Poster di Medsos yang menginfokan lokasi berada di Taman Perpustakaan Kampus B akhirnya berpindah di Stundent Center Kampus C Unair. (Foto: Istimewa)
METROTODAY, SURABAYA – Pemutaran film Pesta Babi yang digelar kalangan mahasiswa Universitas Airlangga (Unair), Selasa (19/5) malam lalu sempat diwarnai kekhawatiran.
Awalnya direncanakan di Taman Perpustakaan Kampus B, acara akhirnya dipindah ke Aula Lantai Dua Student Center Kampus C demi alasan keamanan.
Tak hanya itu penonton juga dibatasi awalnya untuk masyarakat luas akhirnya hanya untuk civitas akademika Unair.
Ketua BEM Unair 2026, M. Rizqi Senja Virawan mengungkapkan perpindahan lokasi dilakukan setelah panitia didatangi orang tidak dikenal (OTK) yang mengancam akan membubarkan acara jika tetap digelar di tempat semula.
“Kami sempat didekati orang tak dikenal yang bertanya soal acara ‘nobar Barbie Pesta Barbie’. Mereka mengancam akan membubarkan jika digelar di dalam kampus Unair. Demi keselamatan, kami ubah konsep dan pindah lokasi,” jelas Rizqi, Rabu (20/5).
Meski sempat diliputi rasa waswas, ia menyebut acara berjalan lancar. Pemilihan lokasi baru di Student Center dinilai lebih aman karena dijaga keamanan berlapis serta diawasi langsung perwakilan Direktorat Kemahasiswaan Unair. Acara ini dibatasi khusus untuk civitas akademika Unair saja.
“Memang ada rasa waswas, tapi lokasi ini jauh lebih nyaman dan aman. Ada satpam serta pengawasan petugas kampus. Ke depannya kami berharap bisa mengadakan acara serupa untuk masyarakat umum, belum tentu film yang sama, tapi mungkin karya lain,” tuturnya.
Lebih lanjut, Rizqi menjelaskan alasan pengadaan pemutaran film ini untuk mengangkat isu yang masih minim sorotan, yakni kondisi di tanah Papua.
Ia menilai isu tersebut kurang terdengar dibandingkan topik lain seperti program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Tujuannya mencerahkan mahasiswa dan menyadarkan bahwa eksploitasi di Papua, khususnya Merauke, sangat kejam. Isu ini perlu diangkat agar tak terpinggirkan,” ujarnya.
Meskipun diskusi tidak terlaksana karena keterbatasan waktu, harapannya mahasiswa makin peka dan aktif menyuarakan isu kemanusiaan tersebut.
Hal ini juga menjadi cerminan untuk turut peduli terhadap berbagai persoalan lokal di Surabaya dan lingkungan sekitar.
“Semoga makin banyak mahasiswa yang mengangkat isu Papua. Ini juga jadi representasi bahwa masih banyak di negeri ini yang butuh perhatian, termasuk isu lokal di Surabaya yang akan kami angkat dalam kegiatan lanjutan,” pungkasnya. (ahm)
Tim Rasena dari Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin (FTMM) Universitas Airlangga (Unair) merancang AURIS (Auditory…
Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) terus diperketat untuk mengawal kinerja perangkat daerah sekaligus mencegah risiko…
BRI menyalurkan bantuan paket sembako kepada sembilan panti asuhan, lembaga kesejahteraan sosial anak, dan gereja…
Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kota Surabaya menyiapkan sistem informasi khusus untuk mendata dan…
Perwakilan pengurus Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Sidoarjo menemui Bupati Sidoarjo H. Subandi SH MKn…
Regenerasi kepemimpinan mulai menjadi warna baru di tubuh PKB Sidoarjo. M. Rafi Wibisono dipercaya menjadi…
This website uses cookies.