12 March 2026, 2:08 AM WIB

Jemput Pahala saat Ramadan, Siswa Tunanetra di Surabaya Ikuti Tadarus dengan Huruf Braile

spot_img

METROTODAY, SURABAYA – Puluhan siswa SD istimewa penyandang tunanetra di SLB A YPAB Tegalsari, Surabaya, menggelar kegiatan tadarus Al-Quran menggunakan huruf braille dengan penuh semangat.

Meski dilakukan pada siang hari, antusias mereka terlihat jelas saat satu per satu siswa melantunkan ayat suci Al-Quran maupun Iqro sambil tangannya meraba huruf braille dengan lembut.

Kepala SLB A YPAB Tegalsari, Oktavia Eka Kusumaningtyas, menjelaskan bahwa seluruh pembelajaran, termasuk mengaji, menggunakan media braille karena kondisi murid yang tunanetra.

“Karena muridnya tuna netra, jadi semua menggunakan Braille. Untuk ngaji juga Braille, walaupun Iqro dan Al-Quran juga menggunakan Braille, seperti itu,” ujar Oktavia, Rabu (11/3).

Menurutnya, para siswa didampingi oleh guru, termasuk guru tunanetra yang ahli dalam mengajarkan braille. Namun, guru-guru lainnya juga wajib menguasai braille sehingga tercipta suasana belajar bersama.

“Mereka juga didampingi oleh guru terutama, guru yang tuna netra itu yang mengajarkan Braille untuk anak-anak, tapi untuk guru-guru lainnya juga wajib untuk bisa. Jadi sama-sama belajar, gitu,” katanya.

Gemini_Generated_Image_20evn220evn220ev
Para siswa SD di SLB A YPAB antusias mengikuti tadarus Al-Quran dan Iqro dengan huruf braille. (Foto: Ahmad/METROTODAY)

Kegiatan tadarus ini diikuti dengan sangat antusias oleh para siswa. Bahkan, ada di antara mereka yang meminta mengaji dari pagi hingga malam. Dalam pelaksanaannya, siswa menggunakan Iqro, Al-Quran braille, atau metode hafalan, disesuaikan dengan kondisi masing-masing.

Oktavia menjelaskan adanya tiga tipe kondisi siswa yang menjadi alasan perbedaan metode pembelajaran. “Nah itu agak kesusahan kalau belajar Braille, jadi menghafal. Yang ketiga adalah MDVI (Multiple Disabilities with Visual Impairment), itu dobel, jadi juga tuna netra, juga ada hambatan intelektual, ada juga hambatan penyerta lainnya seperti tuna daksa atau autis. Jadi itulah mengapa ada yang Iqro, ada yang hafalan, dan ada yang Al-Quran,” jelasnya.

Pemberian waktu khusus untuk mengaji ini dilakukan agar siswa tidak tertinggal dari anak-anak umum dan dapat mendalami agama.

“Memberikan waktu kesempatan anak-anak untuk mengaji sebetulnya karena menurutnya mengaji itu penting. Anak-anak juga bisa lebih mendalami tentang agama gitu. Jadi sama, intinya Al-Qurannya juga Al-Quran untuk umum itu sama, Al-Quran Braille itu sama, cuma beda di tulisan saja,” ujarnya.

Harapannya, kegiatan ini dapat menambah ilmu dan amal ibadah siswa, terutama di bulan suci ramadan di mana pahala dilipatgandakan.

“Harapannya nanti bisa bertambah ilmunya di mengaji, juga untuk tambah apa namanya ya, amal ibadahnya. Lalu kalau mengaji itu di bulan suci ini kan pahalanya kita itu ditambah. Mereka juga mendengar bahwa ada malam Nuzulul Quran, mereka juga ingin sama seperti kita untuk mendapatkan Nuzulul Quran itu. Jadi dia harus tiap-tiap itu mengaji,” tegas Oktavia.

Salah satu siswa kelas 6, Mohammad Sadewa, mengaku sangat senang bisa mengaji di bulan Ramadan. Baru saja selesai mengaji Juz 30, Sadewa menilai mengaji di bulan suci adalah perbuatan yang berpahala.

“Mengaji saat bulan ramadan itu, ini justru adalah kelakuan yang berpahala. Jadi, jangan tidur terus. Kalau nggak ada apa-apa, ya lebih baik ngaji gitu, kayak barusan,” ujar Sadewa.

