Dua pion penting Senegal: Sadio Mane dan pelatih Pape Thiaw. (Foto: Ndarinfo)
METROTODAY, NEW JERSEY – Di tengah padatnya agenda Piala Dunia 2026, Timnas Senegal menunjukkan komitmen yang kuat terhadap nilai-nilai yang mereka pegang.
Jelang laga pembuka Grup I melawan Prancis, Rabu (17/6) dinihari WIB, skuad berjuluk Singa Teranga tetap melaksanakan salat Jumat berjamaah meski cuaca buruk dan peringatan badai sempat melanda wilayah New Jersey, Amerika Serikat.
Sikap tersebut kemudian menjadi sorotan media internasional dan memunculkan pujian luas mengenai keseimbangan antara tuntutan profesional sepak bola modern dan keyakinan agama para pemain.
Perhatian publik semakin besar setelah dalam konferensi pers muncul pertanyaan dari seorang jurnalis mengenai keputusan Senegal yang tetap menjalankan salat Jumat di tengah kondisi cuaca yang kurang bersahabat.
Pertanyaan tersebut dijawab tegas oleh pelatih Senegal, Pape Thiaw, yang menjelaskan bahwa ibadah merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masing-masing pemainnya.
“Kami akan selalu melaksanakan salat Jumat. Bahkan jika kami berada di partai final Piala Dunia sekalipun, kami tetap akan melaksanakan salat Jumat. Itu adalah kewajiban kepada tuhan,” kata Thiaw dalam pernyataan yang kemudian banyak dikutip media Afrika.
Pernyataan tersebut langsung mendapat respons positif dari banyak pendukung Senegal yang melihatnya sebagai cermin identitas tim nasional mereka.
Dilansir dari Al Jazeera, komitmen terhadap ibadah bukanlah hal yang baru bagi Senegal. Dalam beberapa turnamen besar sebelumnya, para pemain kerap terlihat melaksanakan salat berjamaah sebelum maupun sesudah pertandingan.
Tradisi itu terus dipertahankan oleh generasi sekarang yang dihuni nama-nama besar seperti Sadio Mane, Kalidou Koulibaly, dan Edouard Mendy. Bagi banyak pemain Senegal, sepak bola dan keyakinan agama berjalan beriringan, bukan saling menghambat atau bertentangan.
Keteguhan tersebut juga sejalan dengan karakter kepemimpinan Pape Thiaw. Mantan pemain timnas Senegal itu beberapa kali mengatakan bahwa kekuatan terbesar timnya bukan hanya kualitas individu, melainkan persatuan, kedisiplinan, dan nilai-nilai yang mereka anut bersama.
Menurut Thiaw, semangat kebersamaan itulah yang diyakini membuat Senegal mampu terus bersaing di level tertinggi sepak bola dunia.
Di laman resmi FIFA Piala Dunia 2026, Senegal tergabung di Grup I bersama tim kuat Prancis, Norwegia, dan Irak.
Prancis menjadi lawan yang paling banyak mendapat sorotan karena mengingatkan publik pada kemenangan bersejarah Senegal 1-0 atas Les Bleus pada laga pembuka Piala Dunia 2002. Saat itu, Senegal yang berstatus debutan mampu mengejutkan juara bertahan Piala Dunia 1998.
Menjelang laga melawan Prancis, Thiaw menegaskan bahwa timnya datang dengan penuh rasa hormat kepada lawan, tetapi tidak merasa inferior.
“Kami tahu akan menghadapi tim yang sangat kuat. Tapi, kami juga memiliki pemain-pemain berkualitas dan akan mengandalkan semangat tim untuk menghadapi tantangan ini,” ucap Thiaw.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Senegal ingin berbicara melalui performa di lapangan tanpa meninggalkan prinsip-prinsip yang selama ini mereka pegang teguh. (ezaar/mt)
Sejumlah karya seni dan desain pengembangan produk unggulan daerah, mulai dari makanan hingga kerajinan budaya…
Menyikapi peringatan dini dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kelas II Tanjung Perak terkait…
Guncangan gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 6,7 melanda wilayah Kota Palu, Sulawesi Tengah, pada Selasa…
Pertandingan Iran melawan Selandia Baru pada laga Grup G Piala Dunia 2026 menghadirkan salah satu…
Uruguay gagal memanfaatkan status unggulan saat menghadapi Arab Saudi pada laga perdana Grup H Piala…
Nama Vozinha mendadak menjadi perbincangan dunia setelah tampil luar biasa saat Tanjung Verde menahan imbang…
This website uses cookies.