Kompleks makam bagian timur tergolong relatif baru. Dibangun pada tahun 1990-an dan difungsikan setelah Kiai Mas wafat pada tahun 2018. Masyarakat sekitar menyebutnya dengan nama Gedung Bundar.
Letak kompleks makam bagian barat dan makam tengah hanya dipisahkan oleh jalan kampung selebar kurang lebih 8 meter. Namun, ukuran makam barat relatif lebih sempit. Sekitar 15 x 12 meter. Kondisi keduanya sangat kontras.
Beliau dikenal sebagai ulama kharismatik, pendakwah, sekaligus penulis kitab yang produktif. Cerita lisan maupun catatan yang tersisa menyebutkan bahwa Mbah Zainal Abidin telah menghasilkan tidak kurang dari 16 kitab,
Luas Makam Islam Desa Tambaksumur sekitar 1 hektare. Di sudut timur laut, terdapat bangunan calon rumah joglo yang sedang dalam proses penyelesaian. Bangunan itu tampak diistimewakan.
Cukup mudah menjangkau Desa Tambaksumur, Kecamatan Waru, Kabupaten Sidoarjo. Di tengah ruas Jalan Tol Waru—Juanda, terdapat exit tol bernama Tambaksumur. Sekitar 1 kilometer, perjalanan akan tiba di lokasi.
”Kelak, Tambaksumur akan jadi ramai seperti Ampel. Orang akan datang ke sini dulu sebelum ke Ampel sebab di sini ban¬yak terdapat makam wali Allah.” Kalimat dari Kiai Mas itu diyakini masyarakat Desa Tambaksumur.
Cerita-cerita unik dan menggugah keingintahuan masyarakat turut menghiasi eksistensi makam Mbah Ibrahim Al-Jaelani di Bungurasih. Bahkan cerita tersebut disertai bukti yang sulit untuk ditampik kebenarannya.
Bungurasih adalah salah satu dari 17 desa di Kecamatan Waru, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Desa tersebut menyimpan banyak kisah persebaran Islam yang bertalian erat dengan sepak terjang Sunan Ampel.
Terminal Bungurasih tak bisa dilepaskan dari lokasinya yang berada di Desa Bungurasih. Masyarakat sekitar percaya bahwa nama desa diambil dari seorang figur aulia, yakni Mbah Bungur atau Ibrahim Al-Jaelani.