26 February 2026, 5:35 AM WIB

K.H. Ali Mas’Ud, Waliyullah Unik Penuh Karamah (3): Wali Wahbi yang Dikaruniai Ilmu Laduni

spot_img

Memasuki bulan suci Ramadan 1447 Hijriah/2026 Masehi, Metrotoday.id menayangkan kisah kisah religi jejak para Auliya (Waliyullah) penyebar agama Islam yang ada di wilayah Kabupaten Sidoarjo. Penayangan kisah ini bersumber dari buku “Sidoarjo Bumi Aulia” karya Muh. Subhan dan Fathur Roziq.

—————————–

K.H. ALI MAS’UD atau Mbah Ud dikenal sebagai seorang waliyullah yang unik dan cenderung nyentrik. Beliau tidak berdakwah di mimbar-mimbar pengajian atau di pondok pesantren dengan ribuan santri. Tapi, lebih banyak hidup dengan berkeliling di tengah masyarakat untuk mendakwahkan agama dan ilmu tentang Islam secara langsung. Sering kali perilakunya unik, bahkan cenderung kekanak-kanakan.

Beliau memang tidak pernah tahan berdiam diri di rumah dalam waktu lama. Tapi, selalu berkeliling menemui masyarakat yang banyak dikenalnya. Karena itu, meski tidak mempunyai pesantren, orang yang mengaku sebagai murid atau pengagumnya tersebar di berbagai wilayah.

Dari sanalah beliau diyakini sebagai wali majdzub atau wali jadzab. Ditandai dengan memiliki karamah kewalian sejak kecil. Kadang perilakunya tidak biasa atau di luar nalar, bahkan terkesan melanggar syariat. Namun, sejatinya beliau justru memiliki kedekatan spiritual yang sangat tinggi kepada Allah SWT. Berikut beberapa di antara karamah Mbah Ud.

Wali Wahbi

Cerita kewalian Mbah Ud pernah disampaikan oleh K.H. Agoes Ali Masyhuri, Wakil Rais Syuriah PWNU Jawa Timur yang juga pengasuh Pondok Pesantren Progresif Bumi Sholawat, Lebo, Sidoarjo.

Saat mengisi pengajian umum haul ke-45 K.H. Ali Mas’ud di area makam pada Kamis, 8 Februari 2024, beliau mengatakan bahwa Mbah Ud adalah sosok wali yang dicetak langsung sejak kecil oleh Allah SWT.

Agoes-Ali-Masyhuri
K.H. Agoes Ali Masyhuri dalam sebuah acara pengajian. (Foto: Istimewa)

”Jadi, Kiai Ali Mas’ud itu wali wahbi, bukan wali kasbi. Yaitu, wali yang dicetak Allah langsung untuk menjadi wali dan orang alim tanpa perlu tirakat. Saya mencari wali yang setara dengan Kiai Ali Mas’ud ini tidak menemukan. Ada, tapi di Yordania sana,” katanya.

Tidak Suka Memakai Alas Kaki

Bu Nunuk, cucu keponakan Mbah Ud dari kakaknya, Nyai Hj Masrifah, menceritakan bahwa sejak kecil, karamah atau kelebihan dari kakeknya itu sudah terlihat.

Antara lain, sejak kecil hingga dewasa, Mbah Ud tidak pernah memakai sandal atau sepatu jika bepergian ke luar rumah. Padahal, beliau sangat sering keluar rumah karena memang tidak pernah bisa tahan di rumah lama lama.

Tapi anehnya, sprei atau selimut tempat tidur yang ditempati tak pernah kotor atau ngecap (menimbulkan bekas). Padahal, Mbah Ud tak terbiasa mencuci kaki ketika masuk rumah. ”Telapak kakinya tampak putih dan halus seperti bayi,” ucapnya. Rupanya, Allah SWT menjaga kesucian salah satu kekasihnya itu.

