4 February 2026, 7:56 AM WIB

Pemkot Surabaya Gandeng 100 Perguruan Tinggi Turunkan Tingkat Pengangguran Terbuka

METROTODAY, SURABAYA– Pemkot Surabaya menggandeng perguruan tinggi se-Kota Pahlawan untuk merumuskan strategi menurunkan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi pada 2026.

Langkah ini menjadi bagian dari kolaborasi heptahelix dalam mewujudkan visi Surabaya 2025-2029 menuju kota dunia yang maju, humanis, dan berkelanjutan.

Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kota Surabaya, Agus Imam Sonhaji, menegaskan peran perguruan tinggi sangat strategis dalam menjawab tantangan pembangunan ekonomi ke depan.

“Rapat koordinasi bertujuan untuk meningkatkan peran perguruan tinggi dalam rangka menurunkan tingkat pengangguran terbuka dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi 2026. Kami sampaikan bahwa Pemkot Surabaya ini mempunyai pekerjaan rumah yang tidak ringan,” ujar Agus, Kamis (15/1).

Ia menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi menjadi kata kunci utama, mengingat arah kebijakan nasional juga menargetkan pertumbuhan yang tinggi dalam beberapa tahun ke depan.

“Jadi, kata kuncinya adalah pertumbuhan ekonomi tidak boleh rendah. Bahkan diharapkan dalam waktu sampai dengan 4 tahun kepemimpinan Presiden Prabowo bisa mencapai angka 8 persen,” katanya.

Agus menjelaskan, Pemkot Surabaya telah membentuk Tim Percepatan Pembangunan dan Inovasi Daerah (TP2ID) yang didukung Badan Pusat Statistik (BPS).

Hasil kajian tim tersebut menunjukkan bahwa tantangan mencapai pertumbuhan ekonomi tinggi tidak bersifat tunggal.

“Di antaranya adalah tingkat pengangguran terbuka. Kemudian ekonomi di level mikro, di kampung-kampung yang sepertinya bisa maju dengan sangat tapi belum begitu besar,” ungkapnya.

Karena itu, Pemkot Surabaya mendorong kolaborasi erat dengan perguruan tinggi, khususnya dalam pemanfaatan riset dan pengembangan ilmu pengetahuan untuk menjawab persoalan nyata di masyarakat.

“Maka hari ini kita bertemu di sini untuk mencari pola bagaimana akhirnya perguruan tinggi yang memang majornya ada di posisi ilmu pengetahuan, disupport riset, dan pengembangan-pengembangan itu nanti bisa terkolaborasi dengan kami di Pemkot Surabaya,” jelas Agus.

Pihaknya menilai, persoalan di tingkat kampung hingga kota sejatinya dapat menjadi bahan riset yang relevan bagi perguruan tinggi.

“Masalah-masalah yang ada di masyarakat, di kampung-kampung, di level kota kalau tersampaikan dengan lengkap dan detail sampai perguruan tinggi, maka akan ketemu dengan kebutuhan perguruan tinggi,” tuturnya.

Menurut Agus, riset mahasiswa dari jenjang S1 hingga S3 selalu berangkat dari persoalan. Jika informasi kebutuhan daerah dan kampus dapat dikolaborasikan, hal itu diyakininya mampu mempercepat pertumbuhan ekonomi Surabaya.

“Kalau bisa kita kolaborasikan informasinya, itu akan jadi percepatan dan penggerak agar (ekonomi) lebih cepat meningkat sebagaimana harapan pemerintah pusat bahwa (pertumbuhan ekonomi) akan tercapai 8 persen di tahun 2029,” paparnya.

Ia pun membuka ruang diskusi seluas-luasnya dengan seluruh akademisi atau perguruan tinggi yang ada di Kota Surabaya.

“Mohon masukan, mohon saran-saran, sehingga kolaborasi Pemkot Surabaya dengan kampus bisa semakin mantap, dan ekonomi Surabaya bisa melesat sebagaimana yang kita harapkan bersama,” harapnya.

Di waktu yang sama, Kepala Badan Perencanaan Daerah (Bapeda) Kota Surabaya, Irvan Wahyudrajad, memaparkan capaian indikator makro pembangunan sekaligus arah sinergi Surabaya ke depan, utamanya dalam pengembangan ekonomi kreatif dan peran generasi Z.

