpa kepastian langkah nyata menuju realisasinya.
Bagi jutaan calon jamaah yang menabung puluhan tahun untuk berangkat ke Tanah Suci, gagasan ini bukan sekadar proyek pembangunan. Ia adalah simbol harapan agar pelayanan ibadah dapat dikelola dengan lebih baik, lebih manusiawi, dan lebih bermartabat.
Karena itu yang dibutuhkan bukan hanya mimpi besar, tetapi juga peta jalan yang jelas, yakni bagaimana kawasan itu dibangun, siapa yang mengelola, dan kapan jamaah Indonesia benar-benar dapat merasakan manfaatnya.
Dengan kata lain, masyarakat tidak sedang menunggu janji baru. Mereka sedang menunggu bukti.
Sebab mimpi tentang Kampung Haji dan Umrah Nusantara terlalu besar, terlalu mulia, dan terlalu penting bagi jutaan umat, untuk sekadar dijadikan bahan pidato menuju agenda 2029.
Merajut Kampung Haji Nusantara
Jika Indonesia memiliki kawasan pelayanan jamaah di Makkah, langkah berikutnya adalah membangun ekosistem pembinaan jamaah di dalam negeri.
Bayangkan sebuah Kampung Haji Nusantara di Indonesia. Sebuah kawasan tempat calon jamaah belajar manasik, memahami perjalanan ibadah, dan mempersiapkan diri secara spiritual sebelum berangkat ke Tanah Suci.
Di sana mungkin ada simulasi thawaf, simulasi sa’i, bahkan simulasi berjalan di tengah keramaian jamaah.
Seorang jamaah mungkin akan berkata setelah latihan manasik,
“Kalau latihan saja sudah capek begini, berarti nanti di Makkah harus lebih sabar.”
Pelatih manasik menjawab dengan tenang. “Tenang Pak. Di Makkah capeknya berbeda. Capek tapi bahagia.”
Doa Masa Depan
Di pelataran Ka’bah, manusia biasanya datang dengan doa-doa yang sangat pribadi.
Namun ada kalanya doa-doa itu berkembang menjadi sesuatu yang lebih luas. Ketika melihat jutaan manusia dari berbagai bangsa berkumpul di satu tempat, kita mulai menyadari bahwa ibadah ini bukan hanya tentang diri kita sendiri.
Ia juga tentang bagaimana umat manusia dapat saling melayani.
Barangkali mimpi tentang Kampung Haji dan Umrah Nusantara juga lahir dari refleksi seperti itu.
Sebuah mimpi sederhana, agar jamaah dari negeri ini dapat beribadah dengan lebih nyaman, lebih aman, dan lebih bermartabat.
Jika suatu hari kawasan itu benar-benar berdiri, baik di Makkah maupun di tanah air, mungkin kita akan mengingat bahwa gagasan itu tidak lahir dari ruang rapat yang dingin.
Ia lahir dari sesuatu yang jauh lebih sunyi, dari doa-doa yang dipanjatkan di antara lautan manusia yang mengelilingi Ka’bah.
Dan mungkin juga dari percakapan kecil seorang jamaah yang berkata sambil tersenyum setelah selesai thawaf, “Capek memang… tapi rasanya ingin mengulang lagi.” (*/bersambung)


