Categories: Lifestyle

Tren Gamis Bini Orang Viral di TikTok, Akankah Populer di Sidoarjo?

SIDOARJO, METROTODAY – Dunia fesyen muslim kembali diramaikan istilah unik: gamis bini orang. Tren ini sempat viral di TikTok dan Instagram, terutama di kalangan emak-emak muda hingga wanita usia 30–45 tahun.

Dari Jakarta hingga kota-kota penyangga, model gamis ini ramai diburu. Pertanyaannya, apakah tren gamis bini orang juga akan populer di Sidoarjo?

Istilah “gamis bini orang” sebenarnya bukan nama resmi merek. Itu hanya sebutan pasar untuk model gamis yang terkesan dewasa, elegan, kalem, dan tidak terlalu ramai motif. Potongannya longgar, warnanya cenderung kalem, dan desainnya minimalis.

Di Pasar Tanah Abang Jakarta—yang dikenal sebagai pusat grosir busana muslim—model ini dilaporkan laris. Pedagang menyebutnya sebagai gamis yang “anggun tapi tidak norak”. Pembelinya mayoritas perempuan menikah yang ingin tampil rapi tanpa terlihat terlalu mencolok.

Secara desain, gamis ini biasanya memiliki cutting A-line, bahan jatuh seperti ceruty babydoll, satin silk, atau crinkle premium. Detailnya sederhana: manset kancing, lipit kecil di bagian dada, dan aksen pita tipis di pinggang.

Tren gamis bini orang yang viral di TikTok. (Foto: TiKTok)

Pengamat fesyen lokal banyak menilai tren ini muncul karena pergeseran selera pasar. “Sekarang orang cenderung cari busana yang clean, modest, dan timeless. Bukan yang terlalu ramai,” ujar salah satu pelaku UMKM busana muslim di Jawa Timur.

Lalu bagaimana peluangnya di Sidoarjo?

Pasar Sidoarjo dikenal adaptif terhadap tren busana muslim, apalagi menjelang Ramadan dan Lebaran. Sentra-sentra PKL seperti di Taman Pinang, Gading Fajar, hingga butik-butik seperti Indah Bordir atau butik-butik di sepanjang Taman Pinang, biasanya cepat menangkap model viral dari media sosial.

Beberapa pedagang yang ditemui MetroToday mengaku mulai menerima permintaan dengan kata kunci “gamis bini orang”. Artinya, pencarian sudah masuk ke algoritma digital dan berpotensi naik menjelang musim belanja.

Apalagi dari sisi sisi karakter konsumen, perempuan Sidoarjo cenderung menyukai model yang nyaman dan sopan, terutama untuk kegiatan arisan, pengajian, hingga acara silaturahmi keluarga. Secara segmentasi, tren ini dinilai cocok.

Sejumlah warga lain yang ditemui media ini mengungkapkan bahwa istilah “bini orang” bagi sebagian orang dianggap sensitif atau bercanda berlebihan. (red/MT)

Jay Wijayanto

Recent Posts

Cegah Banjir saat Musim Hujan, Pemkab Sidoarjo Percepat Normalisasi Sungai dan Pembersihan Afvoer

Normalisasi sungai dan pembersihan afvoer di Kota Delta tidak hanya digeber saat musim hujan. Pemkab…

3 hours ago

Keliling Kota Piala Dunia #13: Guadalajara, Dari Birria Legendaris hingga Gemuruh Piala Dunia 2026

Guadalajara adalah jantung budaya negara tersebut. Kota kapital di negara bagian Jalisco ini dikenal sebagai…

5 hours ago

Viral di Medsos, Pemotor Nekat Lintasi Rel KA Sidotopo Surabaya, KAI Kecam Keras Sanksi Menanti

Aksi nekat pengendara sepeda motor yang melintas di atas jalur rel kereta api kawasan Sidotopo…

14 hours ago

Tanggul Lumpur Sidoarjo Bocor, DPR dan Pemkab Desak Penanganan Cepat

Luberan lumpur Sidoarjo kembali menjadi perhatian setelah tanggul di titik P10D mengalami kebocoran sejak Jumat…

14 hours ago

Kemenangan Inggris atas Norwegia Diselimuti Jejak Makam Raja Alfred Penumpas Viking

Sejarah terkadang bekerja dengan cara yang luar biasa misterius, seolah menolak disebut sebagai kebetulan belaka.…

15 hours ago

16 Anak dari Keluarga Siders Ohio Disekap Bertahun-tahun, Terungkap Lewat Penggeledahan Kasus

Publik Amerika Serikat tengah dikejutkan oleh satu kasus domestik paling mengerikan dan ekstrem sepanjang tahun…

15 hours ago

This website uses cookies.