METROTODAY, SURABAYA – Pemkot Surabaya terus mendorong kebijakan yang berpihak pada warga ber-KTP Surabaya. Berbagai strategi dilakukan, mulai dari kerja sama dengan sektor industri, penyelenggaraan bursa kerja, hingga penguatan sektor ekspor untuk membuka lapangan pekerjaan seluas-luasnya.
Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, menyatakan pihaknya telah mengambil langkah konkret dengan menjalin kerja sama dengan sektor Hotel, Restoran, dan Kafe (Horeca).
Melalui kesepakatan tersebut, warga Surabaya diharapkan dapat terlibat langsung dalam pemenuhan kebutuhan bahan baku industri tersebut.
“Sudah ada kesepakatan, kita menjalin MoU dengan Horeca. Maka saya berharap warga Surabaya sekarang ambil peranan (peluang) itu,” ujar Eri (6/4).
Ia menuturkan, kebutuhan sektor Horeca seperti sayur dan bahan lainnya telah diakomodasi.
Pihaknya kini mendorong keterlibatan generasi muda untuk mengisi peluang tersebut melalui pembekalan keterampilan dan dukungan langsung.
“Nah, ini nanti yang kita ajak, kita latih, langsung kita support untuk pengisian (kebutuhan Horeca) itu,” katanya.
Selain itu, Pemkot juga menyiapkan Surabaya Job Fair yang menyediakan lebih dari 1.000 lowongan pekerjaan. Menariknya, sebagian peluang tersebut berorientasi pada pasar ekspor, sehingga membuka kesempatan bagi tenaga kerja lokal untuk terlibat dalam pasar global.
“Di Surabaya Job Fair itu ada juga yang diekspor. Nanti kita lepas ekspornya dari Kota Surabaya,” ungkap Eri.
Ia menekankan bahwa kebutuhan tenaga kerja untuk sektor ekspor masih sangat tinggi. Oleh karena itu, kolaborasi dengan generasi muda menjadi kunci utama.
“Ternyata kebutuhan ekspor itu masih kurang. Nah, maka inilah yang saya butuhkan, kerjasama nanti anak-anak ini bisa memenuhi kebutuhan yang akan diekspor,” imbuhnya.
Meski membuka peluang seluas-luasnya, Eri menegaskan bahwa prioritas utama tetap diberikan kepada warga yang telah lama berdomisili di Kota Pahlawan.
“Karena orang Surabaya harus kerja, tapi ya begitu, saya utamakan yang (sudah) ber-KTP (Surabaya) lawas (lama), bukan KTP yang baru (masuk Surabaya),” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja (Disperinaker) Surabaya, Agus Hebi Djuniantoro, menjelaskan bahwa upaya ini terintegrasi dalam kegiatan Surabaya Industrial & Labour (SIL) Festival 2026.
“Banyak produk kita sebenarnya sudah layak ekspor, tetapi lemah di kemasan dan presentasi. Itu yang kita perkuat, termasuk kemampuan komunikasi dalam bahasa Inggris,” ujar Hebi.
Rangkaian utama SIL Festival akan berlangsung pada 7-8 April 2026. Lebih dari 1.000 lowongan kerja disiapkan, termasuk peluang khusus bagi penyandang disabilitas.
“Wawancara langsung digelar di Balai Pemuda pada 7 April dan berlanjut di Grand City pada 8 April bagi peserta yang lolos seleksi awal,” terang Hebi.
Dalam forum ekspor, Pemkot akan mempertemukan pelaku industri dengan buyer dari enam negara, yakni Amerika Serikat, Brunei Darussalam, Pakistan, Oman, Hong Kong, dan Singapura.
“Yang kami kejar adalah matching antara buyer dan pelaku industri. Kalau itu terjadi, dampaknya langsung ke pembukaan lapangan kerja,” pungkasnya. (ahm)


