19 March 2026, 2:25 AM WIB

Jejak Ibrahim Al-Jaelani; Tokoh Besar yang Menjaga Keamanan Jawa Bagian Timur (3)

spot_img

Pada Ramadan 1447 Hijriah/2026 M ini, Metrotoday.id menayangkan kisah-kisah religi jejak para Auliya (Waliyullah) penyebar agama Islam di wilayah Kabupaten Sidoarjo. Penayangan kisah ini bersumber dari buku ”Sidoarjo Bumi Aulia” karya Muh. Subhan dan Fathur Roziq.

Bungurasih adalah salah satu dari 17 desa di Kecamatan Waru, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Posisi desa ini berbatasan langsung dengan Surabaya. Desa tersebut menyimpan banyak kisah persebaran Islam yang bertalian erat dengan sepak terjang Sunan Ampel.

Jejak-jejak kekunoan di Bungurasih antara lain ditandai dengan banyaknya pohon sawo. Ketika masih belum berkembang ramai seperti saat ini, di Bungurasih banyak pohon sawo, kenitu, gayam, nyamplung, ketapang, rukem, mundu, juwet, kecacil, hingga kepundung, yang jarang terdapat di desa-desa lain.

Menurut Kiai Mun’im DZ dalam buku Fragmen Sejarah NU: Menyambung Akar Budaya Nusantara, keberadaan pohon sawo punya kisah menarik. Bahwasanya, ketika ditangkap pasukan Belanda dengan cara yang licik tahun 1830 M, Pangeran Diponegoro pernah berpesan kepada para pengikutnya agar segera menanam pohon sawo sebagai sandi bagi lasykarnya agar terus melakukan perlawanan kepada penjajah Belanda.

Sawo atau dalam bahasa Arab berbunyi Sawwu memiliki arti luruskan barisan! Selengkapnya: sawwu shufuufakum (luruskan/ rapatkan barisan kalian). Hal ini sesuai dengan kalimat, Sawwuu shufuufakum fainna tashwiyatas shufuufi min tamaamil harakah (rapatkan barisan kalian, karena merapatkan barisan prasyarat bagi suksesnya perjuangan). Kalimat itu juga mengingatkan pada bacaan yang disampaikan seorang imam sebelum memimpin sholat berjamaah. Bedanya, kata terakhir “harakah” diganti dengan “shalah” yang berarti sholat atau sembahyang.

Masyarakat percaya bahwa yang disebut dengan Mbah Bungur atau Ibrahim Al-Jaelani adalah sosok yang paling awal tinggal di Bungurasih. Diperkirakan Mbah Ibrahim wafat 20 tahun setelah Sunan Ampel wafat. Jadi kira-kira abad ke-15.

Namun, sebelum Mbah Ibrahim, sudah ada tokoh lain yang lebih tua, yang melakukan babat alas, yaitu Mbah Bongoh Kasiana. Hanya saja, jati diri keduanya tidak diketahui, kecuali cerita rakyat dalam berbagai versi.

Banyak cerita rakyat terkait dengan Mbah Bongoh Kasiana, juga Mbah Bungur alias Mbah Jenggot, Mbah Ibrahim Al-Jaelani, Mbah Joyo Amijoyo, atau juga disebut Mbah Keramat. Masyarakat percaya bahwa lahan yang sekarang ditempati bangunan SD Darul Ulum (di sebelah barat makam Mbah Bungur) di masa lalu dipenuhi dengan pepohonan rimbun. Dulu pernah ada bangunan megah di tempat itu. Konon, di situlah rumah Mbah Bongoh Kasiana yang sekarang makamnya berada di tengah kompleks pemakaman.