Sadewa juga bercerita bahwa ia sudah mulai mengaji sejak usia 1 tahun. “Pertama ngaji itu nggak ngenal Braille dulu. Waktu pertama aku ngaji waktu masih bayi itu, aku dengerin, nggak pakai Braille,” pungkasnya. (ahm)

spot_img

METROTODAY, SURABAYA – Puluhan siswa SD istimewa penyandang tunanetra di SLB A YPAB Tegalsari, Surabaya, menggelar kegiatan tadarus Al-Quran menggunakan huruf braille dengan penuh semangat.

Meski dilakukan pada siang hari, antusias mereka terlihat jelas saat satu per satu siswa melantunkan ayat suci Al-Quran maupun Iqro sambil tangannya meraba huruf braille dengan lembut.

Kepala SLB A YPAB Tegalsari, Oktavia Eka Kusumaningtyas, menjelaskan bahwa seluruh pembelajaran, termasuk mengaji, menggunakan media braille karena kondisi murid yang tunanetra.

“Karena muridnya tuna netra, jadi semua menggunakan Braille. Untuk ngaji juga Braille, walaupun Iqro dan Al-Quran juga menggunakan Braille, seperti itu,” ujar Oktavia, Rabu (11/3).

Menurutnya, para siswa didampingi oleh guru, termasuk guru tunanetra yang ahli dalam mengajarkan braille. Namun, guru-guru lainnya juga wajib menguasai braille sehingga tercipta suasana belajar bersama.

“Mereka juga didampingi oleh guru terutama, guru yang tuna netra itu yang mengajarkan Braille untuk anak-anak, tapi untuk guru-guru lainnya juga wajib untuk bisa. Jadi sama-sama belajar, gitu,” katanya.

Gemini_Generated_Image_20evn220evn220ev
Para siswa SD di SLB A YPAB antusias mengikuti tadarus Al-Quran dan Iqro dengan huruf braille. (Foto: Ahmad/METROTODAY)

Kegiatan tadarus ini diikuti dengan sangat antusias oleh para siswa. Bahkan, ada di antara mereka yang meminta mengaji dari pagi hingga malam. Dalam pelaksanaannya, siswa menggunakan Iqro, Al-Quran braille, atau metode hafalan, disesuaikan dengan kondisi masing-masing.

Oktavia menjelaskan adanya tiga tipe kondisi siswa yang menjadi alasan perbedaan metode pembelajaran. “Nah itu agak kesusahan kalau belajar Braille, jadi menghafal. Yang ketiga adalah MDVI (Multiple Disabilities with Visual Impairment), itu dobel, jadi juga tuna netra, juga ada hambatan intelektual, ada juga hambatan penyerta lainnya seperti tuna daksa atau autis. Jadi itulah mengapa ada yang Iqro, ada yang hafalan, dan ada yang Al-Quran,” jelasnya.

Pemberian waktu khusus untuk mengaji ini dilakukan agar siswa tidak tertinggal dari anak-anak umum dan dapat mendalami agama.

“Memberikan waktu kesempatan anak-anak untuk mengaji sebetulnya karena menurutnya mengaji itu penting. Anak-anak juga bisa lebih mendalami tentang agama gitu. Jadi sama, intinya Al-Qurannya juga Al-Quran untuk umum itu sama, Al-Quran Braille itu sama, cuma beda di tulisan saja,” ujarnya.

Harapannya, kegiatan ini dapat menambah ilmu dan amal ibadah siswa, terutama di bulan suci ramadan di mana pahala dilipatgandakan.

“Harapannya nanti bisa bertambah ilmunya di mengaji, juga untuk tambah apa namanya ya, amal ibadahnya. Lalu kalau mengaji itu di bulan suci ini kan pahalanya kita itu ditambah. Mereka juga mendengar bahwa ada malam Nuzulul Quran, mereka juga ingin sama seperti kita untuk mendapatkan Nuzulul Quran itu. Jadi dia harus tiap-tiap itu mengaji,” tegas Oktavia.

Salah satu siswa kelas 6, Mohammad Sadewa, mengaku sangat senang bisa mengaji di bulan Ramadan. Baru saja selesai mengaji Juz 30, Sadewa menilai mengaji di bulan suci adalah perbuatan yang berpahala.

“Mengaji saat bulan ramadan itu, ini justru adalah kelakuan yang berpahala. Jadi, jangan tidur terus. Kalau nggak ada apa-apa, ya lebih baik ngaji gitu, kayak barusan,” ujar Sadewa.

Sadewa juga bercerita bahwa ia sudah mulai mengaji sejak usia 1 tahun. “Pertama ngaji itu nggak ngenal Braille dulu. Waktu pertama aku ngaji waktu masih bayi itu, aku dengerin, nggak pakai Braille,” pungkasnya. (ahm)

Artikel Terkait

Pilihan Editor

Pilihan Editor

Terpopuler

Artikel Terbaru

Artikel Terkait