Kaki harus melangkah pulang, sementara hati masih ingin menetap. Seakan-akan ada bagian dari diri yang tertinggal di antara lantunan doa, di sela-sela salam kepada Rasulullah, atau mungkin di sudut Raudhah yang tak sempa
DI antara sekian banyak oleh-oleh yang dibawa pulang dari Tanah Suci, barangkali tidak ada yang lebih khas, lebih simbolik, dan lebih “sakral” dalam imajinasi jamaah selain air zamzam.
DI setiap perjalanan, selalu ada dua jenis oleh-oleh: yang terlihat dan yang terasa. Yang terlihat biasanya memenuhi koper, seperti kurma, cokelat, sajadah, tasbih, parfum, air zamzam, dan segala bentuk cendera mata yang secara fisik bisa disentuh, dibungkus, dibagikan, bahkan ditimbang di bandara.
Tulisan ini bukan sekadar refleksi spiritual, melainkan catatan perjalanan yang lahir di tengah waktu yang tak sepenuhnya hening. Kami menjejakkan kaki di Tanah Haram ketika kawasan Timur Tengah dipenuhi riuh perang
TIDAK semua perjalanan meninggalkan jejak yang kasat mata. Ada yang justru bekerja dalam diam, meresap perlahan ke dalam hati, lalu menggeser cara kita memandang hidup tanpa banyak kata.
Jika Makkah mengguncang kesadaran dengan keagungan tauhid, Madinah menenangkan jiwa dengan kelembutan cinta kepada Rasulullah Saw. Di titik ini, saya semakin memahami bahwa kecepatan peradaban modern tidak selalu sejalan
Ada satu hal menarik yang saya rasakan setiap kali menaiki kereta cepat. Bukan hanya karena kecepatannya yang melampaui imajinasi masa kecil, yang dulu menganggap perjalanan antarkota adalah urusan berjam-jam, penuh mace
Lebaran di Tanah Haram jauh lebih sederhana, bahkan sangat sederhana. Bukan karena efek efisiensi lantaran harga BBM melambung tinggi, apalagi karena ulah Trump dan Netanyahu yang nyumet mercon dan kembang api
Memasuki bulan suci Ramadan, kurma menjadi primadona bagi berbagai kalangan terutama sebagai menu berbuka puasa. Tak sedikit outlet penjual kurma saat ini dipenuhi masyarakat yang berbondong-bondong datang membeli, seper