Alkisah, Mbah Bongoh dan masyarakat desa yang hidup pada masa itu belum beragama Islam. Suatu ketika datanglah seorang ulama yang mengislamkan penduduk Desa Bungur. Namanya kemudian dikenal dengan Mbah Bungur. Ada yang menyebut, ulama ini juga mengislamkan Mbah Bongoh. Namun pendapat lain menyatakan hal berbeda. Karena Mbah Bongoh dan Mbah Bungur ini adalah dua orang yang berbeda zaman.

Warga sekitar menyebutkan bahwa Mbah Bungur berasal dari Jilan, Kailan, Kilan, atau Al-Jil, Kurdistan Selatan, sebelah timur laut Kota Baghdad, di selatan Laut Kaspia, Iran. Makanya mendapat sebutan Al-Jailani. Beliau merupakan seorang waliyullah (wali Allah), yang datuk atau leluhurnya seorang ulama berasal dari Baghdad. Dia datang ke Indonesia untuk berdakwah dan akhirnya menikah dengan keluarga Kesultanan Bima (Sumbawa, Nusa Tenggara Barat).

Karena di Bima terjadi perang saudara pada abad ke-17, Mbah Bungur menghindar dan tidak mau ikut-ikutan urusan politik. Dia meninggalkan Bima dan lebih memilih berdagang sambil berdakwah.

Screenshot 2026-03-18 130658
Makam Mbah Bungur tampak dari sisi selatan. Di dekatnya terdapat Mushola Ar Rochman yang merupakan fasilitas ibadah utama di kompleks makam.

Versi lainnya menyebut Mbah Ibrahim berasal dari Gresik, keturunan seorang pembesar Giri Kedaton bernama Sayyid Abdul Malik, yang juga keturunan ke- 23 dari Nabi Muhammad SAW. Makamnya terletak di Glintung, Desa Kepatihan, Menganti, Gresik.

Dikisahkan pula bahwa dia ditugaskan Sunan Giri untuk mendirikan pengadilan dan kejaksaan di wilayah payung agung Giri Kedaton dan melakukan Islamisasi di wilayahnya.

Sayyid Abdul Malik Isroil diperkirakan hidup di pertengahan abad ke-14 hingga awal abad ke-15. Putra-putrinya menjadi pemimpin wilayah yang tersebar di wilayah Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik. Termasuk, Sayyid Ibrahim yang bergelar Pangeran Bungur Asana. Sekarang jadi Desa Bungurasih, Waru, Sidoarjo.

Untuk mengungkap siapa sebenarnya jati diri Mbah Bungur, sekitar tahun 1995, Pemerintah Desa Bungurasih membentuk tim untuk menelusuri riwayat Mbah Bungur alias Mbah Ibrahim dengan mendatangi K.H. Yusuf Hasyim (Pak Ud), paman Gus Dur.

Menurut Pak Ud, Ibrahim Al-Jaelani adalah tokoh besar yang bertugas menjaga keamanan Jawa bagian timur, semacam Kapolda atau Pangdam. Beliau meninggal 20 tahun setelah meninggalnya Sunan Ampel. Jika Sunan Ampel meninggal tahun 1479 M berarti Mbah Bungur wafat tahun 1499 M.

Ketua Umum Pengurus Makam Mbah Ibrahim Al-Jaelani, Erwin Syamsudin Ritonga, menegaskan, berbagai versi asal dari Mbah Ibrahim Al-Jaelani itu bukanlah sumber pertentangan, melainkan sebagai kekayaan khazanah, terutama dalam sejarah persebaran Islam di Sidoarjo dan sekitarnya.

Menurut dia, tidak tertutup peluang masih banyak lagi kisah yang menghiasi perjalanan kehidupan Mbah Ibrahim di Bungurasih, seiring dengan masih berlanjutnya penelitian dan pencarian sejarahnya hingga ke luar daerah, bahkan bila diperlukan hingga ke luar negeri. (*/Bersambung)

(*) Materi artikel ini disadur dari buku Sidoarjo Bumi Aulia atas seizin Bappeda Kabupaten Sidoarjo sebagai pemilik produk

spot_img

Pada Ramadan 1447 Hijriah/2026 M ini, Metrotoday.id menayangkan kisah-kisah religi jejak para Auliya (Waliyullah) penyebar agama Islam di wilayah Kabupaten Sidoarjo. Penayangan kisah ini bersumber dari buku ”Sidoarjo Bumi Aulia” karya Muh. Subhan dan Fathur Roziq.

