Categories: Nasional

Berumrah di Tengah Perang (8): Lautan Manusia di Sekitar Ka’bah dan Solusi Digital Pengatur Kepadatan Jemaah

Umrah adalah perjalanan spiritual ke tanah suci yang dirindukan umat muslim sedunia. Namun, berumrah di tengah situasi konflik perang di Timur Tengah saat ini tentu perjalanan yang tidak mudah. Berikut catatan Dr. Machsus, ST. MT., Wakil Rektor II ITS dan anggota Komunitas S36A, yang sedang berumrah ke tanah Suci. 

———–-

PADA sepuluh malam terakhir Ramadhan, Masjidil Haram seperti menjadi jantung yang berdetak bagi umat Islam di seluruh dunia. Dari berbagai penjuru bumi, manusia datang membawa doa-doa yang mungkin telah lama mereka simpan dalam diam.

Malam tidak pernah benar-benar turun di halaman Ka’bah. Ketika kota-kota lain di dunia mulai terlelap, pelataran masjid justru semakin hidup. Cahaya lampu memantul di lantai marmer yang luas, sementara manusia terus mengalir melalui pintu-pintu besar seperti sungai yang tak pernah berhenti.

Sebagian berjalan cepat karena ingin segera thawaf. Sebagian duduk membaca Al-Qur’an. Sebagian lagi hanya berdiri lama memandang Ka’bah, seolah sedang berbicara dengan langit.

Di tempat ini manusia datang dengan kisah hidupnya masing-masing. Ada yang membawa beban kesedihan, ada yang memikul harapan baru, ada pula yang datang hanya untuk satu hal sederhana: ingin lebih dekat dengan Tuhan. Dan entah bagaimana, di tengah lautan manusia itu, setiap orang tetap menemukan ruang sunyinya sendiri.

Lingkaran Manusia Mengelilingi Ka’bah

Dari lantai atas Masjidil Haram, pemandangan di pelataran thawaf tampak seperti lukisan yang hidup.

Manusia bergerak mengelilingi Ka’bah dalam lingkaran yang tidak pernah putus. Gelombang manusia itu bergerak perlahan seperti orbit yang mengitari pusatnya. Dari jauh, pemandangan itu seperti galaksi yang sedang berputar, dengan Ka’bah sebagai matahari spiritual yang menjadi pusat gravitasinya.

Di tengah pusaran itu, Ka’bah berdiri tenang. Ia tidak bergerak sedikit pun. Namun justru menjadi pusat dari semua gerakan.

Kadang saya membayangkan, jika para ahli fisika melihat pemandangan ini, mereka mungkin akan menemukan satu teori baru tentang gravitasi batin: bahwa hati manusia ternyata memiliki kecenderungan alami untuk berputar menuju satu titik yang sama.

Dan di tengah lautan manusia itu, setiap orang membawa doa yang berbeda. Selain itu, juga membawa titip doa dari para sanak saudara, handai taulan dan sahabat yang mengetahui keberangkatan kita. Bahkan ada pula amanah doa yang datang melalui pesan singkat di ponsel.

Kadang seseorang berhenti sejenak di sela thawaf, membuka layar telepon, lalu berbisik kecil membaca pesan: “Titip doa ya… jangan lupa…”

Begitulah. Di sekitar Ka’bah, manusia tidak hanya membawa doanya sendiri. Ia juga membawa doa dari seluruh kampung halaman.

Masjid Luas Mendadak Sempit

Masjidil Haram adalah masjid terbesar di dunia. Namun pada sepuluh malam terakhir Ramadhan, luasnya yang luar biasa itu sering terasa menyempit.

Lorong-lorong penuh. Tangga dipadati manusia. Bahkan dekat eskalator orang duduk bersila menunggu waktu shalat.

Bagi jamaah yang baru pertama kali datang, situasi ini sering menghadirkan rasa takjub sekaligus senyum kecil. Masjid sebesar ini ternyata masih bisa terasa penuh.

Seolah seluruh dunia sedang berkumpul di satu halaman yang sama.

Kadang jamaah Indonesia yang baru tiba akan berbisik kepada temannya dengan nada setengah tak percaya:

“Masjid segini besar kok masih penuh juga ya…”

Lalu yang lain menjawab santai:

“Lha wong ini undangannya langsung dari Allah, Pak…”

Kalimat sederhana itu sering membuat semua orang tersenyum.

Petualangan Mencari Ruang Sajadah

Di Masjidil Haram, salah satu pengalaman yang paling sering diceritakan jamaah adalah mencari tempat duduk. Kedengarannya sederhana. Namun pada malam-malam padat Ramadhan, kegiatan ini sering berubah menjadi petualangan kecil.

Banyak orang berjalan berkeliling cukup lama hanya untuk menemukan ruang kecil bagi satu sajadah. Kadang seseorang harus melewati beberapa lorong, berpindah lantai, bahkan berputar mengelilingi sebagian area masjid.

Situasinya kadang terasa seperti mencari parkir di pusat perbelanjaan saat musim liburan.

