16 March 2026, 6:26 AM WIB

Berumrah di Tengah Perang di Timur Tengah (6): Mengapa Ramadhan Selalu Memanggil ke Tanah Haram?

spot_img

Umrah adalah perjalanan spiritual ke tanah suci yang dirindukan umat muslim sedunia. Namun, berumrah di tengah situasi konflik perang di Timur Tengah saat ini tentu perjalanan yang tidak mudah. Berikut catatan Dr. Machsus, ST. MT., Wakil Rektor II ITS dan anggota Komunitas S36A, yang sedang berumrah ke tanah Suci. 

———–-

SETIAP Ramadhan, sebuah arus besar manusia bergerak menuju ke satu titik di bumi yakni Makkah. Dari Asia, Afrika, Eropa, hingga Amerika, jutaan umat Islam menempuh perjalanan panjang hanya untuk berada beberapa hari atau beberapa pekan di sekitar Ka’bah.

Mereka datang dengan koper sederhana, tiket yang mahal, dan kesediaan menghadapi satu hal yang pasti: kepadatan luar biasa.

Secara rasional, pilihan ini tampak tidak sepenuhnya logis. Umrah di bulan Ramadhan bukan hanya lebih mahal, tetapi juga jauh lebih padat. Tawaf harus dilakukan di tengah lautan manusia, sementara shalat sering berarti berjalan jauh mencari ruang kosong di antara jutaan jamaah.

Namun setiap tahun fenomena itu justru berulang kembali. Ramadhan selalu memanggil manusia ke Tanah Haram. Seolah ada magnet spiritual yang bekerja sunyi di kedalaman hati manusia, menarik mereka kembali ke satu titik yang sama.

Rasionalitas Spiritual

Bagi banyak umat Islam, Ramadhan bukan sekadar bulan ibadah, tetapi momentum spiritual yang diyakini memiliki keutamaan luar biasa. Amal yang dilakukan pada bulan ini dipercaya bernilai berlipat, sementara ibadah di Masjidil Haram diyakini memiliki keutamaan yang jauh lebih besar dibandingkan tempat lain. Keyakinan inilah yang melahirkan apa yang bisa disebut sebagai rasionalitas spiritual.

Dalam cara berpikir ini, perjalanan ke Makkah pada bulan Ramadhan menjadi sesuatu yang terasa sangat masuk akal. Ketika waktu yang paling suci bertemu dengan ruang ibadah yang paling sakral, kesempatan itu terasa terlalu berharga untuk dilewatkan. Di sinilah logika spiritual bekerja, melampaui kalkulasi perjalanan biasa.

Migrasi Spiritual

Ramadan menghadirkan fenomena yang menakjubkan dalam skala global. Makkah berubah menjadi pusat migrasi spiritual tahunan yang menampung gelombang manusia dari seluruh penjuru dunia. Mereka datang dengan bahasa, budaya, dan latar belakang yang sangat berbeda.

Di satu sudut masjid, seorang jamaah dari Turki membaca Al-Qur’an dengan suara lirih. Di sisi lain, sekelompok jamaah dari Afrika berbuka puasa dengan kurma dan air zamzam. Tidak jauh dari situ, jamaah dari Asia Tenggara duduk berdesakan menunggu waktu tarawih.

Semua perbedaan itu seakan melebur dalam satu orientasi yang sama. Jutaan manusia bergerak menuju satu arah: Ka’bah. Melihat pemandangan itu sering menimbulkan rasa takjub yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Fenomena Tak Tergantikan

Ramadhan di Masjidil Haram menghadirkan pengalaman yang hampir mustahil ditemukan di tempat lain di dunia. Setelah subuh, ribuan jamaah tetap duduk membaca Al-Qur’an dalam keheningan yang terasa begitu khidmat. Siang hari, manusia terus mengalir melakukan tawaf tanpa henti.

Menjelang maghrib, pemandangan lain yang menakjubkan muncul. Hamparan makanan berbuka puasa tiba-tiba memenuhi hampir setiap sudut masjid. Kurma, roti, air zamzam, dan makanan sederhana dibagikan kepada siapa saja yang duduk di saf yang sama.