Mempunyai Ilmu Laduni

Karamah lain yang paling menonjol dari Mbah Ud adalah beliau dikenal hafal Al-Quran 24 juz dan mampu membaca kitab kuning dengan huruf pegon gundul (tanpa harakat) dengan cara dibalik. Padahal, Mbah Ud tidak pernah mengenyam pendidikan resmi di sekolah atau pondok pesantren.

santri ilmu laduni
Ilustrasi para santri sedang mengaji kitab. Gus Ud atau Mbah Ud yang dikaruniai oleh Allah Swt ilmu laduni
mampu menghafal Al Quran dan membaca serta menjelaskan isi kitab meski tak pernah menempuh pendidikan. (Foto: Istimewa)

Dikisahkan pada sekitar umur 5 tahun, Gus Ud (sapaan Mbah Ud di waktu kecil) pernah diajar mengaji oleh ayahnya di rumah. Namun, karena nakal dan banyak tingkah, ia dimarahi oleh ayahnya, K.H. Said. ”Soalnya waktu diajar mengaji ayahnya itu, Mbah Ud malah lari-lari dan teriak-teriak,” kata Bu Nunuk.

Sang ayah pun memarahinya seraya berujar, ”Kamu jadi anak kok nakal, ya? Makanya, kamu tidak bisa mengaji.”

Ketika melontarkan perkataan itulah, ayahnya spontan melihat keanehan pada diri Gus Ud. Putranya itu lantas mengambil sebuah kitab untuk dibaca. Ajaibnya, kitab kuning gundul yang diambil itu langsung dibaca dengan sangat lancar.

Bahkan, Gus Ud juga mampu menjelaskan isinya, yang secara nalar anak sekecil itu belum mampu memahaminya. Sejak kejadian itu, Kiai Said pun membiarkan putra keduanya itu melakukan apa saja sepanjang tidak bertentangan dengan syariat Islam. (Redaksi/bersambung)

(*) Materi artikel ini disadur dari buku Sidoarjo Bumi Aulia atas seizin Bappeda Kabupaten Sidoarjo sebagai pemilik produk

spot_img

Memasuki bulan suci Ramadan 1447 Hijriah/2026 Masehi, Metrotoday.id menayangkan kisah kisah religi jejak para Auliya (Waliyullah) penyebar agama Islam yang ada di wilayah Kabupaten Sidoarjo. Penayangan kisah ini bersumber dari buku “Sidoarjo Bumi Aulia” karya Muh. Subhan dan Fathur Roziq.

—————————–

K.H. ALI MAS’UD atau Mbah Ud dikenal sebagai seorang waliyullah yang unik dan cenderung nyentrik. Beliau tidak berdakwah di mimbar-mimbar pengajian atau di pondok pesantren dengan ribuan santri. Tapi, lebih banyak hidup dengan berkeliling di tengah masyarakat untuk mendakwahkan agama dan ilmu tentang Islam secara langsung. Sering kali perilakunya unik, bahkan cenderung kekanak-kanakan.

Beliau memang tidak pernah tahan berdiam diri di rumah dalam waktu lama. Tapi, selalu berkeliling menemui masyarakat yang banyak dikenalnya. Karena itu, meski tidak mempunyai pesantren, orang yang mengaku sebagai murid atau pengagumnya tersebar di berbagai wilayah.

Dari sanalah beliau diyakini sebagai wali majdzub atau wali jadzab. Ditandai dengan memiliki karamah kewalian sejak kecil. Kadang perilakunya tidak biasa atau di luar nalar, bahkan terkesan melanggar syariat. Namun, sejatinya beliau justru memiliki kedekatan spiritual yang sangat tinggi kepada Allah SWT. Berikut beberapa di antara karamah Mbah Ud.

Wali Wahbi

Cerita kewalian Mbah Ud pernah disampaikan oleh K.H. Agoes Ali Masyhuri, Wakil Rais Syuriah PWNU Jawa Timur yang juga pengasuh Pondok Pesantren Progresif Bumi Sholawat, Lebo, Sidoarjo.

