Categories: Fair Play

Pemain Kongo yang Lari, Suporter yang Pegal, Siapa Pria Setelan Jas yang Berdiri Membatu di Tribun Piala Dunia 2026 Ini?

METROTODAY, KINSHASA – Di panggung megah Piala Dunia 2026, sorot kamera internasional tidak hanya tertuju pada liukan magis para seniman lapangan hijau, melainkan juga pada tribun penonton. Sosok pria kurus yang mengenakan setelan jas necis perpaduan warna biru, merah, dan kuning mencolok lengkap dengan kacamata retro serta rambut belah samping khas era 1960-an mendadak mengguncang jagat maya.

Pria misterius itu dijuluki oleh publik sepak bola global sebagai “Lumumba Vea” atau Patung Bernyawa. Ia berdiri tegak membatu tanpa bergerak sedikit pun di tengah riuhnya suporter lain di dalam stadion.

Identitas asli sang pria tersebut adalah Michel Nkuka Mboladinga, seorang suporter militan The Leopards, julukan timnas Republik Demokratik (RD) Kongo.

Sejak tahun 2013, Mboladinga mendedikasikan dirinya untuk melakukan aksi teatrikal membeku sepanjang 90 menit pertandingan penuh dengan satu tangan kanan terangkat ke langit, persis meniru postur monumen pahlawan kemerdekaan sekaligus Perdana Menteri pertama RD Kongo yang tewas dibunuh secara tragis pada 1961, Patrice Lumumba.

Aksi radikalnya ini kembali viral di media sosial setelah dirinya berhasil menembus epidemi Ebola demi mendukung negaranya bertanding melawan Kolombia di Stadion Akron, Guadalajara, Meksiko, pada 23 Juni 2026, kemarin.

Di balik keteguhannya menahan pegal dan lelah berdiri berjam-jam tanpa berkedip, Mboladinga menyimpan misi spiritual demi menyuntikkan energi tak kasat mata bagi para pemain di lapangan.

Melalui wawancara eksklusifnya bersama The Wall Street Journal (TWSJ) di sela-sela turnamen, ia membeberkan alasan filosofis di balik aksi ekstremnya tersebut.

“Saya tetap berdiri membatu karena saya percaya tindakan ini mampu memberikan ketahanan emosional bagi tim kami. Sama seperti mendiang Patrice Lumumba yang rela mengorbankan nyawanya demi kedaulatan negara kami, ketahanan fisik saya ini hanyalah harga kecil yang harus saya bayar demi tim yang sangat saya cintai ini,” jelas Mboladinga dengan nada emosional.

Popularitasnya meledak saat Piala Afrika 2025. Foto dan video dirinya beredar luas di berbagai platform media sosial hingga diberitakan oleh media-media internasional. Setelah kembali ke Kinshasa, pemerintah RD Kongo memberikan penghargaan kepadanya berupa sebuah mobil jip sebagai bentuk apresiasi karena dinilai telah memperkenalkan identitas nasional Kongo ke dunia melalui sepak bola.

Bagi masyarakat Kongo, kehadiran “Lumumba Vea” di tribun penonton bukan sekadar pemanis laga, melainkan representasi sakral atas kedaulatan, martabat, dan kebebasan nasional yang melampaui batas lapangan sepak bola.

Page: 1 2

Jay Wijayanto

Recent Posts

Dari Anak Penjual Pecel hingga Sutradara Nasional, Bayu Skak Buktikan Bahasa Daerah Bisa Mendunia

Kesuksesan tidak selalu lahir dari ibu kota. Kalimat itu seolah menjadi gambaran perjalanan hidup Bayu…

9 hours ago

Koeman Angkat Tangan Usai Tim Oranye Rontok di Piala Dunia, Pilih Mundur Demi Keluarga

Kekalahan pelik dari Maroko di babak 32 besar Piala Dunia 2026 menjadi pertandingan terakhir Ronald…

10 hours ago

State Capture dan Kebisuan Mimbar Akademik

SARASEHAN Kebangsaan KSTI 2026 yang berlangsung pada 26–28 Juni 2026 di Jakarta International Convention Center…

13 hours ago

Tegaskan Tidak Ada Campur Tangan Istana saat Muktamar, Gus Irfan: NU Bukan Barang Warisan yang Diperebutkan

Muktamar ke-35 Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang diagendakan berlangsung pada 1 hingga 5 Agustus…

18 hours ago

Menhaj Tutup Operasional Haji 2026, 202 Ribu Lebih Jemaah Sudah Dipulangkan, 367 Wafat di Tanah Suci

Seluruh rangkaian operasional penyelenggaraan ibadah haji tahun 2026 resmi dinyatakan rampung Rabu (1/7) sore. Penutupan…

20 hours ago

Meksiko Ngeri-Ngeri Sedap, Pulangkan Ekuador dan Putus Kutukan 8 Kali Eliminasi

Timnas Meksiko akhirnya memutus kutukan panjang di fase gugur Piala Dunia setelah menumbangkan Ekuador dengan…

1 day ago

This website uses cookies.