Ketika adzan maghrib berkumandang, ribuan orang berbuka bersama dengan orang yang bahkan belum pernah mereka kenal sebelumnya. Kebersamaan spontan itu menghadirkan rasa hangat yang sulit ditemukan di ruang sosial lain. Masjidil Haram seperti tidak pernah benar-benar tidur sepanjang Ramadhan.

Paradoks Ramadhan

Semua keindahan itu justru hadir di tengah kepadatan yang luar biasa. Secara logika biasa, manusia cenderung menghindari tempat yang terlalu ramai. Namun di Tanah Haram pada bulan Ramadhan justru terjadi paradoks yang menarik.

Semakin padat suasananya, semakin banyak orang ingin datang. Di tengah jutaan manusia yang beribadah bersama, seseorang sering merasakan kesadaran yang sangat dalam bahwa dirinya hanyalah bagian kecil dari umat yang sangat besar.

Tidak ada perbedaan status sosial di sana. Tidak ada jarak antara kaya dan miskin. Semua bergerak dalam arah yang sama, menghadap Ka’bah.

Sekolah Kesabaran

Ramadhan di Tanah Haram juga menjadi semacam sekolah kesabaran yang hidup. Jamaah harus berjalan jauh mencari tempat shalat, menunggu ruang kosong untuk tawaf, atau berbagi ruang dengan jamaah lain dari berbagai negara. Semua itu menjadi bagian dari pengalaman ibadah.

Kadang kondisi itu terasa melelahkan. Kadang juga tidak nyaman. Namun justru di situlah banyak orang merasakan pelajaran spiritual yang sangat mendalam.

Ibadah tidak hanya tentang ritual yang khusyuk. Ia juga tentang kemampuan menahan diri, bersabar, dan menghargai orang lain di tengah keramaian.

Resonansi Indonesia

Rasa takjub yang lahir di Tanah Haram juga memiliki gema yang kuat di Indonesia. Di tengah berbagai berita tentang ekonomi, politik, dan pembangunan nasional, Ramadhan selalu menghadirkan ruang jeda bagi masyarakat untuk menata kembali orientasi hidupnya. Bulan ini seperti mengingatkan bahwa di balik hiruk-pikuk dunia, manusia tetap membutuhkan arah yang lebih sunyi.

Dalam beberapa waktu terakhir, ruang publik Indonesia juga dipenuhi diskusi tentang gagasan kampus berdampak. Perguruan tinggi didorong tidak hanya menghasilkan lulusan dan publikasi akademik, tetapi juga menghadirkan manfaat nyata bagi kehidupan masyarakat. Ramadhan sering menjadi momentum ketika semangat itu terasa lebih hidup.

Di banyak kampus, masjid kampus kembali menemukan denyutnya. Kajian ilmiah, diskusi keagamaan, buka puasa bersama mahasiswa, hingga kegiatan sosial berlangsung hampir setiap hari. Dalam ruang-ruang sederhana itu, mahasiswa, dosen, dan masyarakat duduk dalam satu saf yang sama, menghadirkan suasana kebersamaan yang mengingatkan pada kehidupan spiritual di Masjidil Haram.

Namun lebih jauh dari itu, Ramadhan juga mengingatkan kita pada sebuah mimpi tentang perguruan tinggi. Universitas semestinya tidak berhenti menjadi menara gading yang tinggi tetapi jauh dari kehidupan masyarakat. Ia perlu menjadi magnet intelektual yang dirujuk karena kekuatan pendidikan, kedalaman riset, dan kontribusinya bagi kemajuan bangsa.

Ketika karya ilmiah lahir dari kegelisahan terhadap persoalan masyarakat, ketika riset tidak berhenti di rak perpustakaan tetapi terhilirisasi menjadi solusi nyata, maka universitas benar-benar menjadi sumber pencerahan. Pendidikan tidak hanya melahirkan lulusan, tetapi juga menghasilkan gagasan yang memberi arah bagi perjalanan bangsa.

