26 February 2026, 8:45 AM WIB

K.H. Ali Mas’Ud, Waliyullah Unik Penuh Karamah (4): Menebak Nasib Jenderal AH Nasution dan Pertemuan dengan Petani Miskin

spot_img

Memasuki bulan suci Ramadan 1447 Hijriah/2026 Masehi, Metrotoday.id menayangkan kisah kisah religi jejak para Auliya (Waliyullah) penyebar agama Islam yang ada di wilayah Kabupaten Sidoarjo. Penayangan kisah ini bersumber dari buku “Sidoarjo Bumi Aulia” karya Muh. Subhan dan Fathur Roziq.

—————————–

SEPANJANG hidupnya, KH. Ali Mas’ud dikenal senang mengikuti kegiatan masyarakat yang mendorong pada peribadatan kepada Allah SWT. Baik melalui kegiatan pengajian, haul, khataman atau sema’an Quran, kesenian hadrah, dan lain sebagainya. Sebaliknya, ia tidak suka dengan kegiatan yang membawa kemudharatan dan kemusyrikan.

Beliau sangat dihormati masyarakat karena ketekunan beribadah dan kecintaannya kepada Allah dan Rasulullah Muhammad SAW. Salah satu kesukaanya adalah menghadiri acara hadrah berupa kesenian Islam yang memadukan musik rebana dengan pujian dan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW.

Bahkan saking senangnya, meski sedang berada di perjalanan pun, jika beliau mendengar ada kelompok hadrah sedang berkegiatan, maka beliau langsung nimbrung dan bergabung untuk melantunkan shalawat dan syair syair pujian kepada Nabi Muhammad SAW tersebut.

Berikut beberapa karamah lain dari K.H. Ali Mas’ud:

Tahu Sebelum Peristiwa Terjadi (Waskita)

Karomah lain yang dimiliki KH. Ali Mas’ud dikisahkan bahwa Mbah Ud adalah sosok waskita yang bisa mengetahui suatu peristiwa sebelum terjadi. Alkisah, Jenderal TNI Abdul Haris (AH) Nasution yang saat itu menjabat sebagai Kepala Staf TNI AD (KASAD) diantar oleh KH. Mahrus Ali dari Ponpes Lirboyo Kediri untuk sowan ke Mbah Ud.

Gemini_Generated_Image_nfejvlnfejvlnfej-converted-from-png
KASAD Jenderal TNI Abdul Haris (AH) Nasution (kiri) didampingi KH. Mahrus Ali (kanan) dari Ponpes Lirboyo Kediri saat sowan ke K.H. Ali Mas’ud. (Foto: Istimewa)

Sesampai di kediaman Mbah Ud di Pagerwojo, Jenderal AH Nasution yang datang dari Jakarta ini diberi air putih yang sudah didoakan oleh Mbah Ud seraya berucap, “Iki ndang diombe, ben diparingi slamet (Air ini cepat diminum biar kamu diberi keselamatan, Red).”

Benar saja, tak lama setelah itu meletus aksi kudeta oleh Gerakan 30 September 1965 yang dimotori oleh PKI yang menyasar para jenderal TNI, termasuk Jenderal AH. Nasution yang saat itu menjabat sebagai Panglima TNI.

Dalam kejadian yang sangat membekas di benak masyarakat Indonesia itu, 7 orang jenderal petinggi TNI AD dibunuh dan jenazahnya dimasukkan ke lubang buaya di sekitar Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta.

Hanya Jenderal AH Nasution satu satunya target PKI yang selamat, meski putri bungsunya yakni Ade Irma Suryani Nasution, tertembak dan akhirnya meninggal saat pasukan PKI menyatroni rumahnya di Jalan Teuku Umar No. 40 Jakarta.

Aneh tapi Nyata

Hal lain tentang kewaskitaan KH. Ali Mas’ud dikisahkan saat beliau bertemu dengan seorang petani miskin. Petani itu baru saja menjual tanahnya yang sedikit karena butuh uang.

Karena uang yang dimiliki terbatas, ia bingung apakah uang itu dipakai untuk modal kerja, atau pergi umrah ke tanah suci seraya memohon kepada Allah agar dikaruniai rezeki yang lebih banyak.

