Makam Mbah Ud juga dipergunakan untuk menggelar pengajian dan aktivitas keagamaan lain. Apalagi saat haul Mbah Ud yang jatuh pada 27 Rajab bertepatan dengan peringatan Isra’ Mi’raj. Kompleks makam penuh sesak dengan ribu
SETELAH meninggal dan dimakamkan, karamah Mbah Ud menjadi berkah tersendiri bagi Desa Pagerwojo. Hal itu disampaikan Kades Pagerwojo Achmad Mulyanto. Desa Pagerwojo yang dulu termasuk terbelakang, atas izin Allah Swt,
K.H. Ali Mas’ud atau Mbah Ud wafat pada Selasa Pahing tanggal 10 Juni 1980, bertepatan dengan 26 Rajab 1401 Hijriah. Dia meninggal di rumah istri terakhirnya, Nyai Dewi Maryam, di Daleman, Sidoarjo. Mbah Ud dimakamkan
MBAH UD atau K.H. Ali Mas’ud memiliki kedekatan dengan K.H. Chamim Tohari Djazuli atau Gus Miek dari Ploso, Kediri. Beliau adalah pendiri amalan dzikir Jamaah Mujahadah Lailiyah, Dzikrul Ghofilin, dan Sema'an Jantiko
K.H. ALI MAS’UD tercatat enam kali melangsungkan pernikahan. Yang pertama dengan Nyai Maisarah atau Nyai Sarah dari Pagerwojo, Sidoarjo. Beliau adalah putri dari K.H. Manan yang masih saudara dari K.H. Said
MENURUT ilmu tasawuf, karomah atau kelebihan Mbah Ud atau KH. Ali Mas’ud ini adalah kelebihan yang mutlak. Baik bersifat musyahadah atau bisa terlihat dengan mata, maupun yang bersifat musyakafah atau yang tak terlihat
MBAH UD atau K.H. Ali Mas’ud juga dikenal mampu membaca pikiran dan perasaan seseorang meski tak pernah disampaikan dan hanya disimpan di dalam hati. Ini karena karomah atau kelebihan yang dimilikinya bersifat mutlak,
KAROMAH lain yang dimiliki K.H. Ali Mas’ud tentu adalah ilmu laduni dimana beliau memiliki pengetahuan dan pemahaman yang mendalam tentang sesuatu tanpa melalui proses pendidikan formal atau pembelajaran konvensional
SEPANJANG hidupnya, KH. Ali Mas’ud dikenal senang mengikuti kegiatan masyarakat yang mendorong pada peribadatan kepada Allah SWT. Baik melalui kegiatan pengajian, haul, khataman atau sema’an Quran, kesenian hadrah, dan
K.H. ALI MAS’UD atau Mbah Ud dikenal sebagai seorang waliyullah yang unik dan cenderung nyentrik. Beliau tidak berdakwah di mimbar-mimbar pengajian atau di pondok pesantren dengan ribuan santri. Tapi, lebih banyak hidup