Bungurasih adalah salah satu dari 17 desa di Kecamatan Waru, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Posisi desa ini berbatasan langsung dengan Surabaya. Desa tersebut menyimpan banyak kisah persebaran Islam yang bertalian erat dengan sepak terjang Sunan Ampel.

Jejak-jejak kekunoan di Bungurasih antara lain ditandai dengan banyaknya pohon sawo. Ketika masih belum berkembang ramai seperti saat ini, di Bungurasih banyak pohon sawo, kenitu, gayam, nyamplung, ketapang, rukem, mundu, juwet, kecacil, hingga kepundung, yang jarang terdapat di desa-desa lain.

Menurut Kiai Mun’im DZ dalam buku Fragmen Sejarah NU: Menyambung Akar Budaya Nusantara, keberadaan pohon sawo punya kisah menarik. Bahwasanya, ketika ditangkap pasukan Belanda dengan cara yang licik tahun 1830 M, Pangeran Diponegoro pernah berpesan kepada para pengikutnya agar segera menanam pohon sawo sebagai sandi bagi lasykarnya agar terus melakukan perlawanan kepada penjajah Belanda.

Sawo atau dalam bahasa Arab berbunyi Sawwu memiliki arti luruskan barisan! Selengkapnya: sawwu shufuufakum (luruskan/ rapatkan barisan kalian). Hal ini sesuai dengan kalimat, Sawwuu shufuufakum fainna tashwiyatas shufuufi min tamaamil harakah (rapatkan barisan kalian, karena merapatkan barisan prasyarat bagi suksesnya perjuangan). Kalimat itu juga mengingatkan pada bacaan yang disampaikan seorang imam sebelum memimpin sholat berjamaah. Bedanya, kata terakhir “harakah” diganti dengan “shalah” yang berarti sholat atau sembahyang.

Masyarakat percaya bahwa yang disebut dengan Mbah Bungur atau Ibrahim Al-Jaelani adalah sosok yang paling awal tinggal di Bungurasih. Diperkirakan Mbah Ibrahim wafat 20 tahun setelah Sunan Ampel wafat. Jadi kira-kira abad ke-15.

Namun, sebelum Mbah Ibrahim, sudah ada tokoh lain yang lebih tua, yang melakukan babat alas, yaitu Mbah Bongoh Kasiana. Hanya saja, jati diri keduanya tidak diketahui, kecuali cerita rakyat dalam berbagai versi.

Banyak cerita rakyat terkait dengan Mbah Bongoh Kasiana, juga Mbah Bungur alias Mbah Jenggot, Mbah Ibrahim Al-Jaelani, Mbah Joyo Amijoyo, atau juga disebut Mbah Keramat. Masyarakat percaya bahwa lahan yang sekarang ditempati bangunan SD Darul Ulum (di sebelah barat makam Mbah Bungur) di masa lalu dipenuhi dengan pepohonan rimbun. Dulu pernah ada bangunan megah di tempat itu. Konon, di situlah rumah Mbah Bongoh Kasiana yang sekarang makamnya berada di tengah kompleks pemakaman.

Alkisah, Mbah Bongoh dan masyarakat desa yang hidup pada masa itu belum beragama Islam. Suatu ketika datanglah seorang ulama yang mengislamkan penduduk Desa Bungur. Namanya kemudian dikenal dengan Mbah Bungur. Ada yang menyebut, ulama ini juga mengislamkan Mbah Bongoh. Namun pendapat lain menyatakan hal berbeda. Karena Mbah Bongoh dan Mbah Bungur ini adalah dua orang yang berbeda zaman.

