Umrah adalah perjalanan spiritual ke tanah suci yang dirindukan umat muslim sedunia. Namun, berumrah di tengah situasi konflik perang di Timur Tengah saat ini tentu perjalanan yang tidak mudah. Berikut catatan Dr. Machsus, ST. MT., Wakil Rektor II ITS dan anggota Komunitas S36A, yang sedang berumrah ke tanah Suci.
———–
RAMADHAN di Tanah Haram sering kali dipahami hanya sebagai pengalaman spiritual yang sangat personal. Namun bagi siapa pun yang tinggal beberapa hari di Makkah pada bulan suci ini, ada satu hal yang segera terasa: kota ini bukan hanya ruang ibadah, tetapi juga sebuah ekosistem kehidupan yang bergerak sangat dinamis.
Di antara lantunan doa, lautan manusia yang thawaf, dan air mata yang jatuh di pelataran Ka’bah, terdapat pula denyut ekonomi yang bekerja tanpa henti.
Di kota ini, spiritualitas dan aktivitas ekonomi tidak saling meniadakan, justru saling menghidupkan.
Kota Ibadah Berdenyut
Ramadhan di Makkah memiliki suasana yang sulit digambarkan dengan kata-kata. Kota ini seperti berubah menjadi sebuah jantung besar yang berdetak untuk dunia Islam.
Manusia datang dari berbagai penjuru bumi membawa harapan yang sama. Beribadah lebih dekat kepada Tuhan, mencari keberkahan Ramadhan, dan jika beruntung menemukan malam yang lebih baik dari seribu bulan.
Namun, siapa pun yang tinggal beberapa hari di Tanah Haram akan segera menyadari satu hal yang menarik. Di balik suasana spiritual yang sangat kuat, kota ini juga memiliki denyut ekonomi yang luar biasa hidup. Makkah pada bulan Ramadhan bukan hanya pusat ibadah, tetapi juga ruang ekonomi global yang bergerak tanpa henti.
Spiritualitas dan ekonomi di kota ini tidak saling bertentangan. Keduanya justru berjalan berdampingan, seperti dua arus yang mengalir dalam satu sungai yang sama.
Lautan Jamaah, Arus Rezeki
Setiap hari, pelataran Masjidil Haram dipenuhi manusia dari berbagai bangsa. Bahasa yang terdengar di sekitar Ka’bah seperti peta dunia yang hidup, di antaranya Arab, Urdu, Turki, Indonesia, Melayu, Inggris, Afrika, hingga bahasa-bahasa yang bahkan sulit dikenali, termasuk bahasa Madura juga. It’s just a joke.
Kehadiran jutaan jamaah itu secara alami menciptakan arus ekonomi yang sangat besar. Setiap perjalanan menuju Makkah memerlukan tiket pesawat, transportasi darat, hotel, makanan, hingga berbagai layanan penunjang ibadah.
Di sekitar Masjidil Haram, hotel-hotel menjulang tinggi seperti barisan penjaga kota suci. Pusat perbelanjaan, restoran, toko kurma, toko sajadah, hingga kios kecil yang menjual tasbih dan parfum memenuhi jalan-jalan di sekitarnya.
Semua itu bergerak mengikuti satu irama yang sama, yakni irama ibadah.
Penerbangan Umrah Tetap Berjalan Meski Konflik Timur Tengah Memanas, Ada Penyesuaian Rute
Kadang-kadang irama itu juga menghadirkan cerita kecil yang lucu. Seorang jamaah Indonesia pernah berkata sambil tertawa setelah keluar dari pusat perbelanjaan dekat masjid.
“Saya niatnya cuma beli satu kotak kurma. Tapi entah bagaimana sekarang malah bawa tiga kantong belanja.”
Temannya menjawab santai, “Di Makkah itu bukan kita yang mencari oleh-oleh, tapi oleh-oleh yang mencari kita.”
Bagi banyak pelaku usaha lokal, Ramadhan adalah musim rezeki yang paling dinanti. Kota ini seolah tidak pernah benar-benar tidur. Setelah tarawih selesai, manusia tetap bergerak. Setelah qiyamul lail, toko-toko tetap buka. Bahkan menjelang subuh, suasana masih terasa hidup.
