Memasuki bulan suci Ramadan 1447 Hijriah/2026 Masehi, Metrotoday.id menayangkan kisah kisah religi jejak para Auliya (Waliyullah) penyebar agama Islam yang ada di wilayah Kabupaten Sidoarjo. Penayangan kisah ini bersumber dari buku “Sidoarjo Bumi Aulia” karya Muh. Subhan dan Fathur Roziq.
—————————–
MENURUT ilmu tasawuf, karomah atau kelebihan Mbah Ud atau KH. Ali Mas’ud ini adalah kelebihan yang mutlak. Baik bersifat musyahadah atau bisa terlihat dengan mata, maupun yang bersifat musyakafah atau yang tak terlihat dengan mata.
Tubuhnya yang tak bisa diam dan mulutnya yang sering komat kamit seperti orang bergumam dengan gerakan kaki ritmis yang berulang jika beliau sedang berdiam diri, diyakini adalah bentuk ibadahnya kepada Allah SWT dengan selalu berzikir mengingat Sang Pencipta.
Makanan Sedikit Cukup untuk Ratusan Orang
Sifat lain yang juga menjadi karomah dari KH. Ali Mas’ud adalah beliau dikenal sebagai ulama yang ringan tangan dan suka membantu orang yang membutuhkan bantuannya baik berupa doa atau pertolongan lain.
Dikisahkan saat itu ada seorang musafir yang mempunyai hajat mengirim nasi tumpeng ke Masjid Sayyid Sulaiman, Betek, Mojoagung. Ia meminta jamaah mendoakannya agar hajatnya berjalan lancar, seraya memberikan nasi tumpeng untuk warga yang hadir di masjid Mbah Sayyid tersebut untuk dimakan bersama.
Saat itu, Mbah Ud kebetulan sedang berada di masjid tersebut. Musafir itu kemudian meminta Mbah Ud untuk mendoakannya. Sebelum berdoa, Mbah Ud membuka tumpeng tersebut dan melihat lauknya sedikit, hingga kemudian Mbah Ud menutup kembali tumpeng.
Kemudian Mbah Ud melanjutkan berdoa. Setelah berdoa, Mbah Ud membuka kembali tumpeng tersebut dan anehnya lauknya yang sedikit menjadi banyak.
Kejadian tersebut sontak membuat musafir itu kaget. Pada akhirnya, nasi tumpeng yang semula dikhawatirkan tidak cukup justru bisa dinikmati seluruh warga yang ada di masjid itu.
Kisah lain juga disampaikan oleh Bu Nunuk, cucu keponakan Mbah Ud dari kakaknya, Nyai Hj. Masrifah. Saat cucu Mbah Ud lahir bernama Salim, maka orangtuanya yakni pasangan Lilik Khurrotin dan Ibrahim Bajuri berniat menggelar akikah dengan menyembelih dua ekor kambing.
Lilik pun meminta kakaknya, Cholil, untuk mengundang jamaah ke rumah di Pagerwojo. Karena rencananya acara akikah itu juga akan dimeriahkan dengan terbangan atau hadrah. Namun pada hari H, betapa terkejutnya Lilik karena tamu dan jemaah yang datang ratusan orang.
Sebab, Cholil tidak hanya mengundang jemaah dari sekitar Pagerwojo. Ia juga mengundang jemaah dari desa desa lain seperti dari Entalsewu, Babatan, Sidokepung, dan beberapa desa lain.
Kebingungan karena tamu yang diundang membludak sementara sajian gule dan sate hanya dari 2 ekor kambing, Lilik pun hanya bisa sambat ke pamannya K.H. Ali Mas’ud.
Mbah Ud pun kemudian membuka panci gule dan sajian sate yang telah disiapkan untuk tamu. Sejenak ia kemudian membacakan doa di depan panci gule dan sate itu. Tak disangka, sajian gule dan sate yang disajikan itu bisa mencukupi untuk makan seluruh tamu yang jumlahnya ratusan orang.
Banyak lagi karomah yang dimiliki Mbah Ud. Antara lain tidak basah saat berjalan di bawah hujan deras, tak ada bekas dan bau saat kencing di dalam masjid, memiliki ilmu lipat bumi sehingga bisa bepergian jauh dalam waktu singkat tanpa alat transportasi dan dapat tidur di dalam air.
Mbah Ud memang dikenal sebagai kiai unik, nyentrik, dan kadang nyeleneh. Ia tidak berdakwah di ruang ruang formal yang dibungkus dengan seremoni atau tata cara yang teratur.
Ia lebih suka turun langsung ke rumah rumah rumah warga baik untuk bersilaturahmi atau mendatangi undangan hajatan atau pengajian. Konon jika ada rumah warga yang didatangi oleh Mbah Ud, maka itu adalah penanda atau peringatan bagi pemilik rumah.
Selain itu, Mbah Ud juga suka berdakwah langsung ke tempat tempat keramaian seperti pasar. Bahkan ketika berkunjung ke sebuah pasar di Pasuruan, Mbah Ud seringkali menggoda sejumlah pedagang dengan mengambil uang mereka.
Selanjutnya, uang itu dibagikan kepada orang-orang yang ada di pasar. Anehnya, uang pedagang itu tidak habis malah menjadi berkah karena semakin bertambah. (Redaksi/bersambung)
(*) Materi artikel ini disadur dari buku Sidoarjo Bumi Aulia atas seizin Bappeda Kabupaten Sidoarjo sebagai pemilik produk
Menjelang libur panjang Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriyah, Pemerintah Kabupaten Sidoarjo tancap gas memperbaiki…
Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menyampaikan permohonan maaf atas pernyataannya terkait zakat dalam sebuah forum…
Kecelakaan lalu lintas melibatkan sepeda motor dan truk kontainer terjadi di Jalan Tambak Osowilangun, Surabaya,…
Jelang operasional angkutan Lebaran 2026, KAI Logistik melakukan pengiriman 12 unit lokomotif dari Pulau Sumatera…
Peringatan pertempuran laut Jawa yang menewaskan 915 tentara Angkatan Laut Belanda pada 27 Februari 1942…
MBAH UD atau K.H. Ali Mas’ud juga dikenal mampu membaca pikiran dan perasaan seseorang meski…
This website uses cookies.