Categories: Nasional

Berumrah di Tengah Perang di Timur Tengah (3): Perjalanan di Langit yang Bergolak

Umrah sebuah perjalanan ibadah ke tanah suci yang dirindukan umat muslim sedunia. Namun berumrah di tengah situasi konflik perang di Timur Tengah saat ini tentu perjalanan yang tidak mudah. Berikut catatan Dr. Machsus, ST. MT., Wakil Rektor II ITS dan anggota Komunitas S36A, yang sedang berumrah ke tanah Suci. 

———–

WAJAH dunia modern dihiasi mobilitas tanpa henti. Pesawat melintas benua, kapal menyeberangi samudra, dan manusia berpindah dari satu kota ke kota lain sebagai cerminan peradaban transportasi kekinian.

Dunia terus bergerak, seakan tak pernah berhenti. Namun di antara begitu banyak perjalanan itu, ada satu mobilitas yang berbeda: perjalanan menuju Tuhan. Salah satunya adalah perjalanan ibadah umrah.

Berumrah kali ini terasa agak berbeda. Langit Timur Tengah sedang bergolak. Berita tentang Iran, Israel, dan Amerika berseliweran di layar-layar ponsel. Rudal dan drone melintas di langit yang sama dengan jalur penerbangan sipil.

Ketegangan geopolitik kembali memanas setelah serangan militer Amerika dan Israel ke Iran yang memicu balasan di kawasan Timur Tengah.

Nama-nama besar kembali memenuhi percakapan dunia. Benjamin Netanyahu, Donald Trump, juga bayang-bayang revolusi Iran yang pernah dipantik oleh Ayatollah Khomeini.

Nama-nama itu seolah menjadi aktor-aktor utama dalam drama panjang sejarah Timur Tengah. Sebuah panggung tempat ideologi, kekuasaan, dan sejarah saling bertautan. Di tengah kegaduhan itu, kami justru melintas dari tanah air menuju tanah suci.

Gerbang Keberangkatan

Bandara menjadi ruang perjumpaan manusia dari berbagai penjuru dunia. Koper-koper didorong perlahan, paspor diperiksa, boarding pass dipindai. Sebuah koreografi modern yang mengatur mobilitas manusia lintas negara, tempat berbagai tujuan perjalanan bertemu dalam satu simpul global.

Namun bagi para jemaah, bandara bukan sekadar titik keberangkatan. Ia adalah ruang peralihan, dari kesibukan dunia menuju keheningan niat berharap ridha Ilahi.

Di balik antrean imigrasi dan suara pengumuman penerbangan, tersimpan kesadaran bahwa perjalanan ini berbeda dari perjalanan lainnya. Ia bukan sekadar perpindahan geografis, tetapi juga pergeseran batin menuju ruang yang lebih hening.

Dari bandara inilah langkah menuju tanah haram dimulai, membawa harapan agar perjalanan ini tidak hanya mengantarkan tubuh menuju Makkah, tetapi juga menggerakkan hati menuju kesadaran yang lebih jernih.

Langit dan Konflik

Dari jendela kabin, bumi tampak begitu damai. Laut membentang seperti sajadah biru, sementara awan menggulung lembut seperti kain ihram yang menutup dunia.

Dari ketinggian, batas-batas negara yang sering memicu pertikaian seakan lenyap dari pandangan. Tak tampak garis geopolitik yang kerap membuat manusia saling berkompetisi hingga berkonfrontasi.

Namun di bawah sana dunia sedang gaduh oleh konflik. Rudal melintas, strategi militer disusun, dan para pemimpin dunia saling mengukur kekuatan. Ketegangan antara Iran, Israel, dan Amerika kembali mengingatkan bahwa sejarah geopolitik Timur Tengah belum pernah benar-benar usai.

Di layar-layar berita, Netanyahu berbicara tentang keamanan Israel, Trump tentang ancaman Iran, sementara bayang-bayang revolusi yang diwariskan Khomeini masih membekas dalam wajah politik Iran hingga hari ini.

Sejarah terus bergerak, membawa manusia pada babak-babak konflik yang silih berganti. Di tengah semua itu, perjalanan umrah terasa seperti ironi yang indah. Ketika dunia sibuk memperebutkan wilayah, jutaan umat Islam justru bergerak menuju satu titik yang sama.

