28 March 2026, 16:54 PM WIB

Tradisi Lebaran Ketupat Turun Temurun di Kampung Nelayan Sukolilo Baru Surabaya, Wujud Syukur ke Sang Pencipta

spot_img

METROTODAY, SURABAYA – Lebaran Ketupat merupakan tradisi turun temurun yang digelar seminggu setelah Idul Fitri oleh warga RW 02 Kelurahan Sukolilo Baru, kampung nelayan pesisir Pantai Kenjeran.

Hidangan yang disajikan beragam, mulai dari sate daging ketupat, urap-urap ketupat, bakso ketupat, sop ketupat, mie ketupat, hingga aneka minuman.

Ratusan warga memenuhi jalan di kawasan Sukolilo Baru, Surabaya, Jumat sore (27/3) untuk mengikuti tradisi Lebaran Ketupat yang digelar setiap tahun.

Mereka sudah bersiap-siap mengantre sejak pukul 15.30 WIB, bahkan membawa tempeh atau baki untuk membawa pulang makanan gratis yang disajikan dari puluhan stan berjejer sepanjang lebih dari 300 meter. Hanya 20 menit seluruh hidangan sudah habis diserbu warga.

“Tradisi Lebaran Ketupat ini merupakan budaya turun temurun di kampung nelayan kami. Ini wujud syukur kepada Allah SWT karena luasnya lautan yang bisa kita andalkan untuk menangkap ikan,” ujar Ketua Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) Bahari Sukolilo Baru, Tri Eko Sulistyowati.

WhatsApp Image 2026-03-27 at 22.27.02
Salah satu menu yang disajikan dalam perayaan Lebaran Ketupat di Kampung Nelayan Sukolilo Baru, Surabaya. (Foto: Ahmad/METROTODAY)

Menurutnya, tradisi ini awalnya bernama Kupat Mini yang dilakukan oleh anak-anak di bawah usia 12 tahun dengan sistem barter tanpa uang.

“Dulu anak-anak bikin ketupat di depan rumah, lalu melakukan transaksi dengan bahasa ‘tumbas’ atau ‘tuku’ (beli) sebagai barter. Jadi sejak dini sudah diajari nilai kewirausahaan dengan filosofi tertentu,” jelasnya.

Tri juga menjelaskan bahwa jadwal pelaksanaan sore hari dipilih untuk menghormati perbedaan hari raya antara Muhammadiyah dan pemerintah.

“Di RW kami ada penganut NU dan Muhammadiyah, jadi dengan menggelar sore hari, kedua kelompok bisa ikut serta karena menurut hitungan Jawa sudah masuk hari berikutnya,” katanya.

Perayaan ketupat lebaran di kampung nelayan murni dilakukan oleh warga sendiri. Setiap warga menyediakan hidangan berbeda-beda, mulai dari mie, lodeh kerokan, urap kerokan, hingga jajanan tradisional jadul seperti apem dan es tape.

Bahkan menurutnya, ada warga yang menyediakan 10 menu untuk disajikan kepada warga lainnya.

“Hanya dalam 20 menit saja semua makanan ludes. Banyak warga yang membawa hidangan dari berbagai stan hingga nampannya penuh, lalu dibawa pulang untuk dinikmati bersama keluarga,” pungkasnya. (ahm)

spot_img

METROTODAY, SURABAYA – Lebaran Ketupat merupakan tradisi turun temurun yang digelar seminggu setelah Idul Fitri oleh warga RW 02 Kelurahan Sukolilo Baru, kampung nelayan pesisir Pantai Kenjeran.

Hidangan yang disajikan beragam, mulai dari sate daging ketupat, urap-urap ketupat, bakso ketupat, sop ketupat, mie ketupat, hingga aneka minuman.

Ratusan warga memenuhi jalan di kawasan Sukolilo Baru, Surabaya, Jumat sore (27/3) untuk mengikuti tradisi Lebaran Ketupat yang digelar setiap tahun.

Mereka sudah bersiap-siap mengantre sejak pukul 15.30 WIB, bahkan membawa tempeh atau baki untuk membawa pulang makanan gratis yang disajikan dari puluhan stan berjejer sepanjang lebih dari 300 meter. Hanya 20 menit seluruh hidangan sudah habis diserbu warga.

“Tradisi Lebaran Ketupat ini merupakan budaya turun temurun di kampung nelayan kami. Ini wujud syukur kepada Allah SWT karena luasnya lautan yang bisa kita andalkan untuk menangkap ikan,” ujar Ketua Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) Bahari Sukolilo Baru, Tri Eko Sulistyowati.

WhatsApp Image 2026-03-27 at 22.27.02
Salah satu menu yang disajikan dalam perayaan Lebaran Ketupat di Kampung Nelayan Sukolilo Baru, Surabaya. (Foto: Ahmad/METROTODAY)

Menurutnya, tradisi ini awalnya bernama Kupat Mini yang dilakukan oleh anak-anak di bawah usia 12 tahun dengan sistem barter tanpa uang.

“Dulu anak-anak bikin ketupat di depan rumah, lalu melakukan transaksi dengan bahasa ‘tumbas’ atau ‘tuku’ (beli) sebagai barter. Jadi sejak dini sudah diajari nilai kewirausahaan dengan filosofi tertentu,” jelasnya.

Tri juga menjelaskan bahwa jadwal pelaksanaan sore hari dipilih untuk menghormati perbedaan hari raya antara Muhammadiyah dan pemerintah.

“Di RW kami ada penganut NU dan Muhammadiyah, jadi dengan menggelar sore hari, kedua kelompok bisa ikut serta karena menurut hitungan Jawa sudah masuk hari berikutnya,” katanya.

Perayaan ketupat lebaran di kampung nelayan murni dilakukan oleh warga sendiri. Setiap warga menyediakan hidangan berbeda-beda, mulai dari mie, lodeh kerokan, urap kerokan, hingga jajanan tradisional jadul seperti apem dan es tape.

Bahkan menurutnya, ada warga yang menyediakan 10 menu untuk disajikan kepada warga lainnya.

“Hanya dalam 20 menit saja semua makanan ludes. Banyak warga yang membawa hidangan dari berbagai stan hingga nampannya penuh, lalu dibawa pulang untuk dinikmati bersama keluarga,” pungkasnya. (ahm)

Artikel Terkait

Pilihan Editor

Pilihan Editor

Terpopuler

Artikel Terbaru

Artikel Terkait