Tiket Penerbangan Meroket
Fenomena menarik mulai terasa bahkan sebelum seseorang tiba di Makkah. Banyak calon jamaah umrah sudah merasakannya sejak mereka masih berada di tanah air, ketika harga tiket pesawat tiba-tiba melompat jauh dari biasanya.
Harga tiketnya meroket, bukan “merudal”, seperti saling serang rudal antara Iran dengan Israel dan Amerika Serikat.
Menjelang sepuluh malam terakhir Ramadhan, permintaan penerbangan menuju Jeddah dan Madinah meningkat sangat tajam. Banyak orang ingin berada di Tanah Haram pada fase yang diyakini sebagai puncak spiritual Ramadhan.
Akibatnya, harga tiket yang pada bulan biasa masih terasa wajar dapat berubah drastis dalam waktu singkat. Ada calon jamaah yang sudah memantau harga tiket sejak enam bulan sebelumnya, karena mereka tahu bahwa semakin dekat dengan Ramadhan, semakin sulit menemukan harga yang bersahabat.
Sebaliknya, ada pula yang baru mencari tiket mendekati waktu keberangkatan. Mereka sering kali terkejut melihat angka yang muncul di layar ponsel. Ada yang sampai bercanda, “Ini tiket ke Makkah atau tiket keliling dunia?”
Namun yang menarik, setelah kalimat itu diucapkan, biasanya orang tersebut tetap membeli tiketnya juga. Seolah ada kesepakatan diam-diam antara hati dan dompet: untuk perjalanan spiritual tertentu, logika ekonomi kadang harus mengalah.
Hotel Menjadi Emas
Fenomena yang lebih terasa lagi terjadi pada tarif hotel di Makkah. Di sekitar Masjidil Haram, lokasi hotel menjadi sesuatu yang sangat berharga. Semakin dekat jaraknya dengan masjid, semakin tinggi pula tarifnya.
Pada sepuluh malam terakhir Ramadhan, hotel-hotel yang biasanya sudah mahal terasa seperti berubah menjadi “emas”. Tarif kamar bisa melonjak berkali-kali lipat dibandingkan bulan biasa.
Bagi jamaah, kedekatan dengan Masjidil Haram memiliki nilai yang sangat besar. Setiap menit menjadi sangat berharga, karena mereka ingin menghabiskan sebanyak mungkin waktu untuk thawaf, membaca Al-Qur’an, atau sekadar duduk memandang Ka’bah.
Karena itulah banyak jamaah yang rela membayar lebih mahal demi hotel yang jaraknya hanya beberapa menit berjalan kaki dari masjid.
Namun tidak semua jamaah memiliki kesempatan itu. Ada pula yang harus menginap di hotel yang lebih jauh. Di antara jamaah Indonesia bahkan sering muncul candaan ringan, “Hotel jauh itu sebenarnya bukan masalah. Itu hanya cara Allah menambah pahala lewat langkah kaki.”
Yang membuat orang tertawa adalah kalimat berikutnya: “Masalahnya kalau pulangnya naik bus yang muternya setengah kota.”
Paket I’tikaf Diburu
Sepuluh malam terakhir Ramadhan memiliki daya tarik spiritual yang sangat kuat. Banyak umat Islam berharap menemukan Lailatul Qadar, malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan.
Karena itu, paket umrah i’tikaf menjadi salah satu paket perjalanan yang paling diburu setiap tahun.
Banyak biro perjalanan membuka pendaftaran jauh-jauh hari. Kursi paket i’tikaf sering kali habis lebih cepat dibandingkan paket umrah pada periode lainnya.
Ada jamaah yang sudah merencanakan perjalanan ini sejak setahun sebelumnya. Mereka menyesuaikan jadwal pekerjaan, menabung biaya perjalanan, bahkan menyiapkan kondisi fisik agar bisa menjalani malam-malam panjang di Masjidil Haram.
Sebagian bahkan sudah menyiapkan strategi pribadi. Ada yang berkata setengah serius, “Kalau nanti ketiduran saat i’tikaf, tolong bangunkan. Jangan sampai saya datang jauh-jauh ke Makkah hanya untuk tidur di masjid.”
Temannya menjawab sambil tersenyum, “Tenang saja. Di Masjidil Haram itu sulit tidur nyenyak. Setiap beberapa menit pasti ada orang lewat sambil bilang ‘excuse me’.”
