METROTODAY, SURABAYA – Ratusan siswa tampak sigap dan tertib saat sirine tanda bahaya gempa berbunyi pada Selasa (7/4).
Sebagian siswa berlindung di bawah meja, sementara yang lain bergerak cepat menuju titik kumpul aman dengan melindungi kepala menggunakan tas.
Pihak sekolah dan petugas juga berkoordinasi cepat dalam skenario pencarian dan pertolongan bagi dua siswa yang dimasukkan sebagai korban tertahan.
Mereka segera dievakuasi menggunakan tandu darurat untuk mendapatkan penanganan medis.
Staf Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Surabaya, Novel Avianatan, menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan membekali anak-anak dengan pengetahuan dan keterampilan praktis saat menghadapi situasi darurat.
“Tujuannya supaya mereka siap ketika ada kejadian darurat dan tahu apa yang harus dilakukan. Kami berikan edukasi terkait potensi bencana apa saja yang bisa terjadi di Surabaya, seperti gempa bumi, banjir, hingga kebakaran, karena cara penanganannya berbeda-beda,” ujar Novel, Selasa (7/4).

Ia mencontohkan perbedaan mendasar prosedur keselamatan yang harus dipahami anak-anak.
“Misalnya gempa, harus berlindung terlebih dahulu di bawah meja yang kuat, jangan langsung lari karena berbahaya. Jika kebakaran, harus langsung evakuasi keluar bangunan. Itu perbedaannya yang harus mereka pahami,” jelasnya.
Novel menambahkan, sosialisasi dan simulasi seperti ini telah dilakukan sejak beberapa tahun lalu dan sudah menjangkau hampir seluruh sekolah di Surabaya, baik negeri maupun swasta, mulai dari tingkat SD hingga SMA.
Dampaknya dinilai sangat positif karena kesadaran siswa akan potensi bahaya semakin meningkat.
“Dampaknya positif, mereka jadi tahu bahwa Surabaya memiliki potensi gempa dan paham bagaimana cara menyelamatkan diri,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Sekolah Murid Merdeka (SMM), Stephanie Wylie, mengapresiasi kolaborasi ini. Menurutnya, belajar langsung dari petugas berpengalaman memberikan pengalaman nyata yang jauh berbeda dibandingkan sekadar teori di kelas.
“Selama ini mungkin anak belajar dari guru atau orang tua, tapi kali ini kami datangkan langsung expert-nya. Kami ingin mereka punya pengalaman riil bagaimana cara evakuasi dan penanganannya,” ucap Stephanie.
Pengalaman pernah menghadapi gempa di lokasi sebelumnya menjadi penyadar tersendiri bagi pihak sekolah akan pentingnya edukasi ini.
“Dari sana kami belajar bahwa ini penting banget, bukan hanya untuk di sekolah tapi bisa juga diaplikasikan di rumah. BPBD juga sangat friendly dan cara penyampaiannya mudah dimengerti anak-anak,” tuturnya.
Pada kesempatan kali ini, total ada 130 siswa mulai dari jenjang TK hingga SMA yang antusias mengikuti simulasi tersebut.
Kerja sama dengan instansi pemerintah seperti BPBD, Damkar, hingga DLH rencananya akan terus dilanjutkan demi meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana. (ahm)