Dalam beberapa tahun terakhir, perguruan tinggi memang berlomba menghasilkan publikasi di jurnal internasional bereputasi, termasuk jurnal yang terindeks Scopus.

Namun tidak jarang, publikasi itu lebih berfungsi sebagai indikator administratif daripada sumber pengetahuan yang benar-benar hidup di tengah masyarakat. Artikel bertambah di pangkalan data internasional, tetapi gaungnya sering tidak terdengar di ruang-ruang kehidupan sosial.

Ilmu pengetahuan yang sejati seharusnya tidak berhenti pada angka indeks, peringkat jurnal, atau statistik sitasi. Ia semestinya menjelma menjadi gagasan yang memandu kebijakan, teknologi yang memecahkan persoalan, atau pemikiran yang memberi arah bagi masyarakat. Tanpa itu semua, ilmu hanya berpindah dari rak perpustakaan ke server digital.

Di situlah kehormatan akademik menemukan maknanya. Gelar profesor bukan sekadar simbol prestise institusional, melainkan amanah intelektual untuk melahirkan karya yang layak dijadikan rujukan. Universitas tidak cukup hanya kaya profesor secara kuantitatif, tetapi miskin karya yang hidup dan berdampak di tengah masyarakat.

Kerinduan Umat

Pada akhirnya, mungkin inilah alasan mengapa Ramadhan selalu memanggil manusia ke Tanah Haram. Bukan hanya karena pahala yang diyakini berlipat, tetapi karena di tempat itu manusia merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Di sekitar Ka’bah, manusia seperti kembali menemukan pusat orientasi hidupnya. Di tengah jutaan manusia yang bergerak dalam arah yang sama, muncul kesadaran tentang kebersamaan umat yang begitu luas.

Dan ketika perjalanan itu selesai, ketika pesawat kembali membawa jamaah pulang ke tanah air, yang mereka bawa bukan sekadar kenangan perjalanan. Mereka membawa sesuatu yang lebih sunyi: sebuah rasa rindu yang suatu hari mungkin akan memanggil mereka kembali ke Tanah Haram. (*/bersambung)

spot_img

Umrah adalah perjalanan spiritual ke tanah suci yang dirindukan umat muslim sedunia. Namun, berumrah di tengah situasi konflik perang di Timur Tengah saat ini tentu perjalanan yang tidak mudah. Berikut catatan Dr. Machsus, ST. MT., Wakil Rektor II ITS dan anggota Komunitas S36A, yang sedang berumrah ke tanah Suci. 

———–-

SETIAP Ramadhan, sebuah arus besar manusia bergerak menuju ke satu titik di bumi yakni Makkah. Dari Asia, Afrika, Eropa, hingga Amerika, jutaan umat Islam menempuh perjalanan panjang hanya untuk berada beberapa hari atau beberapa pekan di sekitar Ka’bah.

Mereka datang dengan koper sederhana, tiket yang mahal, dan kesediaan menghadapi satu hal yang pasti: kepadatan luar biasa.

Secara rasional, pilihan ini tampak tidak sepenuhnya logis. Umrah di bulan Ramadhan bukan hanya lebih mahal, tetapi juga jauh lebih padat. Tawaf harus dilakukan di tengah lautan manusia, sementara shalat sering berarti berjalan jauh mencari ruang kosong di antara jutaan jamaah.

Namun setiap tahun fenomena itu justru berulang kembali. Ramadhan selalu memanggil manusia ke Tanah Haram. Seolah ada magnet spiritual yang bekerja sunyi di kedalaman hati manusia, menarik mereka kembali ke satu titik yang sama.

Rasionalitas Spiritual

Bagi banyak umat Islam, Ramadhan bukan sekadar bulan ibadah, tetapi momentum spiritual yang diyakini memiliki keutamaan luar biasa. Amal yang dilakukan pada bulan ini dipercaya bernilai berlipat, sementara ibadah di Masjidil Haram diyakini memiliki keutamaan yang jauh lebih besar dibandingkan tempat lain. Keyakinan inilah yang melahirkan apa yang bisa disebut sebagai rasionalitas spiritual.

