4 February 2026, 6:17 AM WIB

Libur Nataru Bermanfaat untuk Tumbuh Kembang Anak, Pulihkan Kondisi Mental dan Beri Pengalaman Baru

METROTODAY, SURABAYA – Menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru), libur panjang menjadi momen yang dinanti anak-anak setelah menjalani satu semester penuh dengan rutinitas sekolah.

Masa libur kerap dimanfaatkan sebagai waktu jeda dari aktivitas akademik, dan menurut psikolog Nur Ainy Fardana Nawangsari (Neny), hal ini memberikan berbagai manfaat bagi proses tumbuh kembang mereka.

Ia menjelaskan bahwa liburan merupakan bagian dari upaya menjaga keseimbangan fisik dan mental anak, mengingat anak-anak telah menghabiskan banyak waktu dengan rutinitas yang menguras kemampuan kognitif, fisik, dan emosional.

“Yang sebenarnya dipulihkan ketika anak memasuki masa liburan itu adalah pengalamannya dan kondisi mentalnya. Anak-anak mendapatkan pengalaman baru, lalu dari pengalaman itu mereka merasa lebih nyaman dan memiliki cara pandang yang berbeda tentang potensi dirinya dan tentang apa yang ada di sekitarnya,” jelasnya, Senin (29/12).

Perempuan yang juga dosen Psikologi Unair ini menilai bahwa pengalaman baru tersebut tidak selalu membutuhkan biaya besar. Orang tua dapat merancang aktivitas sederhana di rumah yang memberi ruang bagi anak untuk keluar dari rutinitas akademik, sekaligus menjadi waktu kebersamaan keluarga.

“Aktivitasnya bisa apa saja, sesederhana apa pun. Misalnya di rumah anak-anak bisa diajak membuat proyek tertentu atau kalau orang tuanya punya aktivitas usaha, anak-anak bisa terlibat di sana. Ajak anak-anak melakukan aktivitas yang selama ini tidak bisa mereka lakukan karena jadwal sekolah yang padat. Itu bisa jadi pengalaman baru untuk mereka,” ujarnya.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa aktivitas selama liburan sebaiknya tidak dibingkai dalam target atau tuntutan tertentu.

Tekanan semacam itu justru dapat mengurangi manfaat liburan, karena masa libur perlu diposisikan sebagai ruang bermain dan berekspresi agar anak dapat mengenali dirinya serta mengeksplorasi potensi di luar rutinitas sekolah yang ketat.

Peran orang tua menjadi aspek penting dalam memastikan liburan anak benar-benar bermakna.

Setiap anak memiliki karakter dan kebutuhan yang berbeda, sehingga orang tua perlu peka dalam mendampingi dan memfasilitasi aktivitas selama libur.

“Orang tua bisa bertanya kepada anak apa yang ingin dilakukan selama libur. Kalau memang tidak bisa bepergian, anak tetap bisa memilih aktivitas yang mereka sukai di rumah,” ujar Neny.

Ia juga menekankan bahwa meskipun liburan kerap dipandang sebagai masa ‘bebas’ bagi anak, pendampingan orang tua tetap diperlukan.

“Orang tua perlu memfasilitasi aktivitas yang menggugah kreativitas anak, memberi kebebasan anak mengeksplorasi potensi-potensi positif yang mereka miliki. Sekaligus tetap memantau aktivitas anak selama libur dan menjaga kesehatannya. Baik fisik maupun mental,” pungkasnya. (ahm)

METROTODAY, SURABAYA – Menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru), libur panjang menjadi momen yang dinanti anak-anak setelah menjalani satu semester penuh dengan rutinitas sekolah.

Masa libur kerap dimanfaatkan sebagai waktu jeda dari aktivitas akademik, dan menurut psikolog Nur Ainy Fardana Nawangsari (Neny), hal ini memberikan berbagai manfaat bagi proses tumbuh kembang mereka.

Ia menjelaskan bahwa liburan merupakan bagian dari upaya menjaga keseimbangan fisik dan mental anak, mengingat anak-anak telah menghabiskan banyak waktu dengan rutinitas yang menguras kemampuan kognitif, fisik, dan emosional.

“Yang sebenarnya dipulihkan ketika anak memasuki masa liburan itu adalah pengalamannya dan kondisi mentalnya. Anak-anak mendapatkan pengalaman baru, lalu dari pengalaman itu mereka merasa lebih nyaman dan memiliki cara pandang yang berbeda tentang potensi dirinya dan tentang apa yang ada di sekitarnya,” jelasnya, Senin (29/12).

Perempuan yang juga dosen Psikologi Unair ini menilai bahwa pengalaman baru tersebut tidak selalu membutuhkan biaya besar. Orang tua dapat merancang aktivitas sederhana di rumah yang memberi ruang bagi anak untuk keluar dari rutinitas akademik, sekaligus menjadi waktu kebersamaan keluarga.

“Aktivitasnya bisa apa saja, sesederhana apa pun. Misalnya di rumah anak-anak bisa diajak membuat proyek tertentu atau kalau orang tuanya punya aktivitas usaha, anak-anak bisa terlibat di sana. Ajak anak-anak melakukan aktivitas yang selama ini tidak bisa mereka lakukan karena jadwal sekolah yang padat. Itu bisa jadi pengalaman baru untuk mereka,” ujarnya.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa aktivitas selama liburan sebaiknya tidak dibingkai dalam target atau tuntutan tertentu.

Tekanan semacam itu justru dapat mengurangi manfaat liburan, karena masa libur perlu diposisikan sebagai ruang bermain dan berekspresi agar anak dapat mengenali dirinya serta mengeksplorasi potensi di luar rutinitas sekolah yang ketat.

Peran orang tua menjadi aspek penting dalam memastikan liburan anak benar-benar bermakna.

Setiap anak memiliki karakter dan kebutuhan yang berbeda, sehingga orang tua perlu peka dalam mendampingi dan memfasilitasi aktivitas selama libur.

“Orang tua bisa bertanya kepada anak apa yang ingin dilakukan selama libur. Kalau memang tidak bisa bepergian, anak tetap bisa memilih aktivitas yang mereka sukai di rumah,” ujar Neny.

Ia juga menekankan bahwa meskipun liburan kerap dipandang sebagai masa ‘bebas’ bagi anak, pendampingan orang tua tetap diperlukan.

“Orang tua perlu memfasilitasi aktivitas yang menggugah kreativitas anak, memberi kebebasan anak mengeksplorasi potensi-potensi positif yang mereka miliki. Sekaligus tetap memantau aktivitas anak selama libur dan menjaga kesehatannya. Baik fisik maupun mental,” pungkasnya. (ahm)

Artikel Terkait

Pilihan Editor

Pilihan Editor

Terpopuler

Artikel Terbaru

Artikel Terkait