Ilustrasi by Gemini
Oleh: Machsus (*)
PERGURUAN tinggi negeri berbadan hukum (PTNBH) hari-hari ini hidup dalam dunia yang semakin penuh angka. Ada Indikator Kinerja Utama (IKU), indikator internal, capaian Sustainable Development Goals (SDGs), hingga berbagai pemeringkatan global. Semuanya penting dan perlu diukur.
Namun, di tengah kesibukan mengejar angka, ada satu pertanyaan sederhana yang tak boleh dilupakan: apakah kinerja perguruan tinggi benar-benar dirasakan oleh orang-orang yang setiap hari hidup di dalamnya?
Pertanyaan ini pula yang mengemuka dalam telaah kritis para Anggota Senat Akademik ITS saat membahas Laporan Kinerja ITS Tengah Tahun 2026.
Untuk menjawabnya, kita tidak harus selalu mulai dari hal-hal besar. Bisa dari urusan sehari-hari seperti parkir. Tentu kualitas universitas tidak bisa diukur dari tempat parkir semata. Kampus juga tidak otomatis menjadi kelas dunia hanya karena memiliki gedung parkir bertingkat.
Namun, dari cara kampus menata parkir, jalur pedestrian, transportasi internal, ruang terbuka hijau, ruang belajar, dan fasilitas publik, kita sebenarnya bisa membaca sesuatu yang lebih mendasar, yakni apakah kebijakan institusi benar-benar turun dari dokumen dan hadir sebagai layanan yang dirasakan warga kampus.
Parkir, Wajah Layanan Kampus
Bagi pengguna, urusan parkir sebenarnya sederhana, yakni datang, mudah mendapat tempat, kendaraan aman, lalu berjalan menuju tujuan. Namun bagi pengelola kampus, ceritanya tak sesederhana itu.
Setiap hari, puluhan ribu mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, tamu, mitra industri, hingga akademisi internasional keluar-masuk kampus. Yang dibutuhkan bukan sekadar tempat menitipkan kendaraan, tetapi juga sistem pergerakan yang aman, nyaman, tertib, dan mudah diakses.
Pengalaman seseorang terhadap kampus bahkan dimulai sebelum ia masuk ruang kuliah atau laboratorium. Apakah aksesnya lancar? Parkir mudah ditemukan? Jalur pedestrian nyaman? Penyandang disabilitas mudah bergerak? Ada angkutan internal? Sepeda mendapat ruang? Dan yang paling sederhana adalah apakah orang nyaman berjalan dari satu tempat ke tempat lain?
Lantaran itu, parkir sesungguhnya merupakan salah satu wajah layanan kampus. Di ITS, misalnya, dua fasilitas parkir baru telah dibangun, yakni Gedung Parkir Motor Bertingkat di KPA 2 dan di kawasan Vokasi. Keduanya menjawab kebutuhan yang nyata, yakni jumlah mahasiswa dan kendaraan bertambah, aktivitas kampus meningkat, sementara ruang kampus tentu tidak mungkin ikut bertambah.
Namun, persoalan parkir tidak akan pernah benar-benar selesai jika jawabannya selalu menambah tempat parkir. Semakin banyak ruang disediakan untuk kendaraan, semakin besar pula kecenderungan orang membawa kendaraan pribadi. Kita bisa terjebak dalam lingkaran yang sama, yakni kendaraan bertambah, parkir ditambah, lalu kendaraan bertambah lagi.
Di sinilah cara pandang perlu bergeser, dari sekadar parking management menuju mobility management. Parkir bukan lagi fasilitas yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari ekosistem mobilitas kampus. Ia harus terhubung dengan jalur pedestrian yang nyaman, jalur sepeda, transportasi internal, kendaraan rendah emisi, charging station, konektivitas dengan transportasi umum, hingga kebijakan pengendalian kendaraan pribadi.
Pada akhirnya, keberhasilan pengelolaan parkir bukan sekadar soal berapa banyak kendaraan yang dapat ditampung, melainkan seberapa mudah, aman, dan nyaman manusia dapat bergerak di dalam kampus. Sebab, kampus sejatinya dibangun untuk manusia, bukan untuk kendaraan.
Infrastruktur Kampus Berkelanjutan
Dari parkir, kita bisa melihat persoalan yang lebih besar, yakni infrastruktur kampus. Selama ini infrastruktur sering dibaca dari apa yang terlihat. Berapa gedung baru dibangun, berapa laboratorium tersedia, bagaimana jalan, ruang kuliah, listrik, air, dan berbagai fasilitas lainnya. Seolah semakin banyak yang dibangun, semakin baik pula infrastrukturnya.
