Categories: Bumi Aulia

Jejak Ibrahim Al-Jaelani; Peninggalan yang Masih Sarat Manfaat (4-Habis)

Pada Ramadan 1447 Hijriah/2026 M ini, Metrotoday.id menayangkan kisah-kisah religi jejak para Auliya (Waliyullah) penyebar agama Islam di wilayah Kabupaten Sidoarjo. Penayangan kisah ini bersumber dari buku ”Sidoarjo Bumi Aulia” karya Muh. Subhan dan Fathur Roziq.

===

Cerita-cerita unik dan menggugah keingintahuan masyarakat turut menghiasi eksistensi makam Mbah Ibrahim Al-Jaelani di Bungurasih. Bahkan cerita tersebut disertai bukti yang sulit untuk ditampik kebenarannya.

Dikisahkan, Mbah Ibrahim Al-Jaelani mempunyai anak perempuan yang sangat cantik. Berkat kecantikannya itu, banyak pria jatuh hati dan ingin mempersuntingnya. Tak terkecuali dengan seorang laki-laki bernama Celuring.

Celuring adalah seorang pemuda tampan serta mempunyai ilmu kesaktian yang luar biasa. Sayang, dia memiliki kebiasaan buruk yang tidak bisa ditinggalkan, yaitu suka mencuri. Masyarakat di daerah itu menyebutnya sebagai Maling Celuring.

Suatu ketika, Mbah Joyo Amijoyo alias Mbah Bungur membuka sayembara. Barang siapa yang menginginkan putrinya untuk dijadikan istri harus bisa membuatkan sumur. Jumlahnya harus 1.000 sumur (sewu) atau sumur windu. Seluruh sumur itu harus selesai dalam waktu semalam, sebelum matahari terbit.

Singkat cerita, Celuring yang sakti pun mengikuti sayembara itu. Di saat para pemuda yang lain kesulitan, dia yakin bisa mewujudkan permintaan dalam sayembara itu dan mendapatkan putri Mbah Joyo. Konon, Celuring dengan dibantu oleh punggawa-punggawanya yang tidak kelihatan oleh mata biasa hampir berhasil melaksanakan tugasnya.

Mbah Joyo Amijoyo yang tak ingin putrinya diperistri seorang maling berupaya menggagalkan kemenangan Celuring. Dia mengumpulkan ibu-ibu untuk menumbuk padi di lesung-lesung dan menyuruh para muridnya mengumpulkan damen (batang pohon padi yang telah diambil padinya) untuk dibakar, sehingga kelihatan merah menyerupai sinar matahari terbit.

Pada akhirnya, para punggawa Celuring berhamburan menganggap matahari sudah terbit. Padahal, saat itu Celuring sudah menyelesaikan sebanyak 999 sumur. Namun akhirnya dia tetap dinilai gagal menyelesaikan tugasnya membuat seribu sumur.

Jejak-jejak sumur sewu (seribu sumur) tersebut masih dapat dijumpai di Desa Bungurasih, Kecamatan Waru; serta Kelurahan Ketegan dan Desa Wage, Kecamatan Taman. Kekunoan sumur tersebut ditandai dengan batu bata khusus berbentuk bulat, tidak terlalu dalam, namun airnya sangat jernih. Airnya tidak habis walaupun musim kemarau panjang dan dipakai banyak orang. Menurut perangkat desa setempat, air sumur sewu tidak juga habis meskipun warga sudah menyedotnya dengan pipa menggunakan 6 buah mesin pompa.

Terlepas dari berbagai cerita, keberadaan Mbah Ibrahim Al Jaelani di Bungurasih memberikan banyak manfaat bagi warga sekitar. Bukan sekadar menyebarkan syiar Islam atau memberikan peninggalan berupa sumur yang masih berfungsi, keberadaan makamnya juga terus memberikan manfaat bagi warga. Termasuk menjadi tujuan wisata religi bagi para peziarah dari berbagai kalangan.

Warga sekitar mengadakan khataman Al-Quran untuk memperingati haul Ibrahim Al-Jaelani atau Mbah Bungur pada 12 Juli 2025 atau 16 Muharram 1447 H.

Haul 2025

Kompleks area makam Mbah Ibrahim Al-Jaelani tampak lengang pada pagi hari di Sabtu 12 Juli 2025 saat data buku ini digali. Tak tampak persiapan keramaian. Begitu pula perubahan rutinitas di lokasi yang terletak di Bungurasih Dalam itu.

Hanya lantunan ayat-ayat suci Al-Quran yang terdengar. Sejumlah pria bergantian saling sambung melantunkan ayat demi ayat di Musholla Waqaf Ar- Rochman yang letaknya di dalam area makam. Tepatnya di sisi selatan makam Mbah Ibrahim Al-Jaelani.

Hari itu seharusnya sangat berdekatan dengan Haul Mbah Ibrahim Al-Jaelani. Tanggal 12 Juli 2025 bertepatan dengan 16 Muharram 1447 H. Sedangkan haul Mbah Ibrahim Al-Jaelani diperingati setiap 17 Muharram, yang artinya jatuh pada Ahad 13 Juli 2025.

‘’Tahun 2025 ini Pemerintah Desa Bungurasih sepakat memperingati haul Mbah Ibrahim Al-Jaelani dibarengkan dengan peringatan ulang tahun desa, yaitu 31 Oktober 2025 nanti,’’ ujar Erwin Syamsudin Ritonga.

Berbeda dengan tahun sebelumnya, haul Mbah Ibrahim Al-Jaelani diperingati dengan meriah. Pemerintah desa dan pengurus makam mengadakan pengajian yang mendatangkan sejumlah ulama dari berbagai daerah. Saat itu, para peziarah yang hadir sangat banyak. Jumlah mereka ribuan. Pelataran dan area parkir makam sampai tak cukup menampung pengunjung dan peziarah. (*/Habis)

(*) Materi artikel ini disadur dari buku Sidoarjo Bumi Aulia atas seizin Bappeda Kabupaten Sidoarjo sebagai pemilik produk

Naufal

Recent Posts

Hilal Syawal 1447 H Tidak Terlihat di Jawa Timur, Ketinggian Hanya 1,425 Derajat

Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur menggelar pemantauan rukyatul hilal dalam rangka penentuan 1…

14 minutes ago

Pengiriman Barang di Stasiun Surabaya Gubeng saat Lebaran Didominasi Motor, Makanan, dan Hewan Peliharaan

Jelang Lebaran 2026, tidak hanya stasiun yang dipadati pemudik, volume pengiriman barang ke berbagai daerah…

5 hours ago

Terminal TOW Surabaya Mulai Padat Penumpang Mudik Tujuan Blora – Cepu, Puncak Mudik Diprediksi Hari Ini

Terminal Tambak Osowilangon (TOW) Surabaya mulai dipadati penumpang yang hendak mudik Lebaran ke kampung halaman.…

6 hours ago

Ratusan Umat Hindu Surabaya Pawai Ogoh-Ogoh Menyambut Nyepi Tahun Saka 1948

Menyambut Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948, ratusan umat Hindu menggelar Pawai Seni Ogoh-Ogoh…

6 hours ago

79.934 Ribu Penumpang Telah Tiba di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya Mendekati Lebaran

Jelang Idul Fitri, Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya terus dipadati penumpang kapal laut yang hendak mudik…

6 hours ago

Berumrah di Tengah Perang (9): Ramadhan dan Denyut Ekonomi Tanah Haram

RAMADHAN di Tanah Haram sering kali dipahami hanya sebagai pengalaman spiritual yang sangat personal. Namun…

15 hours ago

This website uses cookies.