Categories: Woman Files

Menjadi Cantik dan Ramah Lingkungan dengan Slow Beauty, Melawan yang Viral dan Trend!

METROTODAY, SURABAYA – Beauty trend sekarang seolah tidak ada matinya dan habisnya. Setiap minggu, ada saja beauty produk yang dirilis. Maka dari itu, muncul konsep slow beauty sebagai angin segar.

Berbeda dengan fast beauty, slow beauty lebih menekankan kita untuk merawat diri secara mindful, fokus pada sustainability, dan proses.

Tidak hanya FOMO terhadap tren tren beauty produk seperti skincare dan makeup di internet dan sosial media.
Konsep slow beuaty ini bukan hanya tentang produk, tetapi tentang gaya hidup.

Di zaman dimana banyak orang berlomba lomba untuk ikut tren yang sedang viral dari influencer, slow beauty mengajak untuk melihat apa yang benar-benar dibutuhkan oleh tubuh, wajah, dan juga pikiran.

Lalu, apa sebetulnya slow beauty?
Slow beauty adalah filosofi self treatment yang berfokus pada proses alami dan perawatan jangka panjang.

Ide dari slow beauty ini berasal dari gerakan slow living, yang mendorong orang untuk hidup lebih lambat, lebih mindful, dan lebih sustainable atau ramah lingkungan.

Daripada menggunakan banyak produk sekaligus atau mencoba skincare dengan yang diklaim bisa terbukti secara instan, slow beauty menekankan pentingnya memahami apa yang cocok untuk tubuh masing-masing.

Seperti, pemilihan bahan-bahan alami, skincare routine yang simple tapi konsisten, serta aware terhadap dampak lingkungan dari produk yang kita gunakan.

Dari segi praktik, slow beauty bisa berarti memilih sabun mandi yang dapat diisi ulang (refill), menggunakan produk dengan bahan organik atau lokal, hingga mempraktikkan ritual perawatan diri yang melibatkan mindfulness, seperti meditasi sambil memakai masker wajah.

Semakin banyak konsumen, terutama generasi muda, mulai mempertanyakan dampak produk kecantikan terhadap lingkungan dan kesehatan mereka.

Mereka juga menyadari bahwa beauty burnout, itu nyata adanya. Beauty burn out adalah kelelahan karena terlalu banyak mencoba produk.

Belum lagi, banyak skincare mengandung bahan aktif tinggi yang jika digunakan berlebihan atau tidak sesuai bisa menyebabkan iritasi, skin purging, hingga kerusakan barrier kulit.

Filosofi slow beauty hadir untuk melawan itu. Dimana kita tidak perlu melakukan 10-step skincare jika kulit kita hanya butuh tiga. Yang penting bukan banyaknya produk, tapi kualitas dan kecocokannya.

Berikut ini poin poin utama dari slow beauty:

1. Mindfulness

Cantik itu bukan soal perawatan atau produk yang digunakan saja. Slow beauty mendorong kita untuk menjadikan perawatan diri sebagai momen ‘mindful’ yang terjadi di saat ini, bukan sekadar rutinitas yang dilakukan secara terburu-buru sebelum tidur.

2. Sustainability

Slow beauty juga fokus pada dampak jangka panjang untuk lingkungan. Banyak pihan produk yang ramah lingkungan, cruelty-free, dan dikemas dengan material daur ulang adalah bagian dari komitmen slow beauty.

3. Kualitas daripada Kuantitas

Filosofi slow beauty menyarankan agar kita tidak tergoda membeli banyak produk, melainkan cukup memilih beberapa yang benar-benar berfungsi dan sesuai kebutuhan.

4. Fokus ke hubungan nature and human

Banyak pelaku slow beauty mengandalkan bahan alami, bukan karena semua bahan kimia buruk, tapi karena ingin reconnect dengan apa yang bersumber dari alam, dan memahami tubuh sendiri secara lebih dalam.

Mengadopsi slow beauty tidak hanya membuat kulit lebih sehat, tapi juga membantu menciptakan hubungan yang lebih sehat antara kita dan tubuh kita.

Dengan memberi ruang untuk merasakan apa yang benar-benar dibutuhkan, kita belajar untuk tidak terpaku pada standar kecantikan yang tidak realistis.

Selain itu, pendekatan ini bisa mengurangi limbah rumah tangga dari produk kecantikan yang menumpuk, serta menghemat uang dalam jangka panjang.

Yang tadinya terbiasa impulsif membeli serum atau masker viral, kini bisa lebih bijak dan terarah dalam membeli produk.

Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk memulai gaya hidup slow beauty.

Tidak perlu langsung membuang semua produk lama. Slow beauty bisa dimulai dengan langkah sederhana, berikut:

• Review kembali produk yang kita miliki. Apakah semuanya benar-benar digunakan?

• Mulai praktik skin fasting atau mengistirahatkan kulit dari skincare berlapis-lapis.

• Pilih produk multifungsi untuk mengurangi jumlah item dalam daily skincare.

• Beri waktu lebih untuk tidur, meditasi, atau sekadar minum teh tanpa screen time dari gadget. (alk)

Jay Wijayanto

Recent Posts

Taxmon Perkuat Pengawasan Pajak Daerah, Pemkab Sidoarjo Targetkan 454 Titik Terpasang Akhir Juli 2026

Pemerintah Kabupaten Sidoarjo terus mempercepat digitalisasi pengelolaan pajak daerah melalui pemasangan Tax Monitoring System (Taxmon)…

6 hours ago

Socceroos Kena Tilang di Seattle, Amerika Melaju ke 32 Besar Piala Dunia 2026

Amerika Serikat memastikan langkah ke babak 32 besar Piala Dunia 2026 setelah menundukkan Australia dengan…

18 hours ago

Cinta Rashford pada Barcelona Bertepuk Sebelah Tangan meski Sudah Rela Turun Harga

Masa depan Marcus Rashford menjadi salah satu “kisah cinta” paling dramatis di bursa transfer Eropa.…

18 hours ago

Cak Klepon Pabean Cantian Jemput Bola Urus Akta Kelahiran dan Kematian Warga Surabaya

Kecamatan Pabean Cantian menghadirkan terobosan layanan administrasi kependudukan bernama Cak Klepon atau Cetak Akte Kelahiran…

18 hours ago

Gaji ke-13 dan TPP ASN/PPPK Surabaya Dipastikan Cair, TPP Naik Menjadi 100 Persen

Pemkot Surabaya memastikan gaji ke-13 serta Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN)…

19 hours ago

Liverpool Bertaruh dengan Iraola, Van Dijk Akui Terkejut Slot Didepak

Liverpool FC resmi mengakhiri kerja sama dengan Arne Slot setelah dua musim kebersamaan dan langsung…

20 hours ago

This website uses cookies.