Bagi jamaah dari Surabaya, situasi itu sering mengingatkan pada momen mencari parkir di Tunjungan Plaza saat akhir pekan.

Bedanya, di sini yang dicari bukan tempat mobil. Yang dicari hanyalah sebidang kecil lantai marmer untuk membentangkan sajadah.

Begitu seseorang terlihat bersiap berdiri, beberapa orang lain langsung bergerak mendekat.

Gerakannya kadang begitu halus dan cepat sehingga jamaah Indonesia sering bercanda:

“Ini bukan rebutan kursi, tapi rebutan pahala…”

Namun anehnya, di tengah situasi seperti itu jarang ada wajah yang benar-benar marah. Yang ada justru senyum-senyum kecil dan kesabaran yang terus diuji.

Satu Tempat Dijaga Bersama

Di tengah kepadatan itu, muncul pula fenomena sosial yang menarik. Jamaah yang datang berkelompok sering membentuk “tim penjaga tempat”.

Ketika satu orang pergi mengambil air zamzam atau berwudhu, yang lain tetap duduk menjaga sajadah.

Lantaran jika tidak dijaga, tempat itu hampir pasti akan ditempati orang lain.

Bagi jamaah Indonesia, strategi ini sering dilakukan dengan sistem yang cukup disiplin.

“Sampeyan wudhu dulu, nanti saya yang jaga…”

“Sebentar ya, saya ambil zamzam…”

Kadang sistemnya bahkan terasa seperti piket ronda.

Namun justru di situlah terasa kehangatan kebersamaan. Sebidang kecil lantai masjid bisa menjadi ruang persahabatan yang sangat hangat.

Langkah Panjang Tanpa Disadari

Di Masjidil Haram, langkah kaki sering berjalan jauh tanpa disadari. Dari satu pintu ke pintu lain. Dari lantai bawah ke lantai atas hingga ke rooftop.

Langkah kaki terus mengikuti arus manusia. Awalnya semua terasa ringan.

Namun setelah beberapa waktu, betis mulai terasa kencang dan telapak kaki mulai pegal.

Banyak jamaah baru menyadari hal itu ketika melihat jumlah langkah di ponsel mereka.

Ada yang terkejut melihat angka puluhan ribu langkah.

“Lho kok kayak jalan dari Surabaya ke Sidoarjo…”

Padahal semua itu terjadi hanya di dalam satu kawasan masjid.

Namun justru di situlah terasa satu pelajaran kecil. Bahwa perjalanan menuju Tuhan sering kali lebih panjang dari yang kita bayangkan. Tetapi ketika hati dipenuhi niat ibadah, kaki seolah diberi tenaga tambahan yang tidak kita mengerti dari mana datangnya.

Kehangatan Sesama Jamaah

Di tengah kepadatan itu, banyak kisah kecil yang menghangatkan hati.

Ada jamaah yang tertidur sambil duduk menunggu shalat setelah berjalan jauh. Ada pula orang yang tiba-tiba menyodorkan kurma kepada orang di sebelahnya tanpa mengenal siapa dia.

Kadang seseorang menerima segelas air zamzam dari tangan orang asing yang tersenyum.

Tidak ada perkenalan panjang. Tidak ada percakapan rumit.

Cukup satu kalimat sederhana:

“Bismillah…”

Di tempat ini, senyum menjadi bahasa yang paling mudah dipahami oleh semua orang.

Air Mata di Depan Ka’bah

Ada satu momen yang sering menjadi cerita tak terlupakan bagi banyak jamaah: saat pertama kali melihat Ka’bah.

Beberapa orang tiba-tiba terdiam.

Beberapa lainnya langsung meneteskan air mata.

Seolah semua perjalanan panjang menuju Tanah Haram bermuara pada satu detik yang sangat sunyi.

Ada yang mencoba menahan tangis, tetapi gagal. Ada pula yang berdiri lama tanpa bergerak.

Dalam detik-detik seperti itu, manusia seperti kembali menjadi dirinya yang paling sederhana: seorang hamba yang berdiri di hadapan Tuhannya.

Arus Manusia Terarah

Mengatur pergerakan manusia dalam jumlah yang sangat besar tentu bukan pekerjaan sederhana.

Di berbagai titik Masjidil Haram dipasang barrier untuk mengatur arus jamaah. Ada pula rambu petunjuk, rambu peringatan, dan rambu larangan. Petugas keamanan tampak berdiri di banyak sudut.

Beberapa jalur dibuat satu arah. Kadang seseorang harus memutar cukup jauh untuk mencapai pintu yang diinginkan.

Awalnya mungkin terasa merepotkan. Namun setelah melihat lautan manusia di sekitar Ka’bah, kita segera memahami bahwa pengaturan itu justru menjaga semuanya tetap tertib.

Solusi Teknologi Digital Pengatur Jamaah

Dengan jumlah jamaah yang mencapai jutaan orang setiap hari, pengelolaan keramaian di Masjidil Haram menjadi tantangan yang tidak sederhana.

