Selama Ramadan hingga Idul Fitri 1447H, Metrotoday.id menayangkan kisah-kisah religi jejak para Auliya (Waliyullah) penyebar agama Islam di wilayah Kabupaten Sidoarjo. Kisah ini bersumber dari buku ”Sidoarjo Bumi Aulia” karya Muh. Subhan dan Fathur Roziq.
===
Diceritakan sebelumnya bahwa Mbah Barnawi adalah pejuang yang melawan pemerintahan Belanda. Namun, ia memutuskan untuk hijrah ke Madiun. Di sana, ia mengubah identitasnya menjadi Wongso Taruno atau Joko Taruno agar tak terdeteksi oleh tentara Belanda.
Meski sudah “menepi” di Ngaresrejo, beliau masih terus di bawah pengawasan intel-intel penjajah Belanda. Tetapi, berbagai karamah yang dimilikinya membuat Mbah Barnawi selalu selamat dari pengepungan dan ancaman.
Cerita karamah Mbah Barnawi menjadi bagian penting dari narasi masyarakat. “Diceritakan mbah-mbah saya, kuda Mbah Barnawi sangat lincah. Bisa melompat tinggi dan berlari kencang,” kisah Chusni. Bahkan saat bersembunyi di balik batu besar, tentara Belanda tak mampu melihatnya.
Karamah paling masyhur adalah kemampuannya hadir dalam beberapa masjid berbeda untuk sholat Jumat pada waktu yang sama. Para santri dari berbagai tempat mengaku menyaksikannya, tanpa sadar bahwa mereka sedang menyaksikan keajaiban seorang wali.
Mbah Barnawi juga dikenang sebagai perantara doa, terutama oleh mereka yang belum menemukan jodoh. Banyak yang datang dengan harapan, dan tak sedikit yang mengaku keinginannya terkabul. Anak-anak pun mengenalnya dari kisah-kisah magis seperti “bendera Inggris” yang bisa menenangkan anak menangis.
“Kalau ada anak kecil menangis, Mbah Barnawi biasanya mengambil daun dan lidi, dikibarkan sambil berkata: ‘Ini bendera Inggris’. Ajaibnya, anak itu langsung diam,” kenang Chusni. Tradisi-tradisi ini menunjukkan kehangatan sosok beliau yang dicintai.

Pembangunan fasilitas makam hingga pemeliharaan sehari-hari pun sebagian besar berasal dari sumbangan para peziarah. “Alhamdulillah kami tidak pernah kekurangan,” kata Chusni. Semua berjalan seolah atas restu yang tak kasat mata.
Maka tidak heran bila kompleks makam Mbah Barnawi terus didatangi peziarah. Dulu, makam Mbah Barnawi tidak terurus. Penuh ilalang dan tidak terawat. Masyarakat sekitar pun membersihkannya. Tahun meninggal Mbah Barnawi tidak tercatat secara pasti. ”Kata mbah-mbah saya sekitar 1800-an,” sambung Chusni.
Sejak kawasan makam yang mulai diperhatikan tersebut, lama-kelamaan, tidak sedikit peziarah yang kemudian memberikan bantuan untuk pembangunan. Termasuk ruangan untuk melindungi makam Mbah Barnawi dan Paseban Agung, dibangun atas swadaya peziarah.
Diceritakan Chusni, almarhum Mbah Ud (K.H. Ali Mas’ud), Pagerwojo, menjadi salah satu peziarah yang suka menyambangi makam Mbah Barnawi. Istimewanya, kadang Mbah Ud tidak mengabari kalau akan datang.
”Budhe saya cerita, kalau Mbah Ud mau datang, paginya pasti ada yang ngirim daging ke rumah. Padahal, kami tidak memesan. Terkadang, kami juga tidak tahu itu daging dari siapa. Biasanya mereka bilang, ini dari pasar,” terang Chusni.
Mendapat kiriman makanan dan dana itu pun terus berlangsung sampai sekarang. Setiap haul atau kegiatan besar, keluarga penjaga makam selalu mendapat kiriman bahan makanan tanpa diminta.
“Setiap kali ada haul, selalu tercukupi kebutuhannya. Ada saja orang-orang baik yang mengirimkan beras, bahan makanan, atau uang untuk pelaksanaan acara,” ujar dia. Seolah berkah Mbah Barnawi terus mengalir melalui tangan orang-orang yang ikhlas.
Haul yang diadakan setiap Kamis Kliwon bulan Selo (Dzulqo’dah dalam penanggalan Hijriah) memang selalu dipenuhi ribuan peziarah. Dalam haul 8 Mei 2025 lalu misalnya sekitar 5.000 orang memadati lapangan belakang makam. Acara bertajuk Ngaresrejo Bersholawat menjadi bukti bahwa cinta masyarakat pada Mbah Barnawi tetap hidup.
Penuntun Sunyi dari Balik Batu Tua
Di tengah derasnya arus zaman, Mbah Barnawi tetap menjadi cahaya. Bukan karena kemegahan bangunan atau gembar-gembor sejarah, tapi karena keteladanan hidupnya. Ia hadir sebagai penuntun diam-diam—dalam doa-doa, dalam kisah yang hidup di Pasar Jumat Legi, juga dalam ketenangan anak-anak kecil.
Jejaknya adalah cermin tentang arti jihad, tawakal, dan keberkahan sejati. Setiap langkah di tanah Ngaresrejo, dalam kesunyian, aulia besar tak pernah benar-benar pergi. (Habis)
(*) Materi artikel ini disadur dari buku Sidoarjo Bumi Aulia milik Bappeda Kabupaten Sidoarjo.