Irvan menyampaikan, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Surabaya pada 2025 meningkat menjadi 85,65 dari sebelumnya 84,69. Nilai investasi juga naik dari Rp 40,48 triliun pada 2024 menjadi Rp 43,6 triliun pada 2025.

“Pertumbuhan ekonomi 2024 tercatat 5,76 persen, meningkat dibanding 2023 sebesar 5,70 persen. Angka kemiskinan pun turun dari 3,96 persen menjadi 3,56 persen pada 2025,” kata Irvan.

Kemudian untuk ketenagakerjaan, TPT Surabaya turun dari 4,91 persen pada 2024 menjadi 4,84 persen pada 2025. Sementara Indeks Gini membaik dari 0,381 pada 2024 menjadi 0,369 pada 2025.

Pada tahun 2026, Pemkot Surabaya telah menetapkan sejumlah target makro pembangunan, antara lain tingkat kemiskinan 3,48 persen dan TPT 4,47 persen.

Sedangkan IPM ditargetkan mencapai 85,26, Indeks Gini berada pada rentang 0,348-0,375, dan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,80 persen.

Untuk mencapai target tersebut, Irvan menuturkan bahwa Pemkot Surabaya menyiapkan beberapa strategi utama. Di antaranya adalah penguatan sinergi sumber daya manusia (SDM) dan inkubasi, dimana perguruan tinggi berperan membina kualitas SDM kreatif termasuk Gen Z.

“Sementara pemerintah menyediakan ekosistem pendukung berupa pelatihan, inkubasi, pembiayaan, dan infrastruktur ekonomi kreatif,” tutur Irvan.

Melalui kolaborasi pentahelix dalam membangun ekosistem ekonomi kreatif berkelanjutan, dimana Pemkot Surabaya dan Forum Rektor memimpin sinergi akademisi, dunia usaha, komunitas, media, serta pemerintah.

Selain itu, Pemkot Surabaya juga mendorong kolaborasi program ekonomi kreatif berbasis Kampung Pancasila dan Gen Z.

“Program tersebut meliputi penguatan UMKM kreatif berbasis potensi lokal, inkubasi bisnis, branding, digitalisasi, hingga hilirisasi riset kampus menjadi produk kreatif,” papar Irvan.

Pada sisi Gen Z, Irvan menambahkan bahwa stimulasi dilakukan melalui program kreativitas konten digital, startup kreatif, event kreatif, hingga inkubator talenta muda, termasuk melalui kompetisi ide inovatif serta peran Gen Z sebagai motor promosi dan inovasi ekonomi kreatif.

“Sedangkan Kampung Pancasila diarahkan menjadi laboratorium sosial dan ekonomi kreatif, yang menanamkan nilai gotong royong, inklusivitas, dan kearifan lokal, sekaligus menjadi ruang ekspresi budaya, seni, kuliner, dan ekonomi warga,” imbuhnya.

Sementara itu, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Surabaya, Arrief Chandra Setiawan, menegaskan pentingnya peran perguruan tinggi dalam mendukung pembangunan ekonomi daerah.

“Perguruan tinggi berperan penting dalam perekonomian Kota Surabaya. Maka dalam penyusunan perekonomian, BPS mengajak perguruan tinggi berpartisipasi dalam survei BPS dengan mengisi mandiri yang telah dikirimkan pada email perguruan tinggi,” ujar Arrief.

Ia menjelaskan, survei tersebut dilakukan secara triwulanan dengan tujuan meningkatkan keberagaman data sehingga berdampak pada kualitas penghitungan perekonomian Kota Surabaya.

“Survei ini bertujuan untuk meningkatkan keberagaman data yang berdampak pada semakin berkualitasnya penghitungan perekonomian Kota Surabaya,” jelasnya.

Selain itu, perguruan tinggi juga diharapkan berperan sebagai jembatan dalam proses pendataan mahasiswa, khususnya yang terlibat dalam sektor ekonomi kreatif.

“Dengan tujuan untuk mendapatkan direktori mahasiswa yang berkontribusi pada ekonomi kreatif,” katanya.

Menurutnya, direktori tersebut akan menjadi dasar bagi Pemkot Surabaya dalam merumuskan kebijakan ketenagakerjaan dan ekonomi yang lebih tepat sasaran, khususnya bagi generasi Z.

“Dengan direktori ini, Pemerintah Kota Surabaya dapat membuat kebijakan yang tepat dan terarah pada generasi Z ini yang berdampak pada ketenagakerjaan dan perekonomian,” pungkasnya. (ahm)

METROTODAY, SURABAYA– Pemkot Surabaya menggandeng perguruan tinggi se-Kota Pahlawan untuk merumuskan strategi menurunkan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi pada 2026.