Dalam konteks ini, perkembangan teknologi digital sebenarnya membuka peluang baru untuk membantu pengaturan arus manusia agar lebih tertib, aman, dan nyaman.

Pengalaman penggunaan aplikasi Nusuk untuk mengatur kunjungan jamaah ke Raudhah di Madinah menunjukkan bahwa teknologi dapat berperan efektif dalam mengurangi kesemrawutan.

Melalui sistem reservasi waktu yang terjadwal, alur kunjungan menjadi jauh lebih teratur dan jamaah dapat beribadah dengan lebih tenang.

Bayangkan jika konsep serupa diterapkan untuk membantu pengelolaan kepadatan di Masjidil Haram.

Sebuah aplikasi digital dapat menampilkan peta kepadatan jamaah secara real-time, menyerupai sistem navigasi lalu lintas pada aplikasi peta digital yang biasa digunakan dalam perjalanan sehari-hari.

Area yang masih relatif longgar dapat ditandai dengan warna hijau, area yang mulai padat berwarna kuning, sementara area yang sangat padat diberi tanda merah.

Dengan informasi visual semacam ini, jamaah dapat memilih lokasi yang lebih nyaman untuk beribadah tanpa harus terjebak di titik kerumunan yang terlalu padat.

Selain itu, aplikasi tersebut juga dapat memberikan rekomendasi pintu masuk (gate) yang relatif lebih longgar. Informasi ini akan membantu distribusi jamaah menjadi lebih merata sehingga kepadatan ekstrem di titik-titik tertentu dapat dikurangi.

Secara teknis, gagasan ini bukan sesuatu yang mustahil. Data visa jamaah sebenarnya sudah memungkinkan otoritas memperkirakan jumlah orang yang berada di kawasan Masjidil Haram pada waktu tertentu.

Dengan dukungan teknologi sensor, kamera analitik, dan pemrosesan data besar (big data analytics), pengelolaan arus jamaah dapat dilakukan secara jauh lebih cerdas.

Teknologi tentu tidak dimaksudkan untuk menggantikan spiritualitas. Justru sebaliknya, ia dapat menjadi alat bantu untuk menjaga keselamatan jamaah dan meningkatkan kenyamanan ibadah bagi jutaan manusia yang datang dari seluruh penjuru dunia.

Dalam kerumunan sebesar itu, teknologi bisa menjadi cara modern untuk memastikan bahwa setiap orang tetap memiliki ruang yang aman untuk mendekat kepada Tuhan.

Lingkaran Menyatukan Dunia

Pada akhirnya, Ka’bah tetap menjadi pusat dari semua gerakan itu.

Manusia datang dari berbagai penjuru dunia untuk berjalan dalam satu lingkaran yang sama.

Bahasa mereka berbeda. Warna kulit mereka berbeda. Kisah hidup mereka berbeda.

Namun dalam lingkaran itu, semua perbedaan seolah melebur.

Di tengah lautan manusia itu, setiap orang sebenarnya sedang menempuh perjalanan yang sangat pribadi. Sebuah perjalanan sunyi antara dirinya dan Tuhan.

Dan mungkin justru di tengah keramaian yang luar biasa itu, seseorang menemukan kesunyian yang paling dalam di dalam hatinya.

Wallāhu a‘lam bish-shawāb. (*/bersambung)

Jay Wijayanto

Recent Posts

Para Kiai dan DPAC PKB Tagih Janji Bupati Subandi Agar Kembali Pimpin PKB Sidoarjo

Menjelang Pilkada pada 2024, Bupati Sidoarjo Subandi menjelaskan bahwa dirinya izin ke pimpinan DPW untuk…

8 hours ago

Empat Oknum TNI Jadi Tersangka Kasus Penyiraman Air Keras ke Aktivis KontraS

Penanganan cepat ditunjukkan aparat militer dalam mengusut kasus penyiraman air keras terhadap aktivis Komisi untuk…

11 hours ago

Polisi Ungkap Dua Inisial Terduga Pelaku Penyiraman Air Keras ke Aktivis Kontras

Polda Metro Jaya ungkap dua inisial terduga pelaku kasus penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator…

12 hours ago

Pemprov Jatim Fasilitasi 2.230 Pemudik Gratis dari Jakarta, Sediakan 58 Bus

Sebanyak 58 armada bus mengangkut pemudik dari Jakarta ke berbagai kota dan kabupaten di Jawa…

12 hours ago

Jejak Ibrahim Al-Jaelani; Tokoh Besar yang Menjaga Keamanan Jawa Bagian Timur (3)

Bungurasih adalah salah satu dari 17 desa di Kecamatan Waru, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Desa…

15 hours ago

Pendatang Tanpa Pekerjaan Jelas akan Dicegah Masuk Surabaya saat Arus Balik Lebaran

Untuk mengantisipasi potensi meningkatnya urbanisasi pasca momentum mudik dan arus balik Lebaran 2026, Pemkot Surabaya…

18 hours ago

This website uses cookies.