Dalam cara berpikir ini, perjalanan ke Makkah pada bulan Ramadhan menjadi sesuatu yang terasa sangat masuk akal. Ketika waktu yang paling suci bertemu dengan ruang ibadah yang paling sakral, kesempatan itu terasa terlalu berharga untuk dilewatkan. Di sinilah logika spiritual bekerja, melampaui kalkulasi perjalanan biasa.

Migrasi Spiritual

Ramadan menghadirkan fenomena yang menakjubkan dalam skala global. Makkah berubah menjadi pusat migrasi spiritual tahunan yang menampung gelombang manusia dari seluruh penjuru dunia. Mereka datang dengan bahasa, budaya, dan latar belakang yang sangat berbeda.

Di satu sudut masjid, seorang jamaah dari Turki membaca Al-Qur’an dengan suara lirih. Di sisi lain, sekelompok jamaah dari Afrika berbuka puasa dengan kurma dan air zamzam. Tidak jauh dari situ, jamaah dari Asia Tenggara duduk berdesakan menunggu waktu tarawih.

Semua perbedaan itu seakan melebur dalam satu orientasi yang sama. Jutaan manusia bergerak menuju satu arah: Ka’bah. Melihat pemandangan itu sering menimbulkan rasa takjub yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Fenomena Tak Tergantikan

Ramadhan di Masjidil Haram menghadirkan pengalaman yang hampir mustahil ditemukan di tempat lain di dunia. Setelah subuh, ribuan jamaah tetap duduk membaca Al-Qur’an dalam keheningan yang terasa begitu khidmat. Siang hari, manusia terus mengalir melakukan tawaf tanpa henti.

Menjelang maghrib, pemandangan lain yang menakjubkan muncul. Hamparan makanan berbuka puasa tiba-tiba memenuhi hampir setiap sudut masjid. Kurma, roti, air zamzam, dan makanan sederhana dibagikan kepada siapa saja yang duduk di saf yang sama.

Ketika adzan maghrib berkumandang, ribuan orang berbuka bersama dengan orang yang bahkan belum pernah mereka kenal sebelumnya. Kebersamaan spontan itu menghadirkan rasa hangat yang sulit ditemukan di ruang sosial lain. Masjidil Haram seperti tidak pernah benar-benar tidur sepanjang Ramadhan.

Paradoks Ramadhan

Semua keindahan itu justru hadir di tengah kepadatan yang luar biasa. Secara logika biasa, manusia cenderung menghindari tempat yang terlalu ramai. Namun di Tanah Haram pada bulan Ramadhan justru terjadi paradoks yang menarik.

Semakin padat suasananya, semakin banyak orang ingin datang. Di tengah jutaan manusia yang beribadah bersama, seseorang sering merasakan kesadaran yang sangat dalam bahwa dirinya hanyalah bagian kecil dari umat yang sangat besar.

Tidak ada perbedaan status sosial di sana. Tidak ada jarak antara kaya dan miskin. Semua bergerak dalam arah yang sama, menghadap Ka’bah.

Sekolah Kesabaran

Ramadhan di Tanah Haram juga menjadi semacam sekolah kesabaran yang hidup. Jamaah harus berjalan jauh mencari tempat shalat, menunggu ruang kosong untuk tawaf, atau berbagi ruang dengan jamaah lain dari berbagai negara. Semua itu menjadi bagian dari pengalaman ibadah.

Kadang kondisi itu terasa melelahkan. Kadang juga tidak nyaman. Namun justru di situlah banyak orang merasakan pelajaran spiritual yang sangat mendalam.

Ibadah tidak hanya tentang ritual yang khusyuk. Ia juga tentang kemampuan menahan diri, bersabar, dan menghargai orang lain di tengah keramaian.

Resonansi Indonesia

Rasa takjub yang lahir di Tanah Haram juga memiliki gema yang kuat di Indonesia. Di tengah berbagai berita tentang ekonomi, politik, dan pembangunan nasional, Ramadhan selalu menghadirkan ruang jeda bagi masyarakat untuk menata kembali orientasi hidupnya. Bulan ini seperti mengingatkan bahwa di balik hiruk-pikuk dunia, manusia tetap membutuhkan arah yang lebih sunyi.