Langkah ini menjadi bagian dari kolaborasi heptahelix dalam mewujudkan visi Surabaya 2025-2029 menuju kota dunia yang maju, humanis, dan berkelanjutan.

Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kota Surabaya, Agus Imam Sonhaji, menegaskan peran perguruan tinggi sangat strategis dalam menjawab tantangan pembangunan ekonomi ke depan.

“Rapat koordinasi bertujuan untuk meningkatkan peran perguruan tinggi dalam rangka menurunkan tingkat pengangguran terbuka dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi 2026. Kami sampaikan bahwa Pemkot Surabaya ini mempunyai pekerjaan rumah yang tidak ringan,” ujar Agus, Kamis (15/1).

Ia menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi menjadi kata kunci utama, mengingat arah kebijakan nasional juga menargetkan pertumbuhan yang tinggi dalam beberapa tahun ke depan.

“Jadi, kata kuncinya adalah pertumbuhan ekonomi tidak boleh rendah. Bahkan diharapkan dalam waktu sampai dengan 4 tahun kepemimpinan Presiden Prabowo bisa mencapai angka 8 persen,” katanya.

Agus menjelaskan, Pemkot Surabaya telah membentuk Tim Percepatan Pembangunan dan Inovasi Daerah (TP2ID) yang didukung Badan Pusat Statistik (BPS).

Hasil kajian tim tersebut menunjukkan bahwa tantangan mencapai pertumbuhan ekonomi tinggi tidak bersifat tunggal.

“Di antaranya adalah tingkat pengangguran terbuka. Kemudian ekonomi di level mikro, di kampung-kampung yang sepertinya bisa maju dengan sangat tapi belum begitu besar,” ungkapnya.

Karena itu, Pemkot Surabaya mendorong kolaborasi erat dengan perguruan tinggi, khususnya dalam pemanfaatan riset dan pengembangan ilmu pengetahuan untuk menjawab persoalan nyata di masyarakat.

“Maka hari ini kita bertemu di sini untuk mencari pola bagaimana akhirnya perguruan tinggi yang memang majornya ada di posisi ilmu pengetahuan, disupport riset, dan pengembangan-pengembangan itu nanti bisa terkolaborasi dengan kami di Pemkot Surabaya,” jelas Agus.

Pihaknya menilai, persoalan di tingkat kampung hingga kota sejatinya dapat menjadi bahan riset yang relevan bagi perguruan tinggi.

“Masalah-masalah yang ada di masyarakat, di kampung-kampung, di level kota kalau tersampaikan dengan lengkap dan detail sampai perguruan tinggi, maka akan ketemu dengan kebutuhan perguruan tinggi,” tuturnya.

Menurut Agus, riset mahasiswa dari jenjang S1 hingga S3 selalu berangkat dari persoalan. Jika informasi kebutuhan daerah dan kampus dapat dikolaborasikan, hal itu diyakininya mampu mempercepat pertumbuhan ekonomi Surabaya.

“Kalau bisa kita kolaborasikan informasinya, itu akan jadi percepatan dan penggerak agar (ekonomi) lebih cepat meningkat sebagaimana harapan pemerintah pusat bahwa (pertumbuhan ekonomi) akan tercapai 8 persen di tahun 2029,” paparnya.

Ia pun membuka ruang diskusi seluas-luasnya dengan seluruh akademisi atau perguruan tinggi yang ada di Kota Surabaya.

“Mohon masukan, mohon saran-saran, sehingga kolaborasi Pemkot Surabaya dengan kampus bisa semakin mantap, dan ekonomi Surabaya bisa melesat sebagaimana yang kita harapkan bersama,” harapnya.

Di waktu yang sama, Kepala Badan Perencanaan Daerah (Bapeda) Kota Surabaya, Irvan Wahyudrajad, memaparkan capaian indikator makro pembangunan sekaligus arah sinergi Surabaya ke depan, utamanya dalam pengembangan ekonomi kreatif dan peran generasi Z.

Irvan menyampaikan, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Surabaya pada 2025 meningkat menjadi 85,65 dari sebelumnya 84,69. Nilai investasi juga naik dari Rp 40,48 triliun pada 2024 menjadi Rp 43,6 triliun pada 2025.

