Categories: Lifestyle

Kajian Fenomena Film Ipar adalah Maut: Refleksi Kebiasaan Konsumsi Konten Medsos di Tengah Masyarakat

METROTODAY, SURABAYA – Film Ipar adalah Maut menjadi satu dari banyak film Indonesia yang diangkat melalui kisah viral di media sosial. Hal ini adalah bukti bahwa audiens Indonesia menjadikan hal yang viral di media sosial sebagai faktor pemilihan tontonan mereka di bioskop.

Menurut pakar komunikasi dari Universitas Airlangga (Unair), Angga Prawadika, dengan viralnya suatu cerita di media sosial, hal ini akhirnya dimanfaatkan pula oleh industri film untuk mengantongi animo penonton.

“Para pembuat film mencari jalan yang termudah. Karena itu memastikan adanya animo masyarakat yang lebih bisa diprediksi daripada kemudian membuat film-film yang lebih risky dari sudut pandang materi,” ungkap Angga, Selasa (20/5).

Ia juga menyebut mengangkat film dari cerita viral pada dasarnya bukan sesuatu yang baru. Melainkan telah sering terjadi terutama pada film horor Indonesia.

“Mereka berupaya mendapat validitas dari kisah-kisah horor yang ada di keseharian itu. Kemudian mereka lihat juga wujudnya di dalam film,” imbuhnya.

Dalam hal ini, pengalaman personal audiens menjadi sangat penting untuk terlibat dalam jalan cerita sebuah film. Terutama cerita-cerita yang berlatar belakang tragedi.

Ini tercermin dari munculnya film-film dari kisah nyata yang mengandung musibah seperti kisah Vina, korban tabrak lari yang difilmkan.

Angga juga menyinggung satu sifat yang cenderung melekat pada masyarakat Indonesia, yaitu gemar membicarakan tragedi orang lain.

“Itu akhirnya menjadi gosip yang dikonsumsi bersama. Akhirnya ketika itu muncul di film itu ada semacam kesenangan,” paparnya.

Pola pembuatan film seperti ini suatu saat akan menemui titik jenuh oleh audiens Indonesia. Namun, sejatinya tidak akan pernah benar-benar hilang dari sinema Indonesia.

Menurut Angga, kini animo masyarakat terhadap sinema sangat berkembang. Animo ini yang sedikit banyak juga menentukan arah pasar pada industri film Indonesia.

Maka dari itu, Angga berharap agar literasi sinema masyarakat Indonesia turut meningkat. Hal ini bertujuan agar sinema Indonesia juga lebih berani menampilkan sesuatu yang berbeda.

“Saya berharap audiens Indonesia menyadari bahwa ada sesuatu yang lebih daripada ini. Nonton horor itu nggak cuma ini tok, nonton film soal cinta nggak cuma ini tok. Sehingga dapat menjadi pendorong film-film berkualitas yang punya sesuatu berbeda itu bisa lebih diterima di masyarakat,” pungkasnya. (*)

Jay Wijayanto

Recent Posts

Belum Ada Kepastian Lawan, Persebaya Siapkan Diri Menuju Piala Presiden dan Super League

Persebaya Surabaya mulai menyusun rangkaian persiapan matang menyongsong kompetisi mendatang. Tim berjuluk Bajul Ijo ini…

4 hours ago

Operasional Haji Selesai, Masih Ada 19 Orang yang Dirawat di RS Arab Saudi dan RS Haji Surabaya

Rangkaian operasional ibadah haji tahun 2026 secara resmi selesai. Meskipun seluruh jemaah sudah kembali ke…

4 hours ago

Cak Eri Kecam Ayah yang Hamili Anak Kandung di Surabaya, Minta Dihukum Maksimal

Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, mengecam keras tindakan keji yang dilakukan oleh seorang ayah yang…

4 hours ago

Momen Haru Penutupan Haji di Surabaya: Menhaj Irfan Yusuf Lepas Rompi, Teteskan Air Mata dan Sujud Syukur

Menteri Haji dan Umrah RI, Mochamad Irfan Yusuf, tak kuasa menahan haru hingga meneteskan air…

1 day ago

Benteng Alpen Tak Lagi Rapuh! Swiss Tendang Aljazair Pulang, Sejarah 88 Tahun Akhirnya Runtuh

Swiss akhirnya mematahkan kutukan panjang mereka di fase gugur Piala Dunia. Bertanding menghadapi Aljazair pada…

2 days ago

Warga Gebang Lor Surabaya Belum Terlayani PDAM, Pengeluaran Bertambah untuk Beli Air Bersih

Pesatnya perkembangan Kota Surabaya yang merupakan ibu kota Jawa Timur ternyata masih terdapat sejumlah warga…

2 days ago

This website uses cookies.