Warga sekitar menyebutkan bahwa Mbah Bungur berasal dari Jilan, Kailan, Kilan, atau Al-Jil, Kurdistan Selatan, sebelah timur laut Kota Baghdad, di selatan Laut Kaspia, Iran. Makanya mendapat sebutan Al-Jailani. Beliau merupakan seorang waliyullah (wali Allah), yang datuk atau leluhurnya seorang ulama berasal dari Baghdad. Dia datang ke Indonesia untuk berdakwah dan akhirnya menikah dengan keluarga Kesultanan Bima (Sumbawa, Nusa Tenggara Barat).

Karena di Bima terjadi perang saudara pada abad ke-17, Mbah Bungur menghindar dan tidak mau ikut-ikutan urusan politik. Dia meninggalkan Bima dan lebih memilih berdagang sambil berdakwah.

Screenshot 2026-03-18 130658
Makam Mbah Bungur tampak dari sisi selatan. Di dekatnya terdapat Mushola Ar Rochman yang merupakan fasilitas ibadah utama di kompleks makam.

Versi lainnya menyebut Mbah Ibrahim berasal dari Gresik, keturunan seorang pembesar Giri Kedaton bernama Sayyid Abdul Malik, yang juga keturunan ke- 23 dari Nabi Muhammad SAW. Makamnya terletak di Glintung, Desa Kepatihan, Menganti, Gresik.

Dikisahkan pula bahwa dia ditugaskan Sunan Giri untuk mendirikan pengadilan dan kejaksaan di wilayah payung agung Giri Kedaton dan melakukan Islamisasi di wilayahnya.

Sayyid Abdul Malik Isroil diperkirakan hidup di pertengahan abad ke-14 hingga awal abad ke-15. Putra-putrinya menjadi pemimpin wilayah yang tersebar di wilayah Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik. Termasuk, Sayyid Ibrahim yang bergelar Pangeran Bungur Asana. Sekarang jadi Desa Bungurasih, Waru, Sidoarjo.

Untuk mengungkap siapa sebenarnya jati diri Mbah Bungur, sekitar tahun 1995, Pemerintah Desa Bungurasih membentuk tim untuk menelusuri riwayat Mbah Bungur alias Mbah Ibrahim dengan mendatangi K.H. Yusuf Hasyim (Pak Ud), paman Gus Dur.

Menurut Pak Ud, Ibrahim Al-Jaelani adalah tokoh besar yang bertugas menjaga keamanan Jawa bagian timur, semacam Kapolda atau Pangdam. Beliau meninggal 20 tahun setelah meninggalnya Sunan Ampel. Jika Sunan Ampel meninggal tahun 1479 M berarti Mbah Bungur wafat tahun 1499 M.

Ketua Umum Pengurus Makam Mbah Ibrahim Al-Jaelani, Erwin Syamsudin Ritonga, menegaskan, berbagai versi asal dari Mbah Ibrahim Al-Jaelani itu bukanlah sumber pertentangan, melainkan sebagai kekayaan khazanah, terutama dalam sejarah persebaran Islam di Sidoarjo dan sekitarnya.

Menurut dia, tidak tertutup peluang masih banyak lagi kisah yang menghiasi perjalanan kehidupan Mbah Ibrahim di Bungurasih, seiring dengan masih berlanjutnya penelitian dan pencarian sejarahnya hingga ke luar daerah, bahkan bila diperlukan hingga ke luar negeri. (*/Bersambung)

(*) Materi artikel ini disadur dari buku Sidoarjo Bumi Aulia atas seizin Bappeda Kabupaten Sidoarjo sebagai pemilik produk

Artikel Terkait

Pilihan Editor

Pilihan Editor

Terpopuler

Artikel Terbaru

Artikel Terkait