“Pertumbuhan ekonomi 2024 tercatat 5,76 persen, meningkat dibanding 2023 sebesar 5,70 persen. Angka kemiskinan pun turun dari 3,96 persen menjadi 3,56 persen pada 2025,” kata Irvan.

Kemudian untuk ketenagakerjaan, TPT Surabaya turun dari 4,91 persen pada 2024 menjadi 4,84 persen pada 2025. Sementara Indeks Gini membaik dari 0,381 pada 2024 menjadi 0,369 pada 2025.

Pada tahun 2026, Pemkot Surabaya telah menetapkan sejumlah target makro pembangunan, antara lain tingkat kemiskinan 3,48 persen dan TPT 4,47 persen.

Sedangkan IPM ditargetkan mencapai 85,26, Indeks Gini berada pada rentang 0,348-0,375, dan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,80 persen.

Untuk mencapai target tersebut, Irvan menuturkan bahwa Pemkot Surabaya menyiapkan beberapa strategi utama. Di antaranya adalah penguatan sinergi sumber daya manusia (SDM) dan inkubasi, dimana perguruan tinggi berperan membina kualitas SDM kreatif termasuk Gen Z.

“Sementara pemerintah menyediakan ekosistem pendukung berupa pelatihan, inkubasi, pembiayaan, dan infrastruktur ekonomi kreatif,” tutur Irvan.

Melalui kolaborasi pentahelix dalam membangun ekosistem ekonomi kreatif berkelanjutan, dimana Pemkot Surabaya dan Forum Rektor memimpin sinergi akademisi, dunia usaha, komunitas, media, serta pemerintah.

Selain itu, Pemkot Surabaya juga mendorong kolaborasi program ekonomi kreatif berbasis Kampung Pancasila dan Gen Z.

“Program tersebut meliputi penguatan UMKM kreatif berbasis potensi lokal, inkubasi bisnis, branding, digitalisasi, hingga hilirisasi riset kampus menjadi produk kreatif,” papar Irvan.

Pada sisi Gen Z, Irvan menambahkan bahwa stimulasi dilakukan melalui program kreativitas konten digital, startup kreatif, event kreatif, hingga inkubator talenta muda, termasuk melalui kompetisi ide inovatif serta peran Gen Z sebagai motor promosi dan inovasi ekonomi kreatif.

“Sedangkan Kampung Pancasila diarahkan menjadi laboratorium sosial dan ekonomi kreatif, yang menanamkan nilai gotong royong, inklusivitas, dan kearifan lokal, sekaligus menjadi ruang ekspresi budaya, seni, kuliner, dan ekonomi warga,” imbuhnya.

Sementara itu, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Surabaya, Arrief Chandra Setiawan, menegaskan pentingnya peran perguruan tinggi dalam mendukung pembangunan ekonomi daerah.

“Perguruan tinggi berperan penting dalam perekonomian Kota Surabaya. Maka dalam penyusunan perekonomian, BPS mengajak perguruan tinggi berpartisipasi dalam survei BPS dengan mengisi mandiri yang telah dikirimkan pada email perguruan tinggi,” ujar Arrief.

Ia menjelaskan, survei tersebut dilakukan secara triwulanan dengan tujuan meningkatkan keberagaman data sehingga berdampak pada kualitas penghitungan perekonomian Kota Surabaya.

“Survei ini bertujuan untuk meningkatkan keberagaman data yang berdampak pada semakin berkualitasnya penghitungan perekonomian Kota Surabaya,” jelasnya.

Selain itu, perguruan tinggi juga diharapkan berperan sebagai jembatan dalam proses pendataan mahasiswa, khususnya yang terlibat dalam sektor ekonomi kreatif.

“Dengan tujuan untuk mendapatkan direktori mahasiswa yang berkontribusi pada ekonomi kreatif,” katanya.

Menurutnya, direktori tersebut akan menjadi dasar bagi Pemkot Surabaya dalam merumuskan kebijakan ketenagakerjaan dan ekonomi yang lebih tepat sasaran, khususnya bagi generasi Z.

“Dengan direktori ini, Pemerintah Kota Surabaya dapat membuat kebijakan yang tepat dan terarah pada generasi Z ini yang berdampak pada ketenagakerjaan dan perekonomian,” pungkasnya. (ahm)

Artikel Terkait

Pilihan Editor

Pilihan Editor

Terpopuler

Artikel Terbaru

Artikel Terkait