Padahal tidak selalu demikian. Infrastruktur yang baik bukan sekadar banyaknya bangunan, tetapi bagaimana seluruh fasilitas itu bekerja sebagai satu ekosistem dan memberi manfaat. Gedung berkaitan dengan energi, transportasi dengan emisi, parkir dengan penggunaan lahan, pedestrian dengan aksesibilitas, ruang terbuka hijau dengan kualitas lingkungan, dan infrastruktur digital dengan kemudahan layanan.
Di sinilah gagasan eco-campus atau sustainable campus menjadi penting. Kampus hijau tentu bukan sekadar kampus yang banyak pohonnya. Gedung berlabel green building juga belum cukup jika orang masih sulit berjalan kaki, kendaraan bermotor mendominasi ruang, energi digunakan secara boros, atau sampah belum tertangani dengan baik.
Sustainability bukan kosmetik lingkungan, tetapi cara kampus dikelola. Contohnya pengembangan InfinITS Park sebagai ruang terbuka hijau sekaligus ruang publik dengan jogging track, outdoor fitness, playground, plaza, dan amfiteater. Warga kampus dapat berolahraga, bertemu, berdiskusi, atau sekadar menikmati ruang terbuka.
Menariknya, kawasan ini tidak berhenti sebagai taman. Danau di dalamnya juga dapat menjadi ruang pembelajaran dan uji coba teknologi kemaritiman hasil riset ITS, termasuk kapal pembersih sampah nirawak. Di sini ruang publik bertemu dengan pendidikan, rekreasi bertemu dengan penelitian, dan infrastruktur bertemu dengan inovasi.
Inilah semangat living laboratory. Kampus tidak cukup mengajarkan sustainability di ruang kuliah atau menuliskannya dalam jurnal. Kampus harus menjadi tempat pertama untuk mencobanya. Kalau kita mengajarkan energi terbarukan, kampus semestinya menjadi etalasenya.
Kalau kita meneliti transportasi berkelanjutan, kampus seharusnya menjadi tempat mengujinya. Kalau kita berbicara tentang smart city, kampus dapat menjadi laboratorium kecilnya. Jadi, kampus bukan hanya tempat menghasilkan pengetahuan, melainkan juga tempat pengetahuan diuji dan dirasakan manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari.
IKU: Tangguh, Berdampak, Mendunia
Di sinilah benang merah, antara infrastruktur dan IKU. Tentu bukan berarti parkir atau taman adalah IKU. Hubungannya tak sesederhana itu. Parkir adalah bagian dari mobilitas. Mobilitas adalah bagian dari infrastruktur. Infrastruktur berkelanjutan mendukung SDGs dan melahirkan layanan. Layanan membentuk pengalaman, dan pengalaman menentukan dampak.
Masalahnya, indikator terkadang terlalu nyaman hidup di dashboard. Angka naik, grafik menghijau, target tercapai 100 persen, dan laporan selesai. Tetapi warga kampus boleh jadi masih bertanya, apa yang benar-benar berubah? Jika berbicara sustainability, apakah kampus semakin nyaman? Jika berbicara inklusivitas, apakah semua orang, termasuk penyandang disabilitas, semakin mudah bergerak? Lantaran itu, IKU yang baik bukan hanya bisa dihitung, tetapi juga harus bisa dirasakan. Itulah IKU yang membumi.
Begitu pula dengan world-class university. Publikasi, sitasi, reputasi, dan jejaring global tentu penting. Namun, world-class academics membutuhkan world-class ecosystem, yakni laboratorium yang baik, mobilitas yang nyaman, layanan digital yang cepat, dan lingkungan kampus yang berkualitas. Lantaran itu, academic excellence harus berjalan bersama institutional excellence.
Pada akhirnya, kita kembali kepada parkir. Bukan karena ia yang terpenting, tetapi dari hal sederhana itu kita dapat membaca sesuatu yang lebih besar, yakni mobilitas, infrastruktur, sustainability, hingga kinerja perguruan tinggi. Sebab, kinerja PTNBH tidak cukup tercatat dalam dashboard. Ia harus terlihat dalam ruang, terasa dalam layanan, dan terbukti dalam dampak.
(*) Wakil Rektor II Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Program Indonesia Pintar (PIP) aspirasi Anggota DPR RI Puti Guntur Soekarno kembali disalurkan kepada warga…
Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam aliansi BEM Seluruh Indonesia Jawa Timur menggelar aksi demonstrasi di…
Ratusan juru parkir yang tergabung dalam Paguyuban Juru Parkir Surabaya (PJS) menggelar aksi unjuk rasa…
Pasar Burung eks-Lokalisasi Dolly, Kelurahan Putat Jaya, Surabaya, dipadati warga saat digelarnya puncak Pekan Budaya…
Pelatih Timnas U-20 Indonesia, Nova Arianto, akhirnya merilis daftar berisi 23 pemain pilihan yang akan…
Rangkaian Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur…
This website uses cookies.