Ka’bah, Pusat Kesadaran

Ketika dunia sibuk memperebutkan wilayah, jutaan umat Islam justru bergerak menuju satu titik yang sama: Ka’bah. Bangunan sederhana berbentuk kubus itu telah menjadi pusat orientasi umat manusia selama ribuan tahun. Dari timur dan barat, dari utara dan selatan, manusia datang berbondong-bondong menuju satu titik koordinat yang sama.

Sebuah pusat yang tidak dijaga oleh rudal, melainkan oleh doa. Di sekelilingnya, manusia dari berbagai bangsa berdiri dalam kesetaraan yang paling murni, tanpa hierarki kekuasaan, tanpa simbol-simbol kebesaran dunia.

Tidak ada negara adidaya dan negara kecil. Tidak ada presiden atau perdana menteri. Tidak ada Netanyahu, tidak ada Trump, tidak ada revolusi Khomeini. Yang ada hanyalah manusia dengan dua lembar kain ihram dan satu harapan yang sama.

Makna spiritual dua lembar kain ihram itu mengingatkan bahwa manusia pada dasarnya tidak membawa apa-apa. Semua identitas duniawi larut dalam satu panggilan yang sederhana: “Labbaik Allahumma Labbaik.” Aku datang memenuhi panggilan-Mu. Di hadapan panggilan itu, segala gelar, kekuasaan, dan kebanggaan dunia seakan runtuh menjadi sunyi.

Makna Ihram

Barangkali di situlah makna ihram dalam perjalanan spiritual ini. Manusia boleh membangun teknologi paling canggih, menciptakan pesawat yang melintasi benua dalam hitungan jam, bahkan merancang rudal yang melintasi langit.

Namun perjalanan paling jauh tetaplah perjalanan menaklukkan ego dirinya sendiri. Perang sering lahir dari ego yang tak pernah selesai, sementara umrah justru mengajarkan sebaliknya, menundukkan diri dan kembali kepada kesadaran yang lebih jernih.

Perjalanan ini terasa seperti perjalanan pulang. Bukan sekadar pulang menuju tanah suci, tetapi pulang menuju kesadaran bahwa dunia hanyalah tempat transit. Di tengah langit yang bergolak dan konflik yang terus berlangsung di berbagai penjuru bumi, pesawat tetap melaju menuju tanah haram, membawa harapan yang sederhana namun dalam.

Harapan agar manusia kembali ingat. Agar dunia kembali tenang. Dan agar suatu hari langit yang bergolak itu kembali damai oleh doa-doa yang dipanjatkan dari hati para jemaah. Pada akhirnya, perjalanan menuju Ka’bah bukan sekadar perjalanan lintas negara, melainkan perjalanan pulang menuju kedamaian yang diridhai Allah SWT. (*/bersambung)

Jay Wijayanto

Recent Posts

Syaikh Makhdum Syarfin dari Tarik, Ulama Penghubung Kerajaan Majapahit dengan Nilai-Nilai Islam (2)

Desa Kedungbocok dan sosok Syaikh Makhdum Syarfin diperkirakan sebagai titik temu antara sejarah Islam dan…

5 hours ago

BMKG Prediksi Cuaca Ekstrem Hingga 10 Hari ke Depan, Lebaran Terancam Hujan Lebat

Dalam sepuluh hari ke depan hingga Lebaran, cuaca di Sidoarjo akan sama seperti sepuluh hari…

16 hours ago

Wow, Patut Jadi Percontohan, Desa-Desa di Jateng ini Bagikan THR kepada Warganya

Desa-desa ini patut menjadi percontohan bagi desa-desa yang lain. Termasuk desa di Sidoarjo. Sebab, pada…

21 hours ago

Inilah Siasat Pengembang Nakal, Taman Indah Tiba-tiba Jadi Ruko: Penghuni Harus Berani Kritis dan Menggugat

Pernahkah Anda tergiur dengan brosur perumahan? Brosur ciamik warna-warni. Menawarkan bangunan-bangunan indah siap beli. Fasilitas…

1 day ago

Skenario Haji 2026 di Tengah Konflik Timur Tengah: Ubah Rute Penerbangan hingga Penundaan

Pemerintah terus memonitor eskalasi keamanan di kawasan Timur Tengah dalam mempersiapkan penyelenggaraan ibadah haji 2026.…

1 day ago

Berumrah di Tengah Perang di Timur Tengah (2): Takdir, Mencari Jalan Sendiri

ADA perjalanan yang direncanakan dengan rapi, namun tetap saja berjalan di luar skenario manusia. Niat…

1 day ago

This website uses cookies.