Memasuki bulan suci Ramadan 1447 Hijriah/2026 Masehi, Metrotoday.id menayangkan kisah kisah religi jejak para Auliya (Waliyullah) penyebar agama Islam yang ada di wilayah Kabupaten Sidoarjo. Penayangan kisah ini bersumber dari buku “Sidoarjo Bumi Aulia” karya Muh. Subhan dan Fathur Roziq.
—————————–
K.H. ALI MAS’UD atau biasa disapa Kiai Ali Mas’ud, Gus Ud, atau Mbah Ud, adalah nama salah seorang waliyullah di Kabupaten Sidoarjo yang berperilaku nyentrik. Namanya dikenal luas dan sangat dihormati karena karamah-karamahnya.
Mbah Ud memiliki banyak kelebihan yang tidak dimiliki oleh manusia biasa. Ini karena beliau mendapatkan pangkat kewalian sejak lahir. Beliau memiliki ilmu laduni dan berbagai kelebihan lain di luar nalar yang merupakan karunia langsung dari Allah SWT tanpa melalui pendidikan formal maupun laku spiritual khusus seperti tirakat dan sejenisnya.
K.H. Ali Mas’ud atau Mbah Ud lahir di Pondok Pesantren Sono di Dusun Sono, Desa Sidokerto, Kecamatan Buduran, Kabupaten Sidoarjo.
Ayahnya bernama Kiai Said yang juga salah seorang pengasuh di Pesantren Sono yang didirikan oleh kakeknya, Kiai Muhaiyyin. Namun di akhir hayat, Mbah Ud dimakamkan berdampingan dengan makam ibunya, Nyai Hj. Fatmah, di Desa Pagerwojo, Buduran, Sidoarjo.
Makamnya berdampingan dengan pemakaman umum, tepatnya Makam Islam Desa Pagerwojo, di RT 26 RW 06. Kini menjadi salah satu makam yang paling sering dikunjungi oleh para peziarah dan menjadi salah satu destinasi wisata religi di Kabupaten Sidoarjo.
Para peziarah tidak hanya datang dari Sidoarjo dan sekitarnya seperti Surabaya, Gresik, Tuban, Mojokerto, dan Jombang. Tapi, juga datang dari luar kota, bahkan luar pulau. Mulai dari Jakarta, Bandung, Semarang, Solo, Yogyakarta, bahkan dari Kalimantan, Sumatera, dan NTB.

Hal itu tampak dari mobil pribadi, bus, dan kendaraan lain yang mereka bawa saat berziarah. Mobil-mobil itu menggunakan pelat nomor dari luar wilayah Sidoarjo atau wilayah lain di Jawa Timur.
Para peziarah yang datang ke makam Mbah Ud tidak mengenal waktu. Mereka datang silih berganti. Tapi, biasanya jumlah mereka lebih banyak pada malam hari. Malam Jumat Legi menjadi puncaknya.
Mereka berdoa, berdzikir, atau membaca Al-Quran, duduk di lantai keramik warna putih menghadap ke arah cungkup makam Mbah Ud yang berisi empat makam. Yakni, makam Mbah Ud, sang ibunda Nyai Hj. Fatmah, kakanda Nyai Masrifah, dan paman dari ayah, H. Hasyim.
Cungkup makam Mbah Ud berbentuk kotak dengan dinding kayu berhias ukiran Jepara berwarna coklat yang dihiasi kaligrafi Arab. Isinya kalimat-kalimat pujian dan sholawat kepada Nabi Muhammad SAW.
Hal itu selaras karena semasa hidupnya, Mbah Ud gemar menghadiri terbangan (majelis hadrah) yang banyak melantunkan pujian-pujian kepada Nabi Muhammad SAW dan syair-syair bernafaskan Islam.
Bagian atas makam Mbah Ud dan keluarga berbentuk rumah joglo. Atapnya dua tingkat berwarna hijau dengan bagian atas dihiasi bangunan menara berbentuk seperti peluru.
Sebagai pengenal, di bagian depan dipasang tulisan: Makam K.H. Ali Mas’ud, dengan hiasan ornamen berbentuk segi empat ketupat berjumlah tiga kotak.
Di sebelah timur bangunan makam terdapat bangunan lagi berbentuk rumah joglo dengan atap satu tingkat berwarna merah bata. Fungsinya sebagai aula atau pendopo dan musholla putri. Kedua bangunan itu dikelola oleh sebuah kepengurusan berbentuk yayasan yang saat ini dipimpin oleh cicit dari Nyai Hj. Masrifah, kakak Mbah Ud.
Selain masyarakat biasa, makam K.H. Ali Mas’ud juga sering diziarahi para pejabat. Bahkan, makam yang dipugar pada tahun 1990-an ini pernah dikunjungi oleh Presiden Keempat RI, K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), dan da’i sejuta umat dari Jakarta, K.H. Zainuddin MZ.
Kedua tokoh ini memang dikenal sering berziarah ke makam para wali dan ulama jika berkunjung ke suatu daerah. Selain untuk mengingat jasa serta perjuangan para tokoh agama dan para ulama yang diziarahi, juga sebagai washilah (perantara) untuk mendapatkan solusi dan pencerahan spiritual. (Redaksi/bersambung)
(*) Materi artikel ini disadur dari buku Sidoarjo Bumi Aulia atas seizin Bappeda Kabupaten Sidoarjo sebagai pemilik produk


