METROTODAY, SURABAYA – Warga Muhammadiyah di Surabaya mulai menjalankan salat tarawih, Selasa (17/2) malam, sebagai penanda awal Ramadan 1447 Hijriah. Hal ini berbeda dengan sebagian umat yang akan memulai Rabu (18/2) mengikuti ketetapan sidang isbat Kementerian Agama.
Di Masjid Saifunnur Mulyorejo, jamaah datang berbondong-bondong sebelum adzan Isya’. Mayoritas di antaranya merupakan warga Muhammadiyah.
Sekretaris Takmir Masjid Saifunnur, Nafis Kurtubi, menjelaskan bahwa dasar penetapan jadwal awal Ramadan tersebut berdasarkan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).
“Kami di bawah naungan Muhammadiyah hanya mengikuti saja, dan insya Allah apapun keputusan dari Muhammadiyah, sudah siap menjalankan,” ujarnya pada Selasa (17/2).
Ia menambahkan bahwa persiapan telah dilakukan jauh hari sebelumnya, termasuk penetapan imam dan khatib.
“Untuk pelaksanaan tarawih kita mulai menyusun imam hingga khatib, bahkan persiapan untuk buka bersama selama 30 hari sudah siap. Selain itu, setiap minggunya akan diadakan prasmanan selama tiga kali,” jelas Nafis.
Terkait dengan perbedaan awal Ramadan, menurutnya, hal yang biasa. Pihaknya tetap menjaga kerukunan beribadah. “Apapun keputusan dari pimpinan Muhammadiyah kita ikuti, dan tidak ada masalah sama sekali antara warga dari berbagai kalangan,” katanya.
Ia berharap Ramadan kali ini dapat menjadi ajang untuk meningkatkan takwa dan memperbanyak ibadah. Salat tarawih di masjid tersebut dilaksanakan 11 rakaat, ditambah dua rakaat iftitah dan satu witir sehingga total 13 rakaat. (ahm)
METROTODAY, SURABAYA – Warga Muhammadiyah di Surabaya mulai menjalankan salat tarawih, Selasa (17/2) malam, sebagai penanda awal Ramadan 1447 Hijriah. Hal ini berbeda dengan sebagian umat yang akan memulai Rabu (18/2) mengikuti ketetapan sidang isbat Kementerian Agama.
Di Masjid Saifunnur Mulyorejo, jamaah datang berbondong-bondong sebelum adzan Isya’. Mayoritas di antaranya merupakan warga Muhammadiyah.
Sekretaris Takmir Masjid Saifunnur, Nafis Kurtubi, menjelaskan bahwa dasar penetapan jadwal awal Ramadan tersebut berdasarkan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).
“Kami di bawah naungan Muhammadiyah hanya mengikuti saja, dan insya Allah apapun keputusan dari Muhammadiyah, sudah siap menjalankan,” ujarnya pada Selasa (17/2).
Ia menambahkan bahwa persiapan telah dilakukan jauh hari sebelumnya, termasuk penetapan imam dan khatib.
“Untuk pelaksanaan tarawih kita mulai menyusun imam hingga khatib, bahkan persiapan untuk buka bersama selama 30 hari sudah siap. Selain itu, setiap minggunya akan diadakan prasmanan selama tiga kali,” jelas Nafis.
Terkait dengan perbedaan awal Ramadan, menurutnya, hal yang biasa. Pihaknya tetap menjaga kerukunan beribadah. “Apapun keputusan dari pimpinan Muhammadiyah kita ikuti, dan tidak ada masalah sama sekali antara warga dari berbagai kalangan,” katanya.
Ia berharap Ramadan kali ini dapat menjadi ajang untuk meningkatkan takwa dan memperbanyak ibadah. Salat tarawih di masjid tersebut dilaksanakan 11 rakaat, ditambah dua rakaat iftitah dan satu witir sehingga total 13 rakaat. (ahm)