Saat mengisi pengajian umum haul ke-45 K.H. Ali Mas’ud di area makam pada Kamis, 8 Februari 2024, beliau mengatakan bahwa Mbah Ud adalah sosok wali yang dicetak langsung sejak kecil oleh Allah SWT.

Agoes-Ali-Masyhuri
K.H. Agoes Ali Masyhuri dalam sebuah acara pengajian. (Foto: Istimewa)

”Jadi, Kiai Ali Mas’ud itu wali wahbi, bukan wali kasbi. Yaitu, wali yang dicetak Allah langsung untuk menjadi wali dan orang alim tanpa perlu tirakat. Saya mencari wali yang setara dengan Kiai Ali Mas’ud ini tidak menemukan. Ada, tapi di Yordania sana,” katanya.

Tidak Suka Memakai Alas Kaki

Bu Nunuk, cucu keponakan Mbah Ud dari kakaknya, Nyai Hj Masrifah, menceritakan bahwa sejak kecil, karamah atau kelebihan dari kakeknya itu sudah terlihat.

Antara lain, sejak kecil hingga dewasa, Mbah Ud tidak pernah memakai sandal atau sepatu jika bepergian ke luar rumah. Padahal, beliau sangat sering keluar rumah karena memang tidak pernah bisa tahan di rumah lama lama.

Tapi anehnya, sprei atau selimut tempat tidur yang ditempati tak pernah kotor atau ngecap (menimbulkan bekas). Padahal, Mbah Ud tak terbiasa mencuci kaki ketika masuk rumah. ”Telapak kakinya tampak putih dan halus seperti bayi,” ucapnya. Rupanya, Allah SWT menjaga kesucian salah satu kekasihnya itu.

Mempunyai Ilmu Laduni

Karamah lain yang paling menonjol dari Mbah Ud adalah beliau dikenal hafal Al-Quran 24 juz dan mampu membaca kitab kuning dengan huruf pegon gundul (tanpa harakat) dengan cara dibalik. Padahal, Mbah Ud tidak pernah mengenyam pendidikan resmi di sekolah atau pondok pesantren.

santri ilmu laduni
Ilustrasi para santri sedang mengaji kitab. Gus Ud atau Mbah Ud yang dikaruniai oleh Allah Swt ilmu laduni
mampu menghafal Al Quran dan membaca serta menjelaskan isi kitab meski tak pernah menempuh pendidikan. (Foto: Istimewa)

Dikisahkan pada sekitar umur 5 tahun, Gus Ud (sapaan Mbah Ud di waktu kecil) pernah diajar mengaji oleh ayahnya di rumah. Namun, karena nakal dan banyak tingkah, ia dimarahi oleh ayahnya, K.H. Said. ”Soalnya waktu diajar mengaji ayahnya itu, Mbah Ud malah lari-lari dan teriak-teriak,” kata Bu Nunuk.

Sang ayah pun memarahinya seraya berujar, ”Kamu jadi anak kok nakal, ya? Makanya, kamu tidak bisa mengaji.”

Ketika melontarkan perkataan itulah, ayahnya spontan melihat keanehan pada diri Gus Ud. Putranya itu lantas mengambil sebuah kitab untuk dibaca. Ajaibnya, kitab kuning gundul yang diambil itu langsung dibaca dengan sangat lancar.

Bahkan, Gus Ud juga mampu menjelaskan isinya, yang secara nalar anak sekecil itu belum mampu memahaminya. Sejak kejadian itu, Kiai Said pun membiarkan putra keduanya itu melakukan apa saja sepanjang tidak bertentangan dengan syariat Islam. (Redaksi/bersambung)

(*) Materi artikel ini disadur dari buku Sidoarjo Bumi Aulia atas seizin Bappeda Kabupaten Sidoarjo sebagai pemilik produk

Artikel Terkait

Pilihan Editor

Pilihan Editor

Terpopuler

Artikel Terbaru

Artikel Terkait