Tapi kalau dipakai untuk modal kerja, ia pun bingung mau kerja apa. Sedangkan kalau dipakai untuk umrah, uangnya juga tidak cukup.

Saat itulah, tiba tiba KH. Ali Mas’ud datang menemuinya dan menebak kalau dirinya punya uang banyak. Padahal, dia tidak pernah menceritakan sebelumnya kepada siapa pun.

Yang unik, KH. Ali Mas’ud lantas menasihatkan agar uang itu dibelikan kempyeng saja. “Wis tukokno kempyeng ae,” katanya. Kempyeng adalah penutup botol minuman yang terbuat dari logam.

Gemini_Generated_Image_5z96vq5z96vq5z96-converted-from-png
Ilustrasi pertemuan KH. Ali Masud dengan seorang petani miskin yang kemudian membuatnya kaya dengan berjualan kempyeng. (Foto: AI generated by Gemini)

Tentu saja nasihat itu kian membuat sang petani kebingungan. Sebab uang jutaan rupiah itu kalau dibelikan kempyeng tentu dapat banyak dan berkarung karung. Tapi manfaatnya untuk apa?

Namun di tengah kebimbangan itu, ia tetap menunaikan nasihat dari KH. Ali Mas’ud. Ia pun membeli berkarung karung kempyeng kepada seorang pengepul barang bekas.

Saking banyaknya kempyeng itu, banyak tetangga dan teman yang mencibir aksi nyelenehnya. “Gawe opo duit akeh malah ditukokno kempyeng (Untuk apa uang banyak malah dibelikan kempyeng, Red)?”

Namun, cibiran itu akhirnya terjawab. Tak lama setelah itu, si petani justru didatangi seorang pengusaha yang butuh dan berniat membeli semua kempyeng miliknya dengan harga dua kali lipat. Tidak itu saja, ia juga kemudian diminta oleh si pengusaha untuk menjadi pemasok tetap kempyeng ke perusahaannya.

Si petani miskin ini akhirnya kaya raya dari usaha sebagai pemasok kempyeng ke perusahaan. Tentu saja, kenyataan ini membuatnya takjub akan nasihat yang pernah disampaikan oleh Mbah Ud atau KH. Ali Mas’ud kepadanya, yang ternyata terbukti kebenarannya.

Sapaan yang Jadi Kenyataan

Kewaskitaan KH. Ali Mas’ud beberapa kali juga dibuktikan sendiri oleh keluarganya. Bu Nunuk, cucu keponakan Mbah Ud, mengisahkan bahwa suatu saat Mbah Ud bertandang ke kediaman keponakannya yakni Lilik Khurrotin, putri dari kakaknya, Nyai Masrifah, di Pagerwojo.

Saat itu kebetulan ada keponakannya yang lain, yaitu Asyari dan Cholili. Tiba tiba Mbah Ud menyapa mereka, “Lho, ada Kaji Ari dan Cholil.”

Padahal, saat itu keduanya belum pernah naik haji. Belakangan terbukti, Asyari atau Ari kemudian memang bisa berangkat menunaikan ibadah haji, namun Cholil tidak.

Tidak hanya itu, keponakannya yang lain yakni Lilik Khurrotin juga didoakan naik haji karena suka membantunya. Belakangan juga terbukti bisa naik haji bahkan sampai dua kali ke tanah suci untuk menunaikan rukun Islam kelima.

Hal lain yang pernah dialami Lilik adalah saat ia hendak hamil anak keduanya, Salim. Saat itu, Mbah Ud tiba tiba mendatangi dan memandang perutnya seraya mengatakan dengan nada bercanda, ”Kamu habis keramas ya?”