Dalam beberapa waktu terakhir, ruang publik Indonesia juga dipenuhi diskusi tentang gagasan kampus berdampak. Perguruan tinggi didorong tidak hanya menghasilkan lulusan dan publikasi akademik, tetapi juga menghadirkan manfaat nyata bagi kehidupan masyarakat. Ramadhan sering menjadi momentum ketika semangat itu terasa lebih hidup.

Di banyak kampus, masjid kampus kembali menemukan denyutnya. Kajian ilmiah, diskusi keagamaan, buka puasa bersama mahasiswa, hingga kegiatan sosial berlangsung hampir setiap hari. Dalam ruang-ruang sederhana itu, mahasiswa, dosen, dan masyarakat duduk dalam satu saf yang sama, menghadirkan suasana kebersamaan yang mengingatkan pada kehidupan spiritual di Masjidil Haram.

Namun lebih jauh dari itu, Ramadhan juga mengingatkan kita pada sebuah mimpi tentang perguruan tinggi. Universitas semestinya tidak berhenti menjadi menara gading yang tinggi tetapi jauh dari kehidupan masyarakat. Ia perlu menjadi magnet intelektual yang dirujuk karena kekuatan pendidikan, kedalaman riset, dan kontribusinya bagi kemajuan bangsa.

Ketika karya ilmiah lahir dari kegelisahan terhadap persoalan masyarakat, ketika riset tidak berhenti di rak perpustakaan tetapi terhilirisasi menjadi solusi nyata, maka universitas benar-benar menjadi sumber pencerahan. Pendidikan tidak hanya melahirkan lulusan, tetapi juga menghasilkan gagasan yang memberi arah bagi perjalanan bangsa.

Dalam beberapa tahun terakhir, perguruan tinggi memang berlomba menghasilkan publikasi di jurnal internasional bereputasi, termasuk jurnal yang terindeks Scopus.

Namun tidak jarang, publikasi itu lebih berfungsi sebagai indikator administratif daripada sumber pengetahuan yang benar-benar hidup di tengah masyarakat. Artikel bertambah di pangkalan data internasional, tetapi gaungnya sering tidak terdengar di ruang-ruang kehidupan sosial.

Ilmu pengetahuan yang sejati seharusnya tidak berhenti pada angka indeks, peringkat jurnal, atau statistik sitasi. Ia semestinya menjelma menjadi gagasan yang memandu kebijakan, teknologi yang memecahkan persoalan, atau pemikiran yang memberi arah bagi masyarakat. Tanpa itu semua, ilmu hanya berpindah dari rak perpustakaan ke server digital.

Di situlah kehormatan akademik menemukan maknanya. Gelar profesor bukan sekadar simbol prestise institusional, melainkan amanah intelektual untuk melahirkan karya yang layak dijadikan rujukan. Universitas tidak cukup hanya kaya profesor secara kuantitatif, tetapi miskin karya yang hidup dan berdampak di tengah masyarakat.

Kerinduan Umat

Pada akhirnya, mungkin inilah alasan mengapa Ramadhan selalu memanggil manusia ke Tanah Haram. Bukan hanya karena pahala yang diyakini berlipat, tetapi karena di tempat itu manusia merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Di sekitar Ka’bah, manusia seperti kembali menemukan pusat orientasi hidupnya. Di tengah jutaan manusia yang bergerak dalam arah yang sama, muncul kesadaran tentang kebersamaan umat yang begitu luas.

Dan ketika perjalanan itu selesai, ketika pesawat kembali membawa jamaah pulang ke tanah air, yang mereka bawa bukan sekadar kenangan perjalanan. Mereka membawa sesuatu yang lebih sunyi: sebuah rasa rindu yang suatu hari mungkin akan memanggil mereka kembali ke Tanah Haram. (*/bersambung)

Artikel Terkait

Pilihan Editor

Pilihan Editor

Terpopuler

Artikel Terbaru

Artikel Terkait