Pasar Hidup Sepanjang Malam
Jika seseorang berjalan di sekitar Masjidil Haram pada malam hari, ia akan menemukan pemandangan yang menarik. Setelah selesai tarawih atau thawaf sunnah, banyak jamaah berjalan santai di sekitar kawasan masjid.
Toko-toko masih terbuka. Aroma makanan dari berbagai negara tercium di udara malam. Ada yang membeli roti hangat, ada yang mencari sup panas, ada pula yang sekadar membeli teh atau kopi.
Banyak jamaah yang akhirnya berbelanja tanpa direncanakan. Awalnya hanya ingin berjalan sebentar setelah thawaf, tetapi tiba-tiba tangan sudah memegang sekotak kurma, tas kecil, atau sajadah baru.
Fenomena “koper tambahan” bahkan menjadi cerita klasik bagi jamaah umrah. Banyak orang datang ke Makkah hanya membawa satu koper, tetapi pulang dengan dua atau bahkan tiga koper.
Seorang jamaah pernah berkata dengan wajah setengah serius, “Saya tidak tahu kenapa koper saya tiba-tiba jadi dua.” Temannya menjawab cepat, “Itu bukan koper tambahan. Itu oleh-oleh yang memaksa ikut pulang.”
Ekonomi Kebaikan di Pelataran
Namun denyut ekonomi di Tanah Haram tidak selalu berbentuk transaksi jual beli.
Di pelataran Masjidil Haram, setiap sore menjelang magrib muncul pemandangan yang sangat khas. Para relawan membentangkan plastik panjang di lantai marmer. Di atasnya diletakkan kurma, roti, yoghurt, dan air zamzam.
Makanan itu dibagikan secara gratis kepada siapa pun yang duduk di sana.
Menjelang adzan magrib, jamaah dari berbagai negara duduk berdampingan tanpa mengenal status sosial. Ada profesor, ada buruh, ada pedagang, ada mahasiswa, ada orang kaya, ada pula orang yang mungkin datang dengan tabungan terakhirnya.
Kadang muncul momen kecil yang menghangatkan hati. Ada orang yang baru duduk sebentar langsung diberi kurma oleh orang di sebelahnya, meskipun mereka tidak saling mengenal bahasa.
Ketika adzan berkumandang, semua orang berbuka bersama.
Pada momen seperti itu, ekonomi berubah menjadi ekonomi kebaikan. Yang bekerja bukan lagi logika pasar, tetapi logika berbagi.
Kota untuk Jutaan Jiwa
Melihat lautan manusia di Masjidil Haram sering kali membuat seseorang bertanya: bagaimana kota ini bisa menampung begitu banyak orang setiap hari?
Di balik pengalaman spiritual itu terdapat sistem pengelolaan kota yang sangat kompleks. Infrastruktur transportasi, kebersihan, keamanan, dan pengaturan keramaian bekerja sepanjang waktu.
Petugas kebersihan terus membersihkan lantai marmer. Petugas keamanan mengatur aliran manusia. Sistem transportasi membawa jamaah dari berbagai penjuru kota menuju masjid.
Semua itu berjalan hampir tanpa henti, seolah mengikuti ritme ibadah yang berlangsung dua puluh empat jam.
Doa dan Denyut Ekonomi
Pada akhirnya, Ramadhan di Tanah Haram memberikan sebuah pelajaran yang menarik. Kota ini menunjukkan bahwa spiritualitas tidak selalu harus dipisahkan dari kehidupan ekonomi.
Di Makkah, doa dan perdagangan berjalan berdampingan. Hotel, pesawat, restoran, dan toko oleh-oleh menjadi bagian dari ekosistem yang mendukung perjalanan spiritual jutaan manusia.
Namun di tengah semua aktivitas ekonomi itu, ada satu hal yang tetap menjadi pusatnya, yakni Ka’bah.
Manusia datang dengan berbagai alasan, berbagai kemampuan ekonomi, dan berbagai kisah hidup. Tetapi ketika mereka berdiri menghadap Ka’bah, semua perbedaan itu seolah mengecil.
Pada saat itu yang tersisa hanya satu hal, yakni seorang hamba yang sedang berdoa di hadapan Tuhannya.
Dan mungkin di situlah rahasia sebenarnya dari Tanah Haram. Di kota ini, dunia dan akhirat seperti bertemu di satu titik yang sama, yakni di tengah lautan manusia yang terus bergerak mengelilingi rumah suci itu. (*/bersambung)