Spontan Lilik yang malam sebelum pertemuan dengan Mbah Ud itu memang usai menunaikan kewajiban suami istri terperanjat. Ternyata benar, tak lama setelah itu Lilik memang hamil dan lahirlah Salim yang tak lain adalah adik dari Bu Nunuk. (Redaksi/bersambung)

(*) Materi artikel ini disadur dari buku Sidoarjo Bumi Aulia atas seizin Bappeda Kabupaten Sidoarjo sebagai pemilik produk

spot_img

Memasuki bulan suci Ramadan 1447 Hijriah/2026 Masehi, Metrotoday.id menayangkan kisah kisah religi jejak para Auliya (Waliyullah) penyebar agama Islam yang ada di wilayah Kabupaten Sidoarjo. Penayangan kisah ini bersumber dari buku “Sidoarjo Bumi Aulia” karya Muh. Subhan dan Fathur Roziq.

—————————–

SEPANJANG hidupnya, KH. Ali Mas’ud dikenal senang mengikuti kegiatan masyarakat yang mendorong pada peribadatan kepada Allah SWT. Baik melalui kegiatan pengajian, haul, khataman atau sema’an Quran, kesenian hadrah, dan lain sebagainya. Sebaliknya, ia tidak suka dengan kegiatan yang membawa kemudharatan dan kemusyrikan.

Beliau sangat dihormati masyarakat karena ketekunan beribadah dan kecintaannya kepada Allah dan Rasulullah Muhammad SAW. Salah satu kesukaanya adalah menghadiri acara hadrah berupa kesenian Islam yang memadukan musik rebana dengan pujian dan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW.

Bahkan saking senangnya, meski sedang berada di perjalanan pun, jika beliau mendengar ada kelompok hadrah sedang berkegiatan, maka beliau langsung nimbrung dan bergabung untuk melantunkan shalawat dan syair syair pujian kepada Nabi Muhammad SAW tersebut.

Berikut beberapa karamah lain dari K.H. Ali Mas’ud:

Tahu Sebelum Peristiwa Terjadi (Waskita)

Karomah lain yang dimiliki KH. Ali Mas’ud dikisahkan bahwa Mbah Ud adalah sosok waskita yang bisa mengetahui suatu peristiwa sebelum terjadi. Alkisah, Jenderal TNI Abdul Haris (AH) Nasution yang saat itu menjabat sebagai Kepala Staf TNI AD (KASAD) diantar oleh KH. Mahrus Ali dari Ponpes Lirboyo Kediri untuk sowan ke Mbah Ud.

Gemini_Generated_Image_nfejvlnfejvlnfej-converted-from-png
KASAD Jenderal TNI Abdul Haris (AH) Nasution (kiri) didampingi KH. Mahrus Ali (kanan) dari Ponpes Lirboyo Kediri saat sowan ke K.H. Ali Mas’ud. (Foto: Istimewa)

Sesampai di kediaman Mbah Ud di Pagerwojo, Jenderal AH Nasution yang datang dari Jakarta ini diberi air putih yang sudah didoakan oleh Mbah Ud seraya berucap, “Iki ndang diombe, ben diparingi slamet (Air ini cepat diminum biar kamu diberi keselamatan, Red).”

Benar saja, tak lama setelah itu meletus aksi kudeta oleh Gerakan 30 September 1965 yang dimotori oleh PKI yang menyasar para jenderal TNI, termasuk Jenderal AH. Nasution yang saat itu menjabat sebagai Panglima TNI.

Dalam kejadian yang sangat membekas di benak masyarakat Indonesia itu, 7 orang jenderal petinggi TNI AD dibunuh dan jenazahnya dimasukkan ke lubang buaya di sekitar Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta.

Hanya Jenderal AH Nasution satu satunya target PKI yang selamat, meski putri bungsunya yakni Ade Irma Suryani Nasution, tertembak dan akhirnya meninggal saat pasukan PKI menyatroni rumahnya di Jalan Teuku Umar No. 40 Jakarta.

Aneh tapi Nyata

Hal lain tentang kewaskitaan KH. Ali Mas’ud dikisahkan saat beliau bertemu dengan seorang petani miskin. Petani itu baru saja menjual tanahnya yang sedikit karena butuh uang.

Karena uang yang dimiliki terbatas, ia bingung apakah uang itu dipakai untuk modal kerja, atau pergi umrah ke tanah suci seraya memohon kepada Allah agar dikaruniai rezeki yang lebih banyak.

Tapi kalau dipakai untuk modal kerja, ia pun bingung mau kerja apa. Sedangkan kalau dipakai untuk umrah, uangnya juga tidak cukup.

Saat itulah, tiba tiba KH. Ali Mas’ud datang menemuinya dan menebak kalau dirinya punya uang banyak. Padahal, dia tidak pernah menceritakan sebelumnya kepada siapa pun.

Yang unik, KH. Ali Mas’ud lantas menasihatkan agar uang itu dibelikan kempyeng saja. “Wis tukokno kempyeng ae,” katanya. Kempyeng adalah penutup botol minuman yang terbuat dari logam.

Gemini_Generated_Image_5z96vq5z96vq5z96-converted-from-png
Ilustrasi pertemuan KH. Ali Masud dengan seorang petani miskin yang kemudian membuatnya kaya dengan berjualan kempyeng. (Foto: AI generated by Gemini)

Tentu saja nasihat itu kian membuat sang petani kebingungan. Sebab uang jutaan rupiah itu kalau dibelikan kempyeng tentu dapat banyak dan berkarung karung. Tapi manfaatnya untuk apa?

Namun di tengah kebimbangan itu, ia tetap menunaikan nasihat dari KH. Ali Mas’ud. Ia pun membeli berkarung karung kempyeng kepada seorang pengepul barang bekas.

Saking banyaknya kempyeng itu, banyak tetangga dan teman yang mencibir aksi nyelenehnya. “Gawe opo duit akeh malah ditukokno kempyeng (Untuk apa uang banyak malah dibelikan kempyeng, Red)?”

Namun, cibiran itu akhirnya terjawab. Tak lama setelah itu, si petani justru didatangi seorang pengusaha yang butuh dan berniat membeli semua kempyeng miliknya dengan harga dua kali lipat. Tidak itu saja, ia juga kemudian diminta oleh si pengusaha untuk menjadi pemasok tetap kempyeng ke perusahaannya.

Si petani miskin ini akhirnya kaya raya dari usaha sebagai pemasok kempyeng ke perusahaan. Tentu saja, kenyataan ini membuatnya takjub akan nasihat yang pernah disampaikan oleh Mbah Ud atau KH. Ali Mas’ud kepadanya, yang ternyata terbukti kebenarannya.

Sapaan yang Jadi Kenyataan

Kewaskitaan KH. Ali Mas’ud beberapa kali juga dibuktikan sendiri oleh keluarganya. Bu Nunuk, cucu keponakan Mbah Ud, mengisahkan bahwa suatu saat Mbah Ud bertandang ke kediaman keponakannya yakni Lilik Khurrotin, putri dari kakaknya, Nyai Masrifah, di Pagerwojo.

Saat itu kebetulan ada keponakannya yang lain, yaitu Asyari dan Cholili. Tiba tiba Mbah Ud menyapa mereka, “Lho, ada Kaji Ari dan Cholil.”

Padahal, saat itu keduanya belum pernah naik haji. Belakangan terbukti, Asyari atau Ari kemudian memang bisa berangkat menunaikan ibadah haji, namun Cholil tidak.

Tidak hanya itu, keponakannya yang lain yakni Lilik Khurrotin juga didoakan naik haji karena suka membantunya. Belakangan juga terbukti bisa naik haji bahkan sampai dua kali ke tanah suci untuk menunaikan rukun Islam kelima.

Hal lain yang pernah dialami Lilik adalah saat ia hendak hamil anak keduanya, Salim. Saat itu, Mbah Ud tiba tiba mendatangi dan memandang perutnya seraya mengatakan dengan nada bercanda, ”Kamu habis keramas ya?”

Spontan Lilik yang malam sebelum pertemuan dengan Mbah Ud itu memang usai menunaikan kewajiban suami istri terperanjat. Ternyata benar, tak lama setelah itu Lilik memang hamil dan lahirlah Salim yang tak lain adalah adik dari Bu Nunuk. (Redaksi/bersambung)

(*) Materi artikel ini disadur dari buku Sidoarjo Bumi Aulia atas seizin Bappeda Kabupaten Sidoarjo sebagai pemilik produk

Artikel Terkait

Pilihan Editor

Pilihan Editor

Terpopuler

Artikel Terbaru

Artikel Terkait