Categories: Nasional

Di Tengah Bencana Banjir, Mahasiswi Aceh di Surabaya Khawatir Keluarga dan Takut Gagal Ujian

METROTODAY, SURABAYA – Bukan hanya banjir yang melanda kampung halamannya di Bireuen Aceh, Nayla Firzatullah Azmi juga menghadapi badai dalam diri saat menjalani ujian semester kali ini.

Mahasiswi ITS jurusan Biologi semester 3 ini harus berjuang menyeimbangkan perasaan cemas akan keluarga yang terjebak banjir 3 meter dan hilang kontak 10 hari, dengan kebutuhan untuk fokus agar tidak gagal ujian.

Saat teman-temannya sibuk mengerjakan soal, Nayla seringkali merasa pikiran terbang ke kejadian di Aceh. Kesedihan dan kekhawatiran itu tak hanya dirasakannya, tapi juga banyak mahasiswa perantauan di Surabaya yang keluarga mereka terdampak bencana di Sumatra dan Aceh.

“Saat itu ayah saya sedang menginap di mess tempatnya bekerja, yang lokasinya cukup jauh dari rumah kita di Bireuen. Dia bekerja sebagai petani di situ,” ujarnya, Selasa (9/12).

Tanpa peringatan, banjir melanda dan membuat Nayla kehilangan kontak selama lebih dari seminggu.

“10 hari saya nggak ada kabar sama sekali. Pikiran saya cuma putus asa, nggak tahu harus bertanya kemana, tapi di saat yang sama, ujian udah dekat dan saya belum sempat belajar banyak,” tuturnya.

Kabar selamat ayahnya yang tiba melalui WhatsApp kemarin sempat membuat hatinya lega, tapi kebahagiaannya segera pudar karena ayahnya tidak bisa dihubungi lagi.

“Hati saya langsung lega ketika melihat pesan ayah yang bilang dia selamat. Ayah bilang awalnya banjir cuma 2 meter, tapi pas dia naik ke atap, udah jadi 3 meter. Sekarang dia udah dievakuasi ke pengungsian. Setelah itu, ayah saya lagi-lagi tak terhubungi. Keluarga lain selamat tapi rumah kena banjir saya balik lagi khawatir dan sulit fokus,” jelasnya.

Beruntung, kampus turut berperan menjadi penyangga. ITS memberikan fasilitas khusus bagi mahasiswa korban bencana, mulai dari pendampingan psikolog hingga pembebasan UKT sementara. Hal ini menjadi motivasi bagi Nayla yang takut gagal ujian karena kurang fokus.

“Jujur, selama ujian saya bingung banget karena khawatir ayah. Tapi setelah dapat kabar selamat dan fasilitas psikolog dari kampus, saya mulai bisa fokus lagi. Kalau nggak ada bantuannya, mungkin saya udah putus asa dan takut nggak lulus,” pungkasnya. (ahm)

Jay Wijayanto

Recent Posts

Jalan di Tenggilis Mejoyo hingga Perak akan Ditinggikan, Pemkot Surabaya Target Kurangi Genangan

Pemkot Surabaya berencana melanjutkan peningkatan kualitas jalan di sejumlah titik yang berpotensi mengalami genangan saat…

1 hour ago

Modus Jual Sembako Murah, Puluhan Ibu Rumah Tangga di Surabaya Tertipu Hingga Setengah Miliar Rupiah

Puluhan ibu rumah tangga (emak-emak) di Surabaya menjadi korban dugaan penipuan jual beli sembako fiktif.…

2 hours ago

Jurnalis Surabaya dan Sidoarjo Belajar AI Bareng iSTTS

Puluhan jurnalis Surabaya dan Sidoarjo mengikuti Bootcamp Artificial Intelligence for Journalist di iSTTS. Belajar pemanfaatan…

3 hours ago

Doa Bersama 1.000 Anak Yatim untuk Sidoarjo yang Lebih Baik di Hari Jadi Ke-167

Pendopo Delta Wibawa terasa berbeda pada Minggu (1/2/2026) pagi. Dalam rangkaian peringatan Hari Jadi Ke-167…

3 hours ago

Persiapan Asrama Haji Surabaya Capai 89 Persen Sambut Jemaah Haji, Fokus Perbaiki Ratusan Kamar yang Rusak

Jelang penyelenggaraan haji 2026, persiapan untuk transit jemaah di Asrama Haji Surabaya terus dilakukan. Dengan…

4 hours ago

Hujan Deras dan Angin Kencang Landa Surabaya, Pohon dan Reklame Tumbang

Cuaca ekstrem melanda Kota Surabaya sejak siang hingga malam hari ini, Selasa (3/2). Hujan deras…

5 